ilustrasi lansia (pexels.com/Tristan Le)
Sementara hasil penelitian ini membuka wawasan baru terhadap hubungan antara tidur dan demensia, tetapi ada beberapa kekurangan yang perlu diketahui. Pertama, hasil studi ini tak menunjukkan