“Type 2 Diabetes”. Diakses pada Januari 2026. Centers for Disease Control and Prevention (CDC).
Kunarathnam, Vithura, Elsa S. Vadakekut, and Heba Mahdy. “Gestational Diabetes.” StatPearls - NCBI Bookshelf, September 15, 2025.
Ali, Omar. “Genetics of Type 2 Diabetes.” World Journal of Diabetes 4, no. 4 (January 1, 2013): 114.
Jiang, Kai, Hong Luan, Xiaolu Pu, Mingxiang Wang, Jiahui Yin, and Rongpeng Gong. “Association Between Visceral Adiposity Index and Insulin Resistance: A Cross-Sectional Study Based on US Adults.” Frontiers in Endocrinology 13 (July 22, 2022): 921067.
Mitos atau Fakta: Diabetes Hanya Menyerang Orang Gemuk

Diabetes tidak hanya menyerang orang gemuk; orang dengan berat badan normal pun bisa mengalaminya karena faktor genetik, pola makan, dan gaya hidup turut memengaruhi sensitivitas insulin tubuh.
Penyakit ini dapat muncul di berbagai usia, termasuk remaja dan dewasa muda, akibat kebiasaan kurang gerak, konsumsi makanan tinggi gula, serta riwayat keluarga dengan diabetes.
Pencegahan efektif dilakukan lewat pola hidup sehat seperti rutin berolahraga, menjaga pola makan seimbang, berhenti merokok, dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Masih banyak yang percaya bahwa diabetes hanya menyerang orang yang berat badannya berlebih. Akibatnya, orang dengan berat badan dalam rentang normal sering merasa aman sehingga jarang memeriksa kadar gula darah.
Faktanya, diabetes tidak memilih bentuk tubuh. Penyakit ini terjadi ketika tubuh tidak dapat menggunakan insulin secara efektif atau tidak memproduksi insulin yang cukup. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti gaya hidup, riwayat keluarga, pola makan, hingga aktivitas fisik.
Memahami diabetes dari sudut pandang medis penting agar kita tidak terjebak pada anggapan yang keliru.
Table of Content
1. Diabetes juga bisa terjadi pada orang dengan berat badan normal
Memiliki berat badan berlebih adalah salah satu faktor risiko utama diabetes tipe 2. Penumpukan lemak tubuh, terutama di area perut, dapat menyebabkan resistensi insulin sehingga kadar gula darah lebih mudah meningkat. Namun, seseorang yang terlihat kurus atau memiliki berat badan normal tetap bisa mengidap diabetes.
Data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menunjukkan sekitar 10 persen pasien diabetes tipe 2 berada pada kategori berat badan normal. Ini menegaskan bahwa diabetes dipengaruhi oleh banyak faktor, bukan cuma kegemukan. Justru salah satu gejala diabetes adalah penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas.
Anggapan bahwa orang kurus otomatis aman dari diabetes adalah mitos yang menyesatkan. Risiko tetap meningkat jika disertai faktor lain seperti faktor genetik, pola makan tinggi gula dan karbohidrat olahan, serta gaya hidup kurang aktif, yang semuanya dapat mengganggu sensitivitas insulin dalam tubuh.
2. Risiko diabetes bisa muncul pada usia berapa pun

Diabetes tipe 2 dulunya sering dianggap sebagai penyakit usia lanjut. Namun, pola ini mulai berubah dalam beberapa dekade terakhir. Perubahan gaya hidup modern membuat diabetes makin sering didiagnosis pada usia yang lebih muda.
Minim aktivitas fisik, kebiasaan duduk terlalu lama, sering mengonsumsi makanan ultraproses serta minuman tinggi gula berkontribusi terhadap meningkatnya gangguan metabolik. Bahkan, diabetes kini tak jarang ditemukan pada remaja dan dewasa muda.
Risiko juga meningkat jika ada riwayat keluarga dengan diabetes, pernah mengalami prediabetes, atau memiliki riwayat diabetes saat kehamilan. Perempuan yang pernah melahirkan bayi dengan berat lahir besar juga kemungkinannya lebih tinggi mengalami diabetes di kemudian hari.
Perkembangan penyakit ini sering berlangsung perlahan tanpa gejala yang jelas, sehingga pemeriksaan rutin tetap penting meski kamu merasa sehat.
3. Pola hidup sehat berperan besar dalam pencegahan diabetes
Kabar baiknya, sebagian besar kasus diabetes tipe 2 dapat dicegah atau setidaknya ditunda dengan perubahan gaya hidup. Pendekatan ini terbukti efektif dalam berbagai penelitian.
Aktivitas fisik secara teratur membantu meningkatkan sensitivitas insulin sehingga tubuh dapat menggunakan gula darah dengan lebih efisien. Rekomendasi umum adalah melakukan aktivitas fisik intensitas sedang setidaknya 150 menit setiap minggu.
Contoh mudahnya, kamu bisa jalan kaki 30 menit x 5 hari, atau 50 menit x 3 hari. Tambahkan latihan penguatan otot minimal dua kali seminggu.
Pola makan juga memiliki pengaruh besar. Konsumsi makanan yang kaya akan serat seperti sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh dapat membantu menjaga keseimbangan metabolisme. Sebaliknya, makanan tinggi gula tambahan dan karbohidrat olahan sebaiknya dibatasi.
Selain itu, berhenti merokok dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala juga tak kalah penting. Pemeriksaan gula darah, tekanan darah, dan kolesterol dapat membantu mendeteksi gangguan metabolik lebih awal sebelum berkembang menjadi penyakit yang lebih serius.
Dengan langkah-langkah sederhana namun konsisten, risiko diabetes dapat ditekan secara signifikan.
Sebagai kesimpulan, anggapan bahwa diabetes hanya menyerang orang dengan berat badan berlebih adalah sebuah mitos. Penyakit ini dapat terjadi pada siapa saja dengan berbagai faktor risiko. Memahami fakta ini penting agar kamu tidak lengah dan lebih peka terhadap sinyal tubuh. Dengan menerapkan pola hidup sehat secara konsisten, risiko diabetes dapat ditekan sejak dini, apa pun bentuk tubuh kamu.
Referensi





![[QUIZ] Dari Minuman yang Kamu Pilih saat Haus, Ini Kondisi Hidrasi Tubuhmu](https://image.idntimes.com/post/20250329/pexels-sab-wang-62948913-31260165-ca1834d54993c733222d325499cbe090-de8e39a045e8d65df35c7aa77b9b5105.jpg)












![[QUIZ] Pilih Menu Daging Sapi Favoritmu, Kami Tebak Kepribadianmu](https://image.idntimes.com/post/20240909/nita-anggraeni-goenawan-9tuldya614i-unsplash-821ce2475cd585cc2e4fd266e0d41fa4.jpg)