Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Calcium score/coronary artery aalcium (CAC) score dengan CT scan.
ilustrasi calcium score/coronary artery aalcium (CAC) score dengan CT scan (freepik.com/freepik)

Intinya sih...

  • Tes calcium score adalah pemeriksaan CT yang mengukur penumpukan kalsium pada arteri koroner, menggambarkan risiko penyakit jantung koroner.

  • Skor kalsium yang lebih tinggi berkaitan erat dengan peningkatan risiko serangan jantung dan kejadian kardiovaskular di masa depan.

  • Tes ini bukan diagnosis final, tetapi alat penilaian risiko komplementer yang membantu dokter memutuskan pemeriksaan lanjutan atau strategi pencegahan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bicara tentang kesehatan jantung, banyak yang langsung terpikir tentang gejala nyeri dada, sesak napas, atau serangan jantung. Padahal, proses yang menyebabkan gejala-gejala tersebut sering dimulai diam-diam bertahun-tahun sebelumnya, melalui penumpukan plak (aterosklerosis) di pembuluh darah yang menyuplai jantung.

Proses pembentukan plak ini umumnya tidak menimbulkan gejala awal yang jelas, sehingga deteksi dini menjadi tantangan tersendiri. Di sinilah tes calcium score jantung berperan untuk menilai risiko berdasarkan bukti nyata perubahan di pembuluh darah koroner sebelum munculnya gejala klinis.

Pemeriksaan ini makin diperhatikan karena mampu memberi gambaran lebih konkret tentang kondisi arteri jantung dibanding sekadar pengukuran faktor risiko tradisional seperti kolesterol atau tekanan darah. Dengan calcium score, angka yang dihasilkan mencerminkan berapa banyak kalsium yang menumpuk, indikasi proses aterosklerosis sedang terjadi atau telah berlangsung.

1. Apa itu tes calcium score?

Tes coronary artery aalcium (CAC) score adalah pemeriksaan pencitraan noninvasif menggunakan CT scan untuk mengukur jumlah kalsium yang menumpuk di dinding arteri koroner, pembuluh darah yang memberi suplai darah kaya akan oksigen ke otot jantung.

Kalsium sendiri bukan penyebab langsung penyakit jantung, tetapi keberadaannya menunjukkan plak aterosklerotik yang terbentuk akibat penumpukan lemak, kolesterol, dan zat lain di dinding pembuluh. Dengan menghitung jumlah kalsium itu, dokter mendapatkan angka yang disebut skor Agatston, yang kemudian menjadi tolok ukur tingkat risiko.

Skor ini memberikan gambaran apakah arteri koroner masih cukup bersih (skor rendah atau nol) atau sudah menunjukkan tanda-tanda penumpukan plak (skor tinggi), yang bisa meningkatkan risiko kejadian kardiovaskular seperti serangan jantung di masa depan.

2. Mengapa calcium score penting untuk kesehatan jantung?

Calcium score penting karena tes ini melampaui faktor risiko tradisional dan memberi bukti langsung dari kondisi arteri. Studi besar menyatakan bahwa skor kalsium koroner adalah prediktor kuat independen untuk kejadian penyakit jantung koroner dan penyakit kardiovaskular lain.

Riset yang mengikutsertakan ribuan orang menunjukkan, makin tinggi skor kalsium maka risiko penyakit jantung koroner dan kejadian kardiovaskular meningkat secara signifikan. Kelompok dengan skor tinggi menunjukkan risiko lebih besar dibanding mereka dengan skor nol.

Selain itu, menurut laporan riset lain, pemeriksaan CAC juga dapat membantu mengidentifikasi pasien dengan risiko sangat rendah, yang mungkin bisa menghindari pemeriksaan invasif atau intensifikasi terapi yang tidak perlu.

