Setelah diimunisasi, Dr. Piprim mengingatkan orang tua untuk tidak langsung memberikan obat. Menurutnya, pemberian obat seperti parasetamol sebaiknya menunggu hingga benar-benar muncul gejala, bukan sebagai langkah pencegahan.
"Sebetulnya jangan dibiasakan memberi obat sesudah vaksin. Tunggu saja reaksinya dulu, karena belum tentu terpakai juga."
Dokter Piprim menambahkan, ada penelitian yang menunjukkan pemberian parasetamol langsung setelah vaksin dapat sedikit menurunkan efektivitas vaksin, meski efeknya tidak besar.
Obat penurun panas sebaiknya diberikan jika suhu tubuh anak sudah mencapai sekitar 38,5 hingga 39 derajat Celsius atau jika demam mulai mengganggu kondisi anak. Jika demam masih ringan, orang tua bisa melakukan cara sederhana seperti kompres, skin to skin, serta memastikan kebutuhan cairan anak tetap terpenuhi.
"Kalau tidak terlalu mengganggu, kompres saja sambil dicukupi cairannya. Biasanya juga tidak lama demamnya,” Dr. Piprim menyarankan.
Untuk reaksi seperti bengkak di area suntikan, saran dari Dr. Piprim adalah penggunaan kompres hangat, bukan kompres dingin. Kompres dingin atau es lebih tepat digunakan pada kasus cedera seperti benturan, bukan untuk reaksi setelah imunisasi.
Dengan memahami efek samping yang wajar setelah imunisasi, orang tua diharapkan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang keliru mengenai vaksin campak. Ingat, manfaat vaksin jauh lebih besar dibanding risiko efek samping ringan yang mungkin muncul. Memastikan anak mendapatkan imunisasi lengkap menjadi langkah penting untuk melindungi mereka dari penyakit menular seperti campak.