Peningkatan risiko sebesar 28 persen mungkin terdengar signifikan, tetapi dalam praktiknya, faktor lain jauh lebih berpengaruh.
Misalnya, konsumsi daging olahan sekitar 50 gram per hari dapat meningkatkan risiko diabetes hingga 37 persen, sementara gaya hidup sedentari bahkan bisa meningkatkan risiko lebih dari 100 persen.
Dengan kata lain, gaya hidup tetap menjadi faktor dominan. Pola makan, aktivitas fisik, dan berat badan memiliki dampak yang jauh lebih besar dibanding golongan darah.
Namun, informasi ini tetap relevan. Bagi individu dengan golongan darah B, temuan ini bisa menjadi pengingat tambahan untuk lebih waspada terhadap faktor risiko yang bisa dikendalikan.
Temuan bahwa golongan darah B memiliki risiko lebih tinggi terhadap diabetes tipe 2 membuka perspektif baru dalam memahami kesehatan. Ini menunjukkan bahwa faktor biologis yang tampak sederhana bisa memiliki implikasi yang lebih luas.
Namun, penting untuk menempatkan temuan ini dalam konteks yang tepat. Golongan darah bukan takdir. Risiko terbesar tetap datang dari faktor yang bisa diubah sehingga kamu bisa memodifikasinya sejak hari ini. Mengetahui informasi ini dapat membantu kamu mengambil keputusan yang lebih sadar dan terarah.
Referensi
Fang-Hua Liu et al., “ABO And Rhesus Blood Groups and Multiple Health Outcomes: An Umbrella Review of Systematic Reviews With Meta-analyses of Observational Studies,” BMC Medicine 22, no. 1 (May 20, 2024): 206, https://doi.org/10.1186/s12916-024-03423-x.
James B. Meigs, “The Genetic Epidemiology of Type 2 Diabetes: Opportunities for Health Translation,” Current Diabetes Reports 19, no. 8 (July 22, 2019): 62, https://doi.org/10.1007/s11892-019-1173-y.
Sylvia H Ley et al., “Prevention and Management of Type 2 Diabetes: Dietary Components and Nutritional Strategies,” The Lancet 383, no. 9933 (June 1, 2014): 1999–2007, https://doi.org/10.1016/s0140-6736(14)60613-9.