Indonesia tengah menghadapi krisis kesehatan yang tumbuh perlahan, tetapi dampaknya makin terasa. Makanan dan minuman ultraproses—yang tinggi gula, garam, lemak jenuh, dan lemak trans—kini mendominasi pasokan pangan nasional. Minuman berpemanis, camilan gurih, hingga mi instan makin digemari karena harganya terjangkau, mudah didapat, dan dipromosikan secara agresif.
Namun, di balik itu tersembunyi konsekuensi kesehatan. Faktor risiko pola makan kini menjadi penyumbang kematian dan disabilitas terbesar ketiga di Indonesia. Lebih dari separuh kematian akibat penyakit jantung berkaitan dengan pola makan tidak sehat. Sekitar sepertiga kematian akibat stroke dan hampir seperlima kematian karena diabetes juga berakar dari kebiasaan makan yang buruk.
Dalam satu dekade terakhir, prevalensi obesitas dewasa melonjak dari 15,4 persen menjadi 23,4 persen. Hampir 1 dari 5 remaja kini mengalami kelebihan berat badan. Yang lebih mengkhawatirkan, hampir separuh penduduk berusia di atas 3 tahun mengonsumsi lebih dari satu minuman berpemanis setiap hari, sementara hanya 3,3 persen penduduk usia lima tahun ke atas yang mengonsumsi minimal lima porsi buah dan sayur per hari sesuai rekomendasi, mengutip rilis Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
