Sinar matahari punya dua wajah. Di satu sisi membantu tubuh memproduksi vitamin D dan mendukung berbagai fungsi biologis penting. Namun di sisi lain, paparan berlebihan, terutama radiasi ultraviolet (UV), menjadi salah satu faktor risiko terbesar kanker kulit. Data menunjukkan, lebih dari 90 persen kasus kanker kulit berkaitan langsung dengan paparan UV berlebih.
Ketika kulit terpapar UV terlalu lama, kerusakan tidak hanya terjadi di permukaan. Radiasi ini merusak DNA, memicu stres oksidatif, dan menyalakan respons inflamasi atau peradangan. Inilah yang kita kenal sebagai sunburn, yang gejalanya kulit memerah, terasa perih, bahkan bisa sampai melepuh. Bagi tubuh, peradangan ini sebenarnya adalah mekanisme perlindungan. Masalah muncul ketika respons tersebut menjadi tak terkendali.
Penelitian terbaru dari Universitas Chicago, yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications, menunjukkan bahwa peradangan akibat sunburn bukan cuma efek samping sementara. Di tingkat molekuler, proses ini bisa mengubah sel kulit normal menjadi sel kanker, terutama ketika sistem pengaman alami tubuh gagal menjalankan tugasnya.
