Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi susah kentut.
ilustrasi susah kentut (pixabay.com/derneuemann)

Intinya sih...

  • Susah kentut sering kali berhubungan dengan pencernaan yang tidak lancar dan penumpukan gas di usus.

  • Banyak faktor bisa menjadi penyebab, dari pola makan hingga kondisi medis yang mendasari.

  • Mengidentifikasi penyebab susah buang angin bisa membantu mencari solusi yang tepat sehingga tidak berlanjut menjadi masalah lebih serius.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Gas dalam saluran pencernaan adalah bagian normal dari proses pencernaan makanan. Ketika kamu makan dan minum, udara ikut masuk ke saluran cerna dan bakteri di usus besar juga menghasilkan gas ketika mereka memfermentasi sisa makanan. Itulah yang biasanya keluar sebagai kentut atau sendawa.

Untuk kebanyakan orang, buang angin hingga sekitar 8–14 kali per hari dianggap normal, bahkan hingga 25 kali tergantung pola makan dan aktivitas pencernaan. Ketika gas tidak bisa keluar dengan lancar, rasa penuh, kembung, dan nyeri di perut dapat muncul. keadaan yang sering disebut sebagai susah kentut.

Meskipun sering dianggap sepele, tetapi susah kentut bisa sangat tidak nyaman. Gas yang terjebak bukan hanya mengganggu, tetapi sering juga menjadi sinyal bahwa ada sesuatu yang memengaruhi sistem pencernaan. Nah, memahami penyebabnya adalah langkah pertama untuk menemukan solusi yang tepat.

1. Sembelit

Salah satu penyebab paling umum gas terjebak adalah sembelit, kondisi ketika buang air besar menjadi jarang atau sulit.

Saat tinja bergerak lambat melalui usus, gas yang terbentuk dalam usus besar tidak dapat terdorong keluar dengan efektif. Bakteri kemudian terus memfermentasi makanan yang tertahan lebih lama, menghasilkan lebih banyak gas yang terperangkap.

Hasilnya adalah perasaan penuh, kembung, dan rasa tidak nyaman yang dapat memperparah sensasi tidak bisa kentut meskipun gas terus terbentuk. Mengatasi sembelit sering kali membantu memperlancar keluarnya gas.

2. Makan terlalu cepat dan menelan udara

ilustrasi perempuan sedang makan (pexels.com/Ivan S)

Pola makan yang terburu-buru sering membuat orang menelan udara lebih banyak, kondisi yang disebut aerofagia. Ketika udara tertelan terlalu banyak, sejumlah besar gas masuk ke saluran cerna lebih cepat daripada sistem pencernaan bisa mengaturnya.

Akibatnya, sebagian gas masuk ke usus besar tanpa sempat dikeluarkan sebagai sendawa, dan gas ini kemudian menuju kolon, tetapi bisa terjebak karena aliran usus yang tidak optimal.

Kebiasaan seperti berbicara sambil makan, mengunyah permen karet, atau minum dengan sedotan dapat memperparah aerofagia. Mengubah kebiasaan makan dapat membantu mengurangi udara yang tertelan.

3. Intoleransi makanan

Beberapa orang memiliki intoleransi terhadap zat tertentu dalam makanan, yang membuat makanan tersebut tidak tercerna sepenuhnya di usus kecil. Misalnya, intoleransi laktosa membuat laktosa (gula dalam susu) tidak dicerna, sehingga bakteri usus besar memfermentasinya menjadi gas.

Selain laktosa, intoleransi terhadap makanan lain seperti sorbitol atau fruktosa juga dapat memperbesar produksi gas dan memperlambat pergerakan gas keluar dari usus.

Gejala lain intoleransi makanan sering kali mencakup kembung, nyeri perut, atau diare setelah makan makanan tertentu, yang semuanya bisa membuat buang angin terasa sulit atau tidak tuntas.

4. Kondisi medis pencernaan

ilustrasi sindrom iritasi usus besar (pexels.com/cottonbro)

Berbagai kondisi pencernaan kronis dapat memengaruhi aliran gas dan motilitas usus. Di antara kondisi yang berhubungan dengan gas yang tertahan adalah irritable bowel syndrome (IBS)/sindrom iritasi usus besar dan small bowel bacterial overgrowth (SIBO).

Pada IBS, fungsi gerak usus tidak teratur sehingga gas dapat terbentuk dalam jumlah normal tetapi tidak terdorong keluar dengan baik. Sementara itu, SIBO terjadi ketika bakteri yang biasanya ada di usus besar juga berkembang di usus kecil, meningkatkan fermentasi dan produksi gas.

Kondisi radang seperti penyakit celiac atau gangguan lain juga dapat memperlambat transit dan membuat gas tertahan, menyebabkan ketidaknyamanan yang signifikan.

5. Obstruksi usus atau penyumbatan

Penyumbatan parsial atau total di saluran cerna, seperti akibat feses keras, tumor, atau benda asing, bisa benar-benar membuat gas tidak dapat keluar sama sekali.

Ini adalah penyebab yang lebih serius dan sering disertai gejala lain seperti nyeri perut hebat, mual, muntah, dan tidak bisa buang air besar.

Kondisi seperti ini memerlukan penanganan medis segera untuk mencegah komplikasi seperti perforasi usus.

6. Efek samping obat

ilustrasi obat-obatan (IDN Times/Novaya Siantita)

Beberapa obat, terutama yang memiliki efek samping mempengaruhi motilitas usus, dapat memperlambat pergerakan gas dan isi usus secara umum. Ini termasuk antikolinergik, opioid, atau obat-obatan tertentu yang menyebabkan konstipasi yang parah.

Selain itu, suplemen besi atau obat lain dapat membuat feses lebih keras, memberi dampak tidak langsung pada keluarnya gas.

Jika susah kentut muncul setelah memulai pengobatan baru, diskusikan dengan dokter tentang kemungkinan penyesuaian dosis atau alternatif obat.

7. Kebiasaan gaya hidup dan pola makan

Pola makan tinggi karbohidrat olahan, fast food, dan kurang serat bisa meningkatkan pembentukan gas melalui fermentasi makanan oleh bakteri usus.

Ketika makanan tidak tercerna sempurna, bakteri usus menghasilkan lebih banyak gas, tetapi jika gerak usus lambat, gas ini malah tertahan dan terasa sulit keluar.

Gaya hidup yang tidak aktif juga memperlambat transit usus, sehingga gas lebih lama berada di usus sebelum akhirnya dikeluarkan.

Susah kentut sebenarnya adalah tanda bahwa sesuatu dalam sistem pencernaan tidak lancar. Hal ini tidak selalu berarti penyakit serius. Dalam banyak kasus, penyebabnya sederhana, seperti pola makan atau kebiasaan mengunyah dan menelan udara. Namun, ketika kondisi ini berlangsung terus atau disertai nyeri hebat, mual, muntah, atau perubahan pola buang air besar, pemeriksaan medis diperlukan.

Referensi

“Gas and Gas Pains: Symptoms & Causes.” Mayo Clinic. Diakses Januari 2026.

“Symptoms & Causes of Gas in the Digestive Tract.” National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). Diakses Januari 2026.

“Constant Bloating and Gas: Causes and Triggers.” Healthline. Diakses Januari 2026.

“Can Constipation Cause Gas? What to Know.” Healthline. Diakses Januari 2026.

“Gas and Bloating: Causes, Symptoms, & Diagnosis.” eMed­iHe­alth.com. Diakses Januari 2026.

Editorial Team