3. Siapa saja yang dianjurkan menjalani pemeriksaan calcium score?

ilustrasi konsultasi dokter (freepik.com/stefamerpik)

Tes calcium score tidak dianjurkan untuk semua orang tanpa pertimbangan klinis. Biasanya, pemeriksaan ini direkomendasikan oleh dokter untuk:

  • Individu tanpa gejala tetapi memiliki risiko kardiovaskular menengah berdasarkan perhitungan risiko standar (misalnya usia, tekanan darah, kolesterol, dan riwayat keluarga).

  • Mereka yang memiliki faktor risiko signifikan seperti merokok, hipertensi, diabetes, atau kolesterol tinggi.

  • Orang yang ingin informasi lebih detail untuk menyesuaikan pencegahan primer, misalnya keputusan memulai terapi statin atau aspirin setelah diskusi dengan dokter.

Tes ini biasanya tidak direkomendasikan secara rutin untuk semua orang, tetapi dipilih berdasarkan kebutuhan klinis dan hasil diskusi risiko dengan tenaga kesehatan

4. Prosedur pemeriksaan

Pemeriksaan calcium score dilakukan dengan CT scan tanpa kontras, artinya tidak perlu suntik zat kontras khusus ke dalam pembuluh darah.

Prosedurnya cepat dan relatif sederhana:

  1. Kamu berbaring di meja CT scan.

  2. CT melakukan pemindaian jantung dalam hitungan menit.

  3. Selama pemindaian, kamu biasanya diminta untuk menahan napas singkat agar gambar lebih jelas.

  4. Gambar kemudian dianalisis untuk menghitung skor Agatston yang mencerminkan jumlah kalsium di arteri koroner.

Karena pemeriksaan ini tidak menggunakan kontras dan memiliki dosis radiasi yang rendah, banyak dokter melihatnya sebagai pemeriksaan skrining yang aman dan nyaman jika dijalankan sesuai indikasi.

5. Memahami hasil calcium score

ilustrasi hasil calcium score (pmc.ncbi.nlm.nih.gov/doi: 10.1161/JAHA.120.018172)

Hasil tes ditampilkan sebagai angka skor berdasarkan jumlah penumpukan kalsium:

  • Skor 0: Tidak ditemukan kalsium, artinya risiko penyakit jantung koroner dalam beberapa tahun mendatang relatif rendah.

  • Skor 1–99: Menandakan adanya kalkifikasi ringan dan plak awal, yang artinya perlu perhatian terhadap faktor risiko.

  • Skor 100–399: Menunjukkan plak yang lebih signifikan, yang artinya risiko kejadian kardiovaskular meningkat.

  • Skor ≥400: Menandakan penumpukan plak yang tinggi, berkaitan dengan risiko penyakit jantung yang lebih serius.

Namun, hasil ini bukan diagnosis mutlak penyakit jantung, melainkan alat penilaian risiko yang dipadukan dengan faktor klinis lain. Dokter akan menafsirkan skor ini bersama riwayat kesehatan, pemeriksaan lain, dan kondisi keseluruhan pasien.

6. Apakah pemeriksaan calcium score aman?

Secara umum, pemeriksaan calcium score aman dan noninvasif. Tes ini menggunakan CT scan tanpa kontras dengan dosis radiasi yang relatif rendah dibanding banyak pemeriksaan pencitraan lain.

Karena tidak melibatkan zat kontras, risiko reaksi alergi sangat kecil. Namun, seperti semua pemeriksaan medis lainnya, dokter tetap akan mempertimbangkan manfaat versus risiko, khususnya pada individu muda atau tanpa faktor risiko klinis yang kuat.

7. Perbedaan tes calcium score dengan pemeriksaan jantung lainnya

Seorang pria sedang melakukan pemeriksaan EKG. (pexels.com/ Los Muertos Crew)

Tes calcium score berbeda dari pemeriksaan jantung lain seperti:

  • CT angiografi koroner (CTCA): Memberi gambaran anatomis pembuluh darah, termasuk plak non kalsifikasi, tetapi biasanya menggunakan kontras dan radiasi lebih tinggi.

