Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

9 Mitos soal Vaksin yang Tak Hilang-hilang, Padahal Sudah Dibantah

Seorang perempuan mendapatkan vaksinasi.
ilustrasi vaksinasi (pexels.com/CDC)
Intinya sih...
  • Mitos vaksin sering hidup karena kesalahpahaman dan misinformasi, bukan karena bukti ilmiah yang kurang.
  • Organisasi kesehatan dunia dan banyak studi besar menegaskan tidak ada hubungan antara vaksin dan klaim yang salah.
  • Mengetahui bukti ilmiah yang kuat membantu memperkuat keputusan kesehatan yang berdasarkan data.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Di tengah kemajuan ilmu kedokteran dan data kesehatan yang makin transparan, mitos tentang vaksin masih terus beredar. Banyak yang narasinya diulang-ulang, kadang dibungkus dengan kisah personal yang emosional, kadang dipoles dengan istilah ilmiah yang terdengar meyakinkan, padahal tak pernah benar-benar didukung bukti.

Masalahnya bukan cuma salah paham. Mitos vaksin bisa berdampak nyata, seperti orang menunda atau menolak vaksinasi, cakupan imunisasi menurun, dan penyakit yang seharusnya bisa dicegah kembali muncul. Sejarah sudah menunjukkan konsekuensinya, dari wabah campak hingga lonjakan rawat inap akibat influenza.

Berbagai lembaga ilmiah, para ahli, dan jurnal-jurnal medis besar telah berulang kali membantah klaim-klaim ini. Namun, seperti patogen itu sendiri, misinformasi juga pandai beradaptasi. Berikut sembilan mitos vaksin yang tak kunjung hilang dan apa kata sains tentangnya.

1. Vaksin tidak efektif karena masih bisa sakit

Salah satu alasan yang paling sering disebut adalah bahwa vaksin tidak bisa sepenuhnya mencegah penerimanya sakit. Namun, bicara tentang sains, pada intinya, vaksin memang tidak dimaksudkan menjadi “perlindungan sempurna 100 persen”.

Sebagai contoh, vaksin flu, efektivitasnya biasanya moderat, sekitar 40–60 persen dalam mencegah konfirmasi penyakit, dan dari perspektif kesehatan masyarakat itu sudah sangat berarti.

Manfaat paling penting dari vaksin influenza adalah mengurangi risiko penyakit berat dan rawat inap. Data interim dari musim flu terbaru menunjukkan vaksin tetap memberikan perlindungan terhadap penyakit berat meskipun terjadi pergeseran virus yang tidak terduga.

Ilmu imunologi menunjukkan bahwa respons kekebalan tubuh terhadap vaksin membantu melatih sistem imun untuk mengenali dan melawan virus sebelum berkembang menjadi penyakit berat. Ini bukan soal mencegah semua infeksi, melainkan soal mengurangi dampak klinisnya secara signifikan.

Beberapa tingkat ketidaksesuaian antara vaksin dan strain virus bisa terjadi (misalnya pada virus flu), tetapi bukti lapangan tetap menunjukkan penurunan komplikasi dan rawat inap di populasi yang divaksinasi. Artinya, vaksin efektif menekan keparahan penyakit, meskipun tidak menjamin kebal total terhadap infeksi.

2. Imunitas alami selalu lebih baik daripada kekebalan dari vaksinasi

Tidak sedikit orang yang percaya bahwa sakit lalu sembuh lebih “alami” dan lebih efektif dibanding vaksinasi. Konsep ini terlihat intuitif, tetapi risikonya jauh lebih tinggi secara klinis.

Kekebalan alami memang dapat terjadi, tetapi biaya biologisnya sering kali tinggi: risiko sakit berat, komplikasi, kecacatan bahkan kematian.

Berbeda dengan infeksi "alami", vaksin mengandung bentuk antigen yang dimodifikasi atau tidak aktif sehingga dapat menstimulasi respons imun tanpa memicu penyakit itu sendiri. Ini adalah cara sistem imun “berlatih” tanpa menghadapi ancaman nyata dari patogen.

Beberapa penyakit tertentu, seperti campak atau polio, telah menunjukkan bahwa imunitas alami bukan hanya berisiko tinggi, tetapi juga menimbulkan komplikasi jangka panjang (misalnya pneumonia, ensefalitis pada campak). Ini terjadi jauh lebih sering daripada efek samping serius dari vaksin.

