Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Teh atau Kopi? Pilihanmu Bisa Pengaruhi Risiko Osteoporosis
ilustrasi seorang perempuan me-time menikmati teh hangat (pexels.com/Anna Pou)
  • Studi Flinders University meneliti hampir 10.000 perempuan lanjut usia selama satu dekade untuk melihat hubungan konsumsi teh dan kopi terhadap kepadatan mineral tulang.
  • Hasilnya, peminum teh rutin memiliki kepadatan tulang pinggul sedikit lebih tinggi, sedangkan konsumsi kopi berlebihan di atas lima cangkir per hari dikaitkan dengan penurunan kepadatan tulang.
  • Peneliti menegaskan kesehatan tulang dipengaruhi banyak faktor seperti asupan kalsium, vitamin D, olahraga beban, tidur cukup, serta gaya hidup sehat secara keseluruhan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Studi dari Flinders University ini memberikan pandangan positif bahwa kebiasaan sederhana seperti minum teh dapat berkontribusi pada kepadatan tulang yang sedikit lebih baik, terutama di area pinggul. Penelitian jangka panjang dan metode pengukuran akurat memperkuat temuan ini, sekaligus menunjukkan bahwa konsumsi kopi dalam jumlah moderat tetap aman sebagai bagian dari gaya hidup sehat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Teh dan kopi adalah bagian dari rutinitas harian banyak orang. Ada yang lebih senang memulai hari dengan kopi, ada juga yang memilih teh untuk menenangkan diri di sela aktivitas. Namun, ternyata pilihan antara kopi atau teh ini bisa memengaruhi kesehatan tulang seiring bertambahnya usia, lho.

Sebuah studi besar dari Flinders University, Australia, yang dipublikasikan dalam jurnal Nutrients mencoba menjawab pertanyaan apakah teh dan kopi membantu atau justru berisiko buat tulang?

Penelitian ini melibatkan hampir 10.000 perempuan lanjut usia dan mengikuti mereka selama sekitar satu dekade. Fokus utamanya adalah melihat hubungan antara konsumsi teh, kopi, dan kepadatan mineral tulang atau bone mineral density (BMD) atau kepadatan mineral tulang.

Topik ini penting karena osteoporosis masih menjadi masalah kesehatan global yang besar, terutama pada perempuan pascamenopause. Diperkirakan sekitar satu dari tiga perempuan di atas usia 50 tahun mengalami patah tulang akibat osteoporosis. Tulang pinggul menjadi salah satu area yang paling berbahaya karena patah tulang di area ini dapat menurunkan mobilitas, memperpanjang masa pemulihan, bahkan meningkatkan risiko komplikasi kesehatan serius.

Teh dan kopi tidak memberikan efek yang sama

Salah satu kekuatan studi ini adalah metode pengumpulan datanya. Berbeda dari penelitian lama yang hanya menanyakan pola makan sekali, studi ini terus memantau kebiasaan minum teh dan kopi serta perubahan kepadatan tulang selama bertahun-tahun.

Para peneliti menggunakan pemeriksaan DXA scan, metode standar yang digunakan untuk menilai osteoporosis dan mengukur kepadatan tulang secara akurat.

  • Peminum teh memiliki kepadatan tulang yang sedikit lebih baik

Perempuan yang rutin minum teh memiliki kepadatan tulang pinggul sedikit lebih tinggi dibanding mereka yang tidak minum teh.

Secara individual perbedaannya memang kecil, yaitu sekitar 0,003 g/cm². Namun, para peneliti menekankan bahwa perubahan kecil pada populasi besar tetap dapat berdampak berarti terhadap angka patah tulang.

Menurut Associate Professor Enwu Liu dari Flinders University, bahkan peningkatan kecil dalam kepadatan tulang bisa membantu mengurangi jumlah patah tulang jika terjadi pada banyak orang.

