Selama ini, vaksin dipahami bekerja terutama lewat mekanisme biologis yang ketat: antigen masuk, sistem imun merespons, lalu antibodi terbentuk. Namun, penelitian terbaru menunjukkan ada hal lain yang ikut berperan, yakni kondisi mental dan ekspektasi seseorang saat menerima vaksin.
Sebuah uji klinis terkontrol acak menemukan bahwa orang yang mampu meningkatkan aktivitas di area otak tertentu yang berkaitan dengan rasa senang dan penghargaan menunjukkan respons antibodi yang lebih kuat setelah vaksinasi. Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Medicine dan memberi gambaran baru tentang bagaimana pikiran dapat memengaruhi sistem imun.
Temuan ini sejalan dengan konsep lama tentang efek plasebo, yang merupakan keyakinan bahwa sesuatu akan bekerja kadang memang menghasilkan perubahan fisik yang nyata. Bedanya, penelitian ini mencoba memetakan jalur biologisnya secara lebih konkret—dari otak, ke sistem imun.
Dalam studi ini, sebanyak 85 partisipan dibagi ke dalam tiga kelompok. Kelompok pertama dilatih menggunakan neurofeedback fMRI, sebuah teknologi yang memungkinkan seseorang melihat aktivitas otaknya sendiri secara real time. Mereka diarahkan untuk melakukan latihan mental yang dapat meningkatkan aktivitas jalur mesolimbik, yaitu bagian otak yang terkait dengan motivasi dan reward.
Sebagai pembanding, kelompok kedua juga menjalani neurofeedback dengan tingkat kesulitan serupa, tetapi diarahkan ke area otak yang tidak berhubungan dengan reward. Kelompok ketiga tidak menjalani pelatihan apa pun.
