Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Rebung.
ilustrasi rebung (freepik.com/ mrsiraphol)

Intinya sih...

  • Rebung berpotensi mendukung kesehatan metabolik, pencernaan, dan perlindungan sel berkat kandungan serat, protein, dan antioksidan.

  • Rebung dapat membantu mengontrol gula darah dan profil lemak, faktor penting dalam diabetes dan penyakit jantung.

  • Konsumsi rebung harus melalui proses pengolahan yang tepat, karena bambu mentah dapat mengandung senyawa beracun.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bambu dikenal sebagai simbol ketahanan dan kecepatan tumbuhnya. Beberapa spesiesnya bahkan mampu memanjang hingga hampir satu meter hanya dalam satu hari, menjadikannya tanaman dengan pertumbuhan tercepat di Bumi. Namun, di luar popularitasnya sebagai bahan bangunan atau elemen lanskap, bambu juga bisa mewarnai meja makan, yaitu lewat rebung bambu.

Selama berabad-abad, rebung telah menjadi bagian dari tradisi kuliner di berbagai budaya Asia, termasuk di Indonesia. Namun, di luar kawasan Asia, rebung jarang dibicarakan sebagai pangan fungsional yang mendukung kesehatan.

Untuk pertama kalinya, para peneliti mengumpulkan dan menelaah secara sistematis seluruh bukti ilmiah tentang apa yang terjadi ketika rebung dikonsumsi sebagai makanan. Hasilnya menunjukkan bahwa rebung berpotensi masuk ke dalam daftar kandidat “superfood”.

Rebung punya profil nutrisi baik dan tentunya menyehatkan

Tinjauan ilmiah yang dipimpin peneliti dari Anglia Ruskin University (Inggris) ini menganalisis berbagai studi, mulai dari penelitian pada manusia (in vivo) hingga eksperimen laboratorium pada sel manusia (in vitro). Pendekatan ini memungkinkan peneliti melihat dampak nyata pada tubuh sekaligus memahami mekanisme biologis yang mendasarinya.

Dari sisi nutrisi, rebung bambu menawarkan kombinasi yang relatif jarang: proteinnya cukup tinggi, rendah lemak, dan kalorinya minim, disertai serat pangan dalam jumlah sedang.

Rebung juga mengandung asam amino esensial, mineral jejak seperti selenium dan kalium, serta vitamin alami seperti tiamin, niasin, vitamin A, vitamin B6, dan vitamin E.

Profil ini membuatnya padat gizi tanpa membebani asupan energi, karakteristik yang sering dikaitkan dengan kesehatan metabolik.

Dalam sejumlah studi pada manusia, konsumsi rebung dikaitkan dengan perbaikan kontrol gula darah dan profil lipid. Temuan ini relevan karena kadar gula dan lemak darah yang tidak terkendali merupakan faktor risiko utama diabetes dan penyakit kardiovaskular. Meski jumlah studi manusia masih terbatas, tetapi sinyal manfaatnya cukup konsisten untuk menarik perhatian para peneliti.

Tak hanya itu, serat struktural dalam bambu (seperti selulosa, hemiselulosa, dan lignin) berperan dalam mendukung fungsi pencernaan. Beberapa studi melaporkan perbaikan buang air besar yang teratur setelah mengonsumsi rebung.

Pada tingkat sel, konsumsi bambu juga dikaitkan dengan aktivitas antioksidan dan antiinflamasi yang meningkat, penurunan toksisitas sel, serta perbaikan viabilitas sel—indikasi perlindungan terhadap stres oksidatif yang berkaitan dengan penuaan dan penyakit kronis.

Penelitian laboratorium memperkuat temuan ini dengan menunjukkan kapasitas antioksidan yang kuat serta efek probiotik, yaitu kemampuan mendukung pertumbuhan bakteri baik di usus.

Menariknya, senyawa tertentu dalam bambu juga mampu menghambat pembentukan furan dan akrilamida, dua senyawa toksik yang dapat muncul saat makanan digoreng atau dipanggang.

Itu semua membuka peluang pemanfaatan bambu bukan hanya sebagai makanan, tetapi juga sebagai bahan pendukung dalam pengolahan pangan yang lebih aman.

Ada risiko dari sianida jika dimakan mentah

ilustrasi rebung (commons.wikimedia.org/Takeaway)

Walaupun nutrisi dan manfaatnya menjanjikan, tetapi tinjauan ini juga menegaskan adanya risiko serius jika rebung dikonsumsi tanpa pengolahan yang tepat. Beberapa spesies bambu mengandung glikosida sianogenik, senyawa yang dapat melepaskan sianida jika dimakan mentah.

Selain itu, satu studi menunjukkan bahwa senyawa tertentu dalam rebung berpotensi mengganggu produksi hormon tiroid dan meningkatkan risiko gondok. Risiko-risiko ini bukan alasan untuk menghindari rebung, tetapi menjadi pengingat bahwa proses perebusan awal yang benar adalah langkah krusial sebelum mengonsumsinya.

Profesor Lee Smith, penulis senior studi ini, menekankan bahwa bambu memiliki potensi besar sebagai pangan sehat dan berkelanjutan di tingkat global asalkan diolah dengan benar. Menurutnya, berbagai manfaat kesehatan yang teridentifikasi, termasuk potensi membantu menghadapi tantangan modern seperti diabetes dan penyakit jantung, kemungkinan besar berasal dari kandungan nutrisi dan senyawa bioaktif dalam bambu.

Meski demikian, para peneliti juga bersikap realistis. Dari seluruh literatur yang ada, hanya empat studi pada manusia yang memenuhi kriteria ketat mereka. Artinya, rebung memang menjanjikan, tetapi uji klinis manusia berskala besar dan berkualitas tinggi masih sangat dibutuhkan sebelum rekomendasi kesehatan yang lebih pasti dapat diberikan.

Referensi

Damiano Pizzol et al., “Bamboo Consumption and Health Outcomes: A Systematic Review and Call to Action,” Advances in Bamboo Science 13 (November 1, 2025): 100210, https://doi.org/10.1016/j.bamboo.2025.100210.

"This Unexpected Plant Could Be the Next “Superfood” SciTechDaily. Diakses Januari 2026.

Editorial Team