Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Menikmati makanan bersama teman .
ilustrasi menikmati makanan bersama teman (pexels.com/Sam Lion)

Intinya sih...

  • Pola makan intuitif adalah pendekatan yang menekankan mendengarkan sinyal internal tubuh tentang lapar dan kenyang, berdampak positif terhadap hubungan dengan makanan dan mental.

  • Menghitung kalori (calorie counting) memberikan struktur yang jelas untuk mengatur asupan energi, yang bisa membantu dalam manajemen berat badan jangka pendek, tetapi juga berisiko memicu fokus obsesif pada angka dan pola makan tidak sehat.

  • Pilihan antara kedua pendekatan ini bergantung pada tujuan kesehatan, hubungan individu dengan makanan, dan kebutuhan metabolik.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Mengelola pola makan adalah salah satu tantangan dalam upaya menjaga kesehatan dan berat badan ideal. Dua pendekatan populer yang sering dibandingkan adalah pola makan intuitif dan menghitung kalori. Masing-masing memiliki filosofi, metodologi, serta hasil yang berbeda. Perdebatan tentang mana yang lebih efektif tak hanya melibatkan aspek fisiologis, tetapi juga psikologis dan hubungan individu dengan makanan itu sendiri.

Pola makan intuitif berkembang dari kritik terhadap budaya diet yang ketat dan sering kali menyebabkan hubungan negatif dengan makanan. Fokusnya adalah pada pengenalan sinyal tubuh dan penghormatan terhadap kebutuhan biologis tanpa rasa bersalah atau rasa takut.

Sebaliknya, menghitung kalori adalah pendekatan yang lebih teknis, menuntut pelacakan angka energi masuk dan keluar sebagai strategi untuk mencapai tujuan tertentu, misalnya defisit kalori untuk penurunan berat badan. Meskipun efektif untuk beberapa orang, tetapi metode ini juga menghadirkan tantangan tersendiri.

1. Apa itu pola makan intuitif?

Pola makan intuitif adalah cara makan yang berakar pada mendengarkan sinyal internal tubuh tentang rasa lapar dan kenyang, serta menjalin hubungan yang sehat dengan makanan. Konsep ini dikembangkan oleh dietitians Evelyn Tribole dan Elyse Resch pada tahun 1995 sebagai respons terhadap diet culture yang restriktif dan memperparah gangguan pola makan.

Pendekatan ini dibangun di atas 10 prinsip utama:

  1. Menolak mentalitas diet.

  2. Menghormati rasa lapar.

  3. Berdamai dengan makanan.

  4. Mengenali faktor kepuasan.

  5. Merasakan kenyang.

  6. Menantang food police.

  7. Menghadapi emosi tanpa makan berlebihan.

  8. Menghormati tubuh sendiri.

  9. Bergerak dengan rasa senang.

  10. Menghormati pola makan sehat tanpa tekanan.

Pola makan intuitif bukan diet bebas batas atau sembarang makan apa pun tanpa sadar. Sebaliknya, pola makan ini mengajarkan mindful eating dan menumbuhkan kepercayaan pada sinyal tubuh agar kebutuhan fisik dan emosional terpenuhi secara seimbang. Studi klinis dan pendukung praktis menunjukkan bahwa pendekatan ini dapat membantu memperbaiki hubungan dengan makanan, meningkatkan citra tubuh, dan menurunkan perilaku makan yang tidak sehat.

Apakah pola makan intuitif aman dan bermanfaat?

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa individu yang menerapkan pola makan intuitif sering melaporkan hubungan yang lebih positif dengan makanan, penurunan rasa bersalah atau malu terkait makan, serta peningkatan kesejahteraan secara keseluruhan.

Karena tidak berfokus pada angka atau aturan ketat, pendekatan ini bisa sangat membantu mereka yang pernah mengalami dampak buruk diet tradisional, termasuk pola makan kompulsif atau gangguan makan ringan.

Namun, bagi sebagian orang yang memiliki kebutuhan metabolik khusus atau yang masih sangat terputus dari sinyal biologis karena kebiasaan makan lama, pola makan intuitif mungkin memerlukan dukungan profesional agar tidak menyebabkan ketidakseimbangan asupan energi.

2. Apa itu calorie counting?

ilustrasi makanan sehat (pexels.com/Yaroslav Shuraev)

Menghitung kalori (calorie counting) adalah metode yang melibatkan pelacakan jumlah energi yang dikonsumsi dari makanan dan minuman dan sering dipadukan dengan estimasi energi yang dibakar melalui aktivitas fisik. Tujuan utamanya biasanya adalah untuk mengatur berat badan—baik menurunkan, menaikkan, atau mempertahankan.

Metode ini mengandalkan konsep dasar kondisi energi: jika kamu mengonsumsi lebih sedikit kalori daripada yang kamu bakar (calorie deficit), maka tubuh akan menggunakan cadangan energi, sehingga terjadi penurunan berat badan. Sebaliknya, surplus kalori dapat memicu kenaikan berat badan.

Kalori sering dihitung melalui aplikasi, buku panduan, atau label makanan. Metode ini memberikan struktur dan angka konkret yang bisa membantu individu melihat hubungan antara apa yang dimakan dan target fisik mereka.

