Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Punya Riwayat Vertigo? Persiapkan Ini Sebelum Berangkat Haji
ilustrasi jemaah haji Indonesia (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)
  • Vertigo dapat kambuh selama ibadah haji karena kelelahan, dehidrasi, panas, kurang tidur, dan perubahan posisi tubuh yang mendadak.

  • Jemaah dengan riwayat vertigo sebaiknya memeriksakan diri sebelum berangkat, membawa obat rutin, dan mengetahui cara menangani gejala saat kambuh.

  • Persiapan fisik, latihan keseimbangan, serta menjaga cairan dan istirahat dapat membantu menurunkan risiko vertigo selama di Tanah Suci.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Artikel ini menampilkan pendekatan terhadap kesehatan jemaah haji dengan riwayat vertigo. Dengan penjelasan rinci tentang penyebab, pemicu, dan langkah pencegahan, artikel ini memberi ruang bagi pembaca untuk memahami tubuhnya lebih baik. Panduan seperti latihan keseimbangan, manuver Epley, serta menjaga hidrasi dan istirahat menunjukkan bahwa persiapan matang dapat membuat ibadah tetap aman dan nyaman.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bagi jemaah haji yang memiliki riwayat vertigo, kondisi ini bisa menambah tantangan saat beribadah haji karena tubuh berada dalam situasi yang mudah memicu kekambuhan.

Vertigo bukan sekadar pusing biasa. Sensasinya bisa membuat kepala terasa berputar, tubuh goyah, mual, bahkan sulit berdiri atau berjalan. Jika muncul saat di tengah keramaian, saat tawaf, atau saat berada dalam kendaraan, vertigo bisa meningkatkan risiko jatuh dan cedera. Karena itu, jemaah haji dengan riwayat vertigo perlu menyiapkan diri lebih matang sebelum berangkat.

Mengapa vertigo bisa mudah kambuh saat haji?

Vertigo, terutama jenis benign paroxysmal positional vertigo (BPPV), sering dipicu oleh perubahan posisi kepala secara mendadak. Misalnya saat bangun dari tidur, menunduk, menengadah, atau berbalik cepat.

Pada BPPV, partikel kecil di telinga bagian dalam bergeser dan mengganggu sistem keseimbangan tubuh. Kondisi ini merupakan salah satu penyebab tersering vertigo.

Di Tanah Suci, banyak situasi dapat memicu perubahan posisi kepala berulang, seperti tidur di tempat yang sempit, sering bangun dini hari, menoleh cepat di tengah kerumunan, atau naik turun bus dan eskalator. Bagi sebagian orang, perjalanan panjang dengan pesawat dan kurang tidur juga dapat memperburuk rasa pusing dan sensasi melayang.

Cuaca panas dan dehidrasi juga bisa memperburuk keluhan. Saat tubuh kekurangan cairan, tekanan darah bisa turun, denyut jantung meningkat, dan aliran darah ke otak berkurang. Akibatnya, rasa pusing, lemah, dan tidak stabil lebih mudah muncul.

Dehidrasi diketahui menjadi salah satu faktor utama yang meningkatkan risiko gangguan akibat panas dan memperberat gejala pada orang yang sudah memiliki kondisi medis tertentu.

1. Periksa diri sebelum terlambat

ilustrasi vertigo posisi paroksismal jinak atau benign paroxysmal positional vertigo (pixabay.com/ITECHirfan)

Jangan menunggu gejala kambuh baru mencari pertolongan. Jika punya riwayat vertigo, sebaiknya temui dokter sebelum keberangkatan. Pemeriksaan ini penting untuk memastikan jenis vertigo yang dialami, apakah memang BPPV, vertigo karena migrain, gangguan telinga dalam, atau kondisi lain yang perlu penanganan berbeda.

Dokter juga bisa membantu mengevaluasi apakah ada faktor yang memperburuk vertigo, seperti gangguan tekanan darah, anemia, diabetes, gangguan pendengaran, atau efek samping obat tertentu. Ini penting karena gejala seperti pusing, limbung, dan mual tidak selalu disebabkan oleh vertigo semata.

Jika gejala vertigo sering kambuh, dokter mungkin akan mengajarkan manuver tertentu seperti manuver Epley atau latihan vestibular. Teknik ini bertujuan membantu mengembalikan posisi partikel di telinga dalam agar tidak memicu sensasi berputar. Penelitian menunjukkan, terapi reposisi kanal dan rehabilitasi vestibular dapat membantu memperbaiki keseimbangan, mengurangi gejala, dan membantu pasien lebih percaya diri dalam beraktivitas.

2. Bawa obat dan catatan medis

Jemaah dengan riwayat vertigo sebaiknya tidak hanya membawa obat secukupnya, tetapi juga menyiapkan stok ekstra. Keterlambatan perjalanan, perubahan jadwal, atau kondisi darurat bisa membuat akses ke obat menjadi lebih sulit.

Beberapa obat yang umum digunakan untuk membantu meredakan vertigo dan mual antara lain antihistamin seperti betahistine, meclizine, atau dimenhydrinate, tergantung anjuran dokter. Pastikan obat disimpan di tas kecil yang mudah dijangkau.

Selain obat, bawa ringkasan riwayat kesehatan. Isi dengan diagnosis, obat yang dikonsumsi, dosis, alergi obat, dan nomor kontak dokter atau keluarga. Catatan ini dapat membantu petugas kesehatan bertindak lebih cepat jika sewaktu-waktu diperlukan.

