Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Puasa Ramadan Bisa Kurangi Keluhan GERD, Ini Penjelasan Dokter
ilustrasi gejala GERD kambuh saat puasa (freepik.com/drobotdean)
  • Prof. Ari Fahrial Syam menjelaskan puasa Ramadan dapat membantu mengurangi keluhan GERD karena kebiasaan pemicu seperti makan berlemak, merokok, dan konsumsi kopi berkurang.

  • Penelitian yang dibimbing Prof. Ari menunjukkan kelompok yang berpuasa mengalami penurunan kejadian buruk akibat GERD dan peningkatan signifikan pada perbaikan kondisi pasien.

  • Meskipun puasa bermanfaat bagi penderita GERD, tetapi pola makan saat sahur dan berbuka tetap perlu dijaga agar tidak memicu asam lambung serta disarankan menemui dokter jika gejala memburuk.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Puasa Ramadan dapat membawa manfaat nyata bagi penderita GERD, karena secara alami membantu mengurangi kebiasaan dan asupan yang memicu gejala. Dengan berkurangnya konsumsi lemak, kopi, dan rokok, serta adanya bukti penelitian yang mendukung perbaikan kondisi pasien, puasa tampak memberi peluang bagi tubuh untuk beradaptasi lebih sehat.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyak orang dengan gastroesophageal reflux disease (GERD) khawatir berpuasa akan memperburuk gejala seperti nyeri ulu hati, perut terasa panas, atau asam lambung naik. Kekhawatiran ini membuat sebagian orang memilih tidak ikut puasa Ramadan.

Namun, menurut Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Konsultan gastroenterologi dan hepatologi FK UI RSCM, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, puasa justru bisa membantu mengurangi keluhan pada sebagian pasien GERD.

Ia mengatakan, konsumsi makanan pemicu GERD, seperti makanan berlemak, akan berkurang saat puasa Ramadan. Hal ini ia sampaikan dalam acara buka puasa bersama Primaya Hospital di Jakarta, Kamis (5/3/2026).

Puasa membantu mengurangi pemicu utama GERD

ilustrasi makanan berlemak (unsplash.com/Joshua Hoehne)

Prof. Ari menjelaskan puasa Ramadan bisa membantu memperbaiki kondisi pasien GERD karena banyak faktor pemicu yang otomatis berkurang.

"Puasa, terus terang saja, puasa Ramadan ini buat pasien GERD lebih baik. Karena semua itu dikurangi," jelasnya.

Saat berpuasa, kebiasaan yang sering memicu asam lambung naik biasanya menurun. Perokok otomatis mengurangi jumlah rokok dalam sehari. Kesempatan makan juga lebih terbatas sehingga asupan kalori dan lemak cenderung turun. Berat badan pada banyak orang ikut menurun.

Kebiasaan ngemil di siang hari, seperti makan gorengan, juga hilang selama puasa. Konsumsi kopi yang sering menjadi pemicu refluks lambung biasanya ikut berkurang.

Menurut Prof. Ari, perubahan pola makan dan gaya hidup ini membuat pasien yang memiliki pemicu GERD bisa berada dalam kondisi yang lebih sehat selama Ramadan.

Penelitian menunjukkan keluhan GERD bisa membaik saat puasa

Prof. Ari juga menyampaikan temuan dari penelitian yang ia bimbing pada peserta didik spesialis penyakit dalam. Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok yang menjalani puasa mengalami penurunan kejadian buruk atau kekambuhan akibat GERD.

"Ini satu penelitian, kebetulan saya membimbing penelitian ini, PPDS penyakit dalam. Ternyata memang betul ya, pada kelompok yang berpuasa ini, worst-nya (kejadian buruk akibat GERD) itu menurun," jelasnya.

Data penelitian tersebut menunjukkan angka perbaikan kondisi GERD meningkat secara signifikan pada kelompok yang berpuasa. Hasil studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional yang terindeks Scopus Q3 sehingga dapat diakses oleh peneliti di seluruh dunia.

Puasa bisa memberi manfaat bagi sebagian pasien GERD karena membantu mengurangi banyak faktor pemicu dalam kehidupan sehari hari. Namun, pola makan saat sahur dan berbuka tetap perlu dijaga agar tidak memicu asam lambung. Jika keluhan sering muncul atau makin berat, konsultasi dengan dokter agar puasa bisa dijalani dengan aman.

Editorial Team