Dengan begitu, pernyataan bahwa imunitas alami selalu lebih baik mengabaikan risiko langsung yang jauh lebih tinggi dibanding vaksinasi, apalagi pada usia rentan seperti anak-anak dan lansia.

3. Vaksin bisa melemahkan atau membebani sistem imun

Seorang petugas medis bersiap memberikan vaksinasi.
ilustrasi petugas medis melakukan vaksinasi (unsplash.com/Steven Cornfield)

Argumen bahwa terlalu banyak vaksin membuat sistem imun “kelelahan” muncul karena salah paham tentang cara kerja sistem imun.

Penjelasannya begini, sistem imun manusia secara alami terpapar ribuan antigen setiap hari dari makanan, udara, mikroorganisme di lingkungan, dan sel itu sendiri terus beregenerasi. Jumlah antigen dalam vaksin modern jauh lebih kecil dibanding masa lalu, dan jadwal imunisasi direkomendasikan berdasarkan bukti untuk memberi perlindungan sebelum risiko penyakit meningkat.

Penelitian imunologis menunjukkan bahwa tubuh manusia tidak mengalami “kelelahan imun” hanya karena beberapa vaksin diberikan bersamaan atau dalam waktu dekat. Bahkan, pemberian beberapa vaksin sekaligus (misalnya kombinasi MMR) justru mempercepat proteksi terhadap beberapa penyakit sekaligus.

Karenanya, keyakinan bahwa jadwal imunisasi membebani sistem imun tidak didukung bukti ilmiah, dan kondisi imun tubuh lebih sering dipengaruhi oleh nutrisi, stres, dan penyakit kronis dibanding jumlah vaksin yang diterima.

4. Vaksin menyebabkan autisme

Salah satu mitos yang paling dikenal dan paling merusak adalah klaim bahwa vaksin, terutama vaksin MMR, dapat menyebabkan autisme. Narasi ini berasal dari satu studi yang dipublikasikan pada akhir 1990-an yang kemudian ditarik oleh jurnal penerbitnya karena kesalahan etis dan metode.

Sejak itu, ratusan studi epidemiologi besar dan metaanalisis telah dilakukan di banyak negara dengan puluhan juta peserta. Tidak satu pun menemukan hubungan kausal antara vaksin—bahkan yang mengandung ajuvan seperti aluminium atau thimerosal—dengan risiko autisme.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi menegaskan bahwa tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan hubungan antara vaksin anak dan autisme, berdasarkan tinjauan puluhan penelitian yang komprehensif.

5. Vaksin mengandung bahan berbahaya buat manusia

Salah satu ketakutan yang paling sering muncul adalah anggapan bahwa vaksin mengandung racun atau bahan berbahaya bagi tubuh.

Bahan yang paling sering disorot biasanya adalah aluminium, formaldehida, dan pengawet seperti thimerosal. Padahal, secara ilmiah, jumlah dan fungsi zat-zat ini sudah dipelajari secara ketat selama puluhan tahun. WHO menjelaskan bahwa semua bahan vaksin diuji keamanan, dosis, dan efek jangka panjangnya sebelum disetujui untuk penggunaan publik.

Aluminium, misalnya, digunakan sebagai adjuvan untuk membantu sistem imun merespons vaksin dengan lebih efektif. Jumlah aluminium dalam vaksin jauh lebih kecil dibanding yang secara alami kita konsumsi setiap hari dari makanan, air minum, dan udara. Selain itu, bayi pun menerima aluminium lebih banyak dari ASI atau susu formula dibanding dari seluruh rangkaian vaksin pada tahun pertama kehidupannya.

Formaldehida juga sering disalahpahami. Zat ini memang terdengar menakutkan, tetapi tubuh manusia secara alami memproduksi formaldehida sebagai bagian dari metabolisme normal. Jumlah formaldehida dalam vaksin jauh di bawah kadar yang secara alami ditemukan dalam darah manusia dan tidak bersifat toksik.

Thimerosal, yang mengandung etilmerkuri, sudah dihilangkan dari sebagian besar vaksin anak sejak awal 2000-an sebagai langkah kehati-hatian, meskipun tidak pernah terbukti berbahaya. Berbagai studi populasi besar menunjukkan tidak ada hubungan antara thimerosal dan gangguan neurologis.

