Transplantasi ginjal telah menjadi terapi penyelamat nyawa bagi pasien penyakit ginjal sejak tahun 1950-an. Namun, hingga kini, prosedur ini masih sangat bergantung pada kecocokan golongan darah antara donor dan penerima. Ketidaksesuaian sedikit saja dapat memicu reaksi imun yang berujung pada penolakan organ.
Manusia memiliki empat golongan darah utama—A, B, AB, dan O—yang dibedakan oleh keberadaan antigen tertentu pada permukaan sel. Antigen inilah yang dapat “dibaca” sistem imun sebagai ancaman. Golongan darah O tidak memiliki antigen A maupun B, sehingga dianggap sebagai donor universal, tetapi justru penerima dengan golongan darah O hanya bisa menerima organ dari sesama O.
Konsekuensinya sangat besar. Pasien bergolongan darah O mencakup lebih dari 50 persen daftar tunggu transplantasi, dan rata-rata harus menunggu 2–4 tahun lebih lama dibanding golongan darah lain. Hambatan ini membuat ribuan pasien kehabisan waktu sebelum organ yang cocok tersedia.