3. Latih tubuh

ilustrasi latihan keseimbangan (unsplash.com/emmelle)

Banyak orang fokus pada latihan jalan kaki sebelum haji, tetapi lupa melatih keseimbangan tubuh. Padahal, pada orang dengan vertigo, kemampuan menjaga keseimbangan bisa sangat menentukan keamanan selama beribadah.

Latihan sederhana seperti berjalan perlahan sambil menggerakkan kepala ke kanan dan kiri, berdiri dengan satu kaki secara bergantian, atau latihan vestibular dari dokter dapat membantu tubuh beradaptasi terhadap perubahan posisi. Makin baik keseimbangan tubuh, makin kecil risiko jatuh saat gejala ringan muncul.

Penelitian menunjukkan bahwa rehabilitasi vestibular dapat membantu meningkatkan stabilitas postur, memperbaiki interaksi antara penglihatan dan gerakan kepala, serta mengurangi rasa tidak nyaman pada pasien vertigo.

4. Jaga tidur dan jangan sampai terlalu lelah

Kurang tidur adalah salah satu pemicu vertigo yang paling sering diabaikan. Selama haji, jadwal ibadah dan aktivitas bisa sangat padat. Banyak jemaah tidur lebih sedikit dari biasanya karena harus bangun dini hari, berpindah lokasi, atau beribadah hingga malam.

Padahal, tubuh yang kelelahan akan lebih sulit menjaga keseimbangan. Kurang tidur juga bisa membuat otak lebih sensitif terhadap gerakan dan memicu rasa pusing, mual, serta sensasi melayang.

Karena itu, jemaah dengan riwayat vertigo perlu berani mengatur ritme aktivitas. Tidak semua agenda harus diikuti jika sudah terasa terlalu lelah. Menjaga energi justru penting agar ibadah tetap aman dan lancar.

5. Cegah dehidrasi dan minimalkan paparan panas

Jemaah haji Indonesia saat melakukan wukuf di Arafah, Arab Saudi, Kamis (9/6/2025). (Media Center Haji/Rochmanudin)

Cuaca di Arab Saudi lebih panas dibanding di Indonesia, terutama saat siang hari. Paparan panas berlebihan dapat mempercepat kehilangan cairan tubuh melalui keringat.

Dehidrasi dapat memperburuk rasa pusing, membuat tekanan darah turun, dan meningkatkan risiko kelelahan akibat panas. Pada kondisi yang lebih berat, seseorang bisa mengalami heat exhaustion yang gejalanya meliputi haus berlebihan, pusing, sakit kepala, mual, dan tubuh terasa sangat lemas.

Untuk membantu mencegahnya, usahakan minum air secara berkala meski belum haus, pakai topi atau payung, pilih pakaian longgar dan ringan, serta istirahat di tempat teduh jika mulai merasa lelah. Hindari terlalu lama berada di bawah matahari, terutama pada siang hari.

6. Kenali tanda bahaya

Jika keluhan disertai kelemahan pada satu sisi tubuh, sulit bicara, pandangan ganda, nyeri dada, pingsan, atau sakit kepala hebat mendadak, segera cari pertolongan medis.

Gejala-gejala tersebut bisa mengarah pada masalah yang lebih serius seperti stroke, gangguan jantung, atau gangguan saraf. Pada jemaah lansia atau yang memiliki penyakit kronis, tanda bahaya seperti ini tidak boleh diabaikan.

Segera cari petugas kesehatan atau pendamping jika merasa gejala berbeda dari biasanya. Lebih baik memeriksakan diri terlalu cepat daripada terlambat.

Bagi jemaah haji dengan riwayat vertigo, memahami kondisi tubuh sendiri juga menjadi bagian penting dari persiapan. Dengan pemeriksaan yang tepat, obat yang cukup, istirahat yang baik, dan strategi mencegah dehidrasi, banyak orang dengan vertigo tetap bisa lancar beribadah haji. Kuncinya, jangan memaksakan diri dan selalu dengarkan sinyal dari tubuh.

Referensi

Centers for Disease Control and Prevention (CDC). “Heat and Cold Illness in Travelers.” CDC Yellow Book 2026. Diakses April 2026.

CDC. “Heat Illnesses.” Travelers’ Health. Diakses April 2026.

Federica Bressi et al., “Vestibular Rehabilitation in Benign Paroxysmal Positional Vertigo: Reality or Fiction?,” International Journal of Immunopathology and Pharmacology 30, no. 2 (May 9, 2017): 113–22, https://doi.org/10.1177/0394632017709917.

Ellis S. Van Der Scheer‐Horst et al., “The Efficacy of Vestibular Rehabilitation in Patients With Benign Paroxysmal Positional Vertigo: A Rapid Review,” Otolaryngology 151, no. 5 (August 25, 2014): 740–45, https://doi.org/10.1177/0194599814546479.

Michael Von Brevern et al., “Benign Paroxysmal Positional Vertigo: Current Status of Medical Management,” Otolaryngology 130, no. 3 (March 1, 2004): 381–82, https://doi.org/10.1016/j.otohns.2003.07.007.

Peng You, Ryan Instrum, and Lorne Parnes, “Benign Paroxysmal Positional Vertigo,” Laryngoscope Investigative Otolaryngology 4, no. 1 (December 14, 2018): 116–23, https://doi.org/10.1002/lio2.230.

Editorial Team