  • Untuk kopi, temuannya lebih rumit

Menurut temuan studi ini, efek dari kopi tidak sesederhana teh. Konsumsi moderat, sekitar dua hingga tiga cangkir per hari tidak terlihat berdampak buruk pada tulang. Namun, ketika konsumsi meningkat menjadi lebih dari lima cangkir per hari, peneliti mulai melihat hubungan dengan kepadatan tulang yang lebih rendah.

Salah satu penjelasan yang diduga berkaitan dengan kandungan kafein.

Dalam beberapa penelitian laboratorium, kafein diketahui dapat:

  • Sedikit mengganggu penyerapan kalsium.

  • Memengaruhi metabolisme tulang.

  • Meningkatkan pengeluaran kalsium melalui urine.

Namun, efek ini sebenarnya relatif kecil dan bisa dipengaruhi banyak faktor lain, termasuk pola makan seseorang.

Para peneliti juga menyebut bahwa menambahkan susu ke kopi dapat membantu mengimbangi sebagian efek tersebut karena menambah asupan kalsium.

  • Alkohol bisa memperburuk dampaknya

Temuan lain yang menarik adalah hubungan antara kopi dan tulang tampak lebih negatif pada perempuan dengan konsumsi alkohol lebih tinggi sepanjang hidup mereka.

Artinya, efek kesehatan tulang kemungkinan bukan berasal dari satu faktor tunggal, tetapi kombinasi berbagai kebiasaan dan kondisi tubuh.

Sementara itu, manfaat teh tampak lebih jelas pada perempuan dengan obesitas. Peneliti masih memerlukan studi lanjutan untuk memahami mengapa hal ini bisa terjadi.

Faktor yang jauh lebih penting untuk tulang

ilustrasi latihan beban untuk mencegah osteoporosis (pexels.com/ALTEREDSNAPS)

Para peneliti menegaskan, hasil studi ini bukan berarti semua orang harus berhenti minum kopi. Faktanya, sebagian besar penelitian modern menunjukkan konsumsi kopi dalam jumlah moderat masih bisa menjadi bagian dari pola hidup sehat bagi banyak orang.

Masalah mulai muncul ketika kamu minum kopi terlalu banyak atau sering, pola makan buruk, kurang atau tidak berolahaga, merokok, atau asupan kalsium tidak mencukupi. Karena itu, kesehatan tulang tidak cuma ditentukan oleh sekadar memilih kopi atau teh.

Faktor utama dalam menjaga tetap kuat dan sehat meliputi:

  • Asupan kalsium cukup.

  • Vitamin D.

  • Latihan beban atau resistance training.

  • Aktivitas fisik rutin.

  • Tidur cukup.

  • Tidak merokok.

  • Menjaga massa otot.

Tulang terus mengalami proses pembentukan dan penghancuran sepanjang hidup. Seiring bertambah usia, terutama setelah menopause, proses penghancuran tulang bisa berlangsung lebih cepat daripada pembentukannya. Itulah sebabnya gaya hidup sehari-hari sangat berpengaruh terhadap risiko osteoporosis jangka panjang.

Referensi

Ryan Yan Liu and Enwu Liu, “Longitudinal Association of Coffee and Tea Consumption With Bone Mineral Density in Older Women: A 10-Year Repeated-Measures Analysis in the Study of Osteoporotic Fractures,” Nutrients 17, no. 23 (November 23, 2025): 3660, https://doi.org/10.3390/nu17233660.

International Osteoporosis Foundation. “Osteoporosis Facts and Statistics.” Diakses Mei 2026.

National Institute on Aging. “Osteoporosis.” Diakses Mei 2026.

R.P Heaney, “Effects of Caffeine on Bone and the Calcium Economy,” Food and Chemical Toxicology 40, no. 9 (September 1, 2002): 1263–70, https://doi.org/10.1016/s0278-6915(02)00094-7.

Katherine L Tucker et al., “Bone Mineral Density and Dietary Patterns in Older Adults: The Framingham Osteoporosis Study,,” American Journal of Clinical Nutrition 76, no. 1 (July 1, 2002): 245–52, https://doi.org/10.1093/ajcn/76.1.245.

Editorial Team