6. Penyakit yang dicegah oleh vaksin tidak ada lagi

Pemberian vaksinasi polio pada anak.
Ilustrasi pemberian vaksinasi polio. (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)

Sebagian orang beranggapan bahwa vaksin tidak lagi dibutuhkan karena penyakit seperti campak, difteri, atau polio sudah “menghilang”. Namun, penyakit-penyakit ini tidak lenyap secara alami, melainkan ditekan oleh cakupan vaksinasi yang tinggi. Ketika cakupan vaksin menurun, penyakit tersebut dapat kembali muncul, sebagaimana terlihat dalam wabah campak di berbagai negara dalam dekade terakhir.

Campak masih menjadi salah satu penyebab utama kematian anak di dunia, terutama di wilayah dengan akses vaksin yang rendah. Artinya, virus ini tetap beredar dan bisa kembali menyebar jika kekebalan kelompok melemah.

Fenomena ini disebut sebagai "paradoks pencegahan", yang artinya keberhasilan vaksin justru membuat orang lupa betapa berbahayanya penyakit yang dicegah. Ketika masyarakat mulai merasa vaksin tidak lagi diperlukan, risiko wabah meningkat.

Polio adalah contoh nyata. Penyakit ini hampir dieliminasi secara global, tetapi masih muncul di beberapa wilayah akibat rendahnya cakupan imunisasi dan konflik sosial. Ini menunjukkan bahwa vaksinasi tetap penting sampai penyakit benar-benar dieliminasi secara global.

7. Vaksin dibuat secara terburu-buru dan tidak cukup diuji

Mitos ini menguat terutama setelah pandemi COVID-19, ketika vaksin dikembangkan dalam waktu yang relatif singkat. Namun, percepatan ini bukan berarti tahapan ilmiah dilewati. Vaksin modern tetap melalui uji praklinis, tiga fase uji klinis, serta evaluasi pasca izin edar.

Yang membedakan adalah kolaborasi global, pendanaan besar, dan teknologi yang sudah lama dikembangkan sebelumnya. Misalnya, teknologi mRNA telah diteliti selama lebih dari dua dekade sebelum digunakan secara luas.

Selain uji klinis, vaksin yang telah beredar tetap diawasi melalui sistem farmakovigilans global. Efek samping langka dapat terdeteksi justru karena penggunaan vaksin dalam populasi besar. Ini adalah bagian dari proses ilmiah yang transparan.

Dengan kata lain, “cepat” tidak sama dengan “ceroboh”. Kecepatan dicapai tanpa mengorbankan standar ilmiah, melainkan melalui efisiensi dan kerja lintas disiplin yang belum pernah terjadi sebelumnya.

8. Vaksin cuma menguntungkan industri farmasi

Narasi ini sering muncul dari ketidakpercayaan terhadap korporasi besar. Namun, data ekonomi kesehatan menunjukkan bahwa vaksinasi adalah salah satu intervensi kesehatan paling cost-effective dalam sejarah medis. WHO memperkirakan vaksin menyelamatkan 4–5 juta nyawa setiap tahun secara global.

Banyak program vaksinasi dunia dibiayai oleh pemerintah dan organisasi nirlaba. Bahkan, banyak vaksin dijual dengan margin rendah atau disubsidi untuk negara berpenghasilan rendah.

Perlu ditekankan bahwa sebagian besar riset vaksin melibatkan universitas, lembaga publik, dan konsorsium global. Keuntungan finansial bukan satu-satunya atau bahkan motivasi utama di balik pengembangan vaksin.

Jika dilihat dari perspektif sistem kesehatan, vaksinasi justru menghemat biaya rawat inap, kehilangan produktivitas, dan beban ekonomi jangka panjang.

9. Orang sehat tidak perlu vaksin

Ilustrasi perban penutup bekas injeksi vaksinasi.
ilustrasi vaksinasi (pexels.com/Nop Viwat)

Banyak orang merasa tubuhnya cukup kuat sehingga tidak membutuhkan vaksin. Padahal, konsep vaksinasi tidak hanya melindungi individu, tetapi juga orang-orang di sekitarnya melalui kekebalan kelompok. Individu sehat tetap bisa tertular dan menularkan penyakit kepada kelompok rentan.

