Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi campak pada anak kecil (commons.wikimedia.org/CDC)
ilustrasi campak pada anak kecil (commons.wikimedia.org/CDC)

Intinya sih...

  • Sumenep mencatat 2.996 kasus suspek dan 205 kasus terkonfirmasi campak pada 2025.

  • Cakupan imunisasi melonjak hingga 96,1 persen setelah respons terkoordinasi lintas sektor.

  • Penguatan surveilans, investigasi epidemiologi, dan edukasi publik jadi kunci memutus penularan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Agustus 2025 menjadi titik genting bagi Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Di ujung timur Pulau Madura itu, angka kasus campak melonjak cepat hingga ditetapkan status kejadian luar biasa (KLB). Keterlambatan deteksi, cakupan imunisasi yang rendah, serta keraguan masyarakat terhadap vaksin membuat ribuan anak berisiko. Dalam waktu singkat, tercatat 2.996 kasus suspek dan 205 kasus terkonfirmasi.

Campak bukan sekadar penyakit dengan ruam dan demam. Campak adalah salah satu penyakit paling menular di dunia, dengan risiko komplikasi serius seperti pneumonia, diare berat, hingga ensefalitis—terutama pada anak-anak yang belum divaksinasi. Tanpa perlindungan imunisasi, satu kasus dapat menular ke 12–18 orang lain dalam populasi yang rentan.

Apa yang terjadi di Sumenep ini juga terjadi beberapa negara lain, menggambarkan cakupan imunisasi yang menurun sehingga wabah mudah terjadi.

Data WHO dan UNICEF menunjukkan bahwa gangguan layanan kesehatan dan keraguan vaksin dalam beberapa tahun terakhir telah memicu peningkatan kasus campak di berbagai negara. Tantangannya sering kali bukan cuma ketersediaan vaksin, tetapi juga kepercayaan publik dan kecepatan respons sistem kesehatan.

Respons terpadu hingga akhirnya status KLB dicabut

ilustrasi vaksinasi MMR pada anak (commons.wikimedia.org/SELF Magazine)

Menghadapi lonjakan kasus, respons cepat dilakukan. WHO bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep memperkuat investigasi KLB, meningkatkan surveilans, dan mempercepat imunisasi. Tim melakukan analisis akar masalah, investigasi epidemiologi, serta advokasi dengan tokoh-tokoh kunci setempat.

Pendekatan ini tidak berhenti di ruang rapat. Sesi informasi dan diskusi kelompok terfokus digelar bersama tiga rumah sakit dan para kepala puskesmas untuk memastikan koordinasi lintas sektor berjalan efektif.

WHO juga melakukan supervisi langsung terhadap pelaksanaan imunisasi respons KLB, memberikan pelatihan di tempat kerja bagi tenaga kesehatan, serta memperkuat sistem pencatatan dan pelaporan kasus.

Hasilnya nyata. Cakupan imunisasi meningkat hingga 96,1 persen. Dengan deteksi kasus yang lebih cepat, pelacakan kontak yang lebih baik, serta kampanye imunisasi terarah di komunitas, rantai penularan berhasil diputus dan status KLB resmi dicabut.

Respons di Sumenep menunjukkan bahwa KLB bisa dihentikan ketika surveilans kuat, komunikasi publik berjalan, dan imunisasi diprioritaskan. Pelajaran penting lainnya, bahwa perlindungan anak-anak bukan hanya soal ketersediaan vaksin, tetapi juga tentang kolaborasi, kepercayaan, dan kecepatan bertindak.

Referensi

“Measles.” World Health Organization (WHO). Diakses Februari 2026.

“Progress and Challenges with Achieving Universal Immunization Coverage.” World Health Organization & UNICEF. Diakses Februari 2026.

"Sumenep Berhasil Mengakhiri KLB Campak." WHO. Diakses Februari 2026.

Editorial Team