  • Elektrokardiogram (EKG): Menangkap aktivitas listrik jantung untuk mendeteksi aritmia atau iskemia, bukan plak.

  • Tes treadmill/stress test: Menilai fungsi jantung di bawah stres fisik, sering digunakan untuk melihat gejala klinis yang muncul saat aktivitas.

Calcium score menilai struktur arteri koroner secara langsung dan memberikan skor numerik yang dapat dikombinasikan dengan pemeriksaan lain untuk gambaran komprehensif kondisi jantung kamu. Ini menekankan bahwa tidak ada satu tes pun yang sempurna, dan pendekatan komprehensif sering kali diperlukan.

8. Kapan sebaiknya melakukan pemeriksaan calcium score?

Berdasarkan bukti klinis, waktu yang tepat untuk mempertimbangkan tes calcium score adalah ketika seseorang telah melalui skrining risiko kardiovaskular dasar dan masih berada dalam kategori risiko menengah, atau ketika faktor risiko seperti usia, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, atau riwayat keluarga menjadi perhatian.

Dokter mungkin juga merekomendasikannya pada usia tertentu (misalnya pada dekade 40–70 tahun) untuk membantu mempersonalisasi strategi pencegahan dan terapi sebelum timbul gejala.

9. Peran calcium score dalam perencanaan perawatan jantung

Hasil calcium score dapat membantu dokter menentukan apakah perlu memulai terapi pencegahan tertentu seperti obat penurun kolesterol, modifikasi gaya hidup, atau tes lanjutan seperti CTCA atau stress test.

Tes ini juga membantu kamu memahami kondisi jantungnya sendiri. Angka skor yang konkret sering kali mendorong perubahan gaya hidup, seperti berhenti merokok, mengatur diet, atau meningkatkan aktivitas fisik untuk sumber risiko yang lebih rendah.

Tes calcium score jantung bukan sekadar angka di layar komputer. Ini adalah salah satu alat paling kuat saat ini untuk menilai risiko aterosklerosis koroner secara noninvasif, bahkan sebelum gejala muncul. Ketika dikombinasikan dengan faktor risiko klinis lainnya, skor ini membantu dokter dan pasien membuat keputusan berdasarkan data nyata tentang kondisi pembuluh darah jantung.

Hasil yang baik bisa memberikan ketenangan batin, sementara angka yang lebih tinggi bisa menjadi panggilan untuk mengambil tindakan pencegahan yang lebih tegas, baik melalui terapi medis maupun perubahan gaya hidup. Tidak ada tes yang menyelesaikan semuanya, tetapi tes ini membuka jendela yang lebih jelas tentang kesehatan jantung kamu.

Penting juga diingat bahwa pemeriksaan calcium score sebaiknya dibahas bersama dokter sebagai bagian dari strategi pencegahan jantung yang lebih luas, bukan sebagai keputusan tunggal. Pendekatan komprehensif sering kali memberi gambaran paling akurat tentang risiko dan langkah yang tepat untuk setiap individu.

Referensi

Parth Parikh et al., “Coronary Artery Calcium Scoring: Its Practicality and Clinical Utility in Primary Care,” Cleveland Clinic Journal of Medicine 85, no. 9 (September 1, 2018): 707–16, https://doi.org/10.3949/ccjm.85a.17097.

Enrico Schwarz et al., “Coronary Calcium Scoring as Prediction of Coronary Artery Diseases With Low-Dose Dual-Source CT,” Journal of Cardiovascular Development and Disease 12, no. 11 (October 27, 2025): 425, https://doi.org/10.3390/jcdd12110425.

"Coronary artery calcium score predictive of heart attacks, strokes." ScienceDaily. Diakses Januari 2026.

Kai Sun, “Predictive Value of Coronary Artery Calcium Score in Cardiovascular Disease,” Frontiers in Bioscience-Elite 12, no. 1 (October 5, 2019): 113–25, https://doi.org/10.2741/e861.

Editorial Team