Selain itu, kondisi kesehatan bisa berubah tanpa disadari. Infeksi yang ringan pada satu orang bisa menjadi berat atau fatal bagi lansia, bayi, atau penderita penyakit kronis. Vaksin membantu memutus rantai penularan sebelum itu terjadi.

Beberapa penyakit juga tidak selalu menunjukkan gejala berat di awal, tetapi dapat menyebabkan komplikasi jangka panjang. Influenza, misalnya, dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke, bahkan pada orang yang sebelumnya sehat.

Jadi, vaksinasi itu bukan cuma keputusan personal, tetapi juga tindakan sosial yang berbasis solidaritas dan perlindungan bersama.

Mitos vaksin bertahan bukan karena kurangnya bukti ilmiah, melainkan karena informasi yang keliru sering kali lebih mudah menyebar dibanding penjelasan berbasis data. Padahal, selama puluhan tahun, vaksin telah melalui pengujian ketat dan pengawasan berlapis yang menjadikannya salah satu alat kesehatan paling aman dan efektif.

Memahami fakta di balik mitos bukan soal memenangkan perdebatan, melainkan soal melindungi kesehatan diri sendiri dan orang lain. Di tengah banjir informasi, sains tetap menjadi kompas paling andal untuk mengambil keputusan kesehatan terbaik.

Referensi

Brendan Nyhan and Jason Reifler, “Does Correcting Myths About the Flu Vaccine Work? An Experimental Evaluation of the Effects of Corrective Information,” Vaccine 33, no. 3 (December 8, 2014): 459–64, https://doi.org/10.1016/j.vaccine.2014.11.017.

"Debunking Myths about the Flu Vaccine." PAHO/WHO. Diakses Januari 2026.

"CIDRAP Op-ed: Vaccine myths that won’t die and how to counter them—part 2." CIDRAP. Diakses Januari 2026.

"CIDRAP Op-Ed: Vaccine myths that won't die and how to counter them—part 1." CIDRAP. Diakses Januari 2026.

"WHO expert group’s new analysis reaffirms there is no link between vaccines and autism." WHO. Diakses Januari 2026.

"Vaccines and immunization: Vaccine safety." WHO. Diakses Januari 2026.

"Vaccine Safety." CDC. Diakses Januari 2026.

"What's in a vaccine?." WHO. Diakses Januari 2026.

Norbert Pardi et al., “mRNA Vaccines — a New Era in Vaccinology,” Nature Reviews Drug Discovery 17, no. 4 (January 12, 2018): 261–79, https://doi.org/10.1038/nrd.2017.243.

"What is Pharmacovigilance?" WHO. Diakses Januari 2026.

"The lightning-fast quest for COVID vaccines — and what it means for other diseases." Nature. Diakses Januari 2026.

"Immunization coverage." WHO. Diakses Januari 2026.

"Flu and whooping-cough vaccines in pregnancy linked to fewer hospital visits in babies." GAVI. Diakses Januari 2026.

William V. Padula et al., “Economic Value of Vaccines to Address the COVID-19 Pandemic: A U.S. Cost-effectiveness and Budget Impact Analysis,” Journal of Medical Economics 24, no. 1 (January 1, 2021): 1060–69, https://doi.org/10.1080/13696998.2021.1965732.

Sachiko Ozawa et al., “Cost-effectiveness and Economic Benefits of Vaccines in Low- and Middle-income Countries: A Systematic Review,” Vaccine 31, no. 1 (November 8, 2012): 96–108, https://doi.org/10.1016/j.vaccine.2012.10.103.

"Coronavirus disease (COVID-19): Herd immunity, lockdowns and COVID-19." WHO. Diakses Januari 2026.

Mohsen Mohammadi et al., “Association Between Influenza Infection and Cardiovascular Diseases: A Systematic Review and Meta-analysis,” JRSM Cardiovascular Disease 14 (April 1, 2025): 20480040251407014, https://doi.org/10.1177/20480040251407014.

Bahar Behrouzi et al., “Association of Influenza Vaccination With Cardiovascular Risk,” JAMA Network Open 5, no. 4 (April 29, 2022): e228873, https://doi.org/10.1001/jamanetworkopen.2022.8873.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More

Ilmuwan Temukan Gula Manis Rendah Kalori Tanpa Bikin Insulin Melonjak

18 Jan 2026, 08:03 WIBHealth