Keamanan dan manfaat menghitung kalori

Menghitung kalori dapat membantu banyak orang menjadi lebih sadar akan asupan makanan mereka dan bisa berfungsi sebagai alat pengubah perilaku yang efektif dalam jangka pendek, terutama saat disertai edukasi nutrisi yang baik dalam konteks manajemen berat badan.

Namun, riset juga menunjukkan bahwa pendekatan ini bisa berdampak negatif jika dilakukan secara ekstrem atau obsesif. Misalnya, meningkatkan stres terhadap makanan atau bahkan dikaitkan dengan gejala gangguan makan pada sebagian individu.

Kesulitan lain dari metode ini adalah bahwa angka kalori di label makanan atau basis data sering kali estimasi yang tidak sempurna, sehingga fokus hanya pada angka bisa mengalihkan dari kualitas diet secara keseluruhan.

3. Mana yang lebih baik untuk kesehatan tubuh?

Dari sudut pandang kesehatan umum, kedua pendekatan bermanfaat tergantung pada kebutuhan dan hubungan individu dengan makanan. Pola makan intuitif sering dipandang lebih berkelanjutan karena mendorong hubungan positif dengan makan tanpa rasa bersalah atau stres yang berlebihan. Orang yang mengalami diet berulang yang gagal atau hubungan emosional yang rumit dengan makanan sering mendapat manfaat besar dari cara ini.

Menghitung kalori bisa lebih cocok untuk mereka yang memerlukan struktur eksplisit, misalnya individu dengan kondisi medis tertentu seperti diabetes tipe 2 atau obesitas yang memerlukan kontrol asupan energi lebih ketat. Namun, pendekatan ini perlu dipadukan dengan perhatian terhadap kualitas makanan.

Secara umum, pendekatan yang lebih menyehatkan secara menyeluruh adalah salah satu yang mempertimbangkan kebutuhan mental dan fisik tanpa menciptakan tekanan psikologis yang tinggi, seperti halnya mindful eating dan nutrisi seimbang yang intuitif.

4. Mana yang lebih baik untuk penurunan berat badan yang berkelanjutan?

ilustrasi makan di restoran (freepik.com/freepik)

Menghitung kalori dapat efektif dalam memunculkan defisit energi yang diperlukan untuk penurunan berat badan dalam jangka pendek. Namun, penelitian menunjukkan bahwa strategi yang hanya fokus pada angka tanpa memperbaiki pola perilaku atau hubungan dengan makanan sering kali tidak bertahan lama. Banyak individu akhirnya kembali ke pola lama saat tidak lagi mengikuti aturan ketat.

Pola makan intuitif, sebaliknya, tidak dirancang sebagai strategi penurunan berat badan langsung. Meskipun beberapa orang mungkin mengalami perubahan berat melalui pendekatan ini, tetapi tujuannya adalah membangun perilaku makan yang stabil, sadar, dan berkelanjutan, yang dapat membantu mempertahankan berat badan sehat dalam jangka panjang tanpa stres atau rasa bersalah.

Dalam konteks jangka panjang, banyak ahli nutrisi menyarankan untuk menggabungkan kesadaran internal (pola makan intuitif) dengan edukasi nutrisi yang baik daripada hanya berfokus pada angka.

Pemilihan antara pola makan intuitif dan menghitung kalori harus disesuaikan dengan tujuan kesehatan, kebutuhan mental, dan gaya hidup individu.

Pola makan intuitif menekankan hubungan yang sehat dan tanpa konflik dengan makanan, sementara menghitung kalori memberi alat terukur yang bisa membantu tujuan spesifik seperti manajemen berat badan.

Strategi terbaik sering kali bukan memilih salah satu saja, tetapi menggabungkan prinsip-prinsip mindful eating, nutrisi seimbang, dan penyesuaian personal sesuai kebutuhan, dengan bimbingan profesional jika diperlukan. Pendekatan holistik ini dapat membantu menciptakan kebiasaan makan yang sehat, realistis, dan berkelanjutan.

Referensi

“What Is Intuitive Eating?” Health Cleveland Clinic. Diakses Februari 2026.

“10 Principles of Intuitive Eating.” IntuitiveEating.org. Diakses Februari 2026.

“Intuitive Eating Explained: Benefits, Principles and How to Get Started." British Dietetic Association. Diakses Februari 2026.

“Intuitive Eating vs. Calorie Counting: Which Is Better for Your Body?" Verywell Health. Diakses Februari 2026.

“What Is the Difference Between Calorie Counting and Intuitive Eating?”, AskBib.com. Diakses Februari 2026.

“Calorie Counting vs. Intuitive Eating: The Surprising Truth About What Works for Weight Loss." Hoot Fitness. Diakses Februari 2026.

Kelly A. Romano et al., “Helpful or Harmful? The Comparative Value of Self-weighing and Calorie Counting Versus Intuitive Eating on the Eating Disorder Symptomology of College Students,” Eating and Weight Disorders - Studies on Anorexia Bulimia and Obesity 23, no. 6 (August 28, 2018): 841–48, https://doi.org/10.1007/s40519-018-0562-6.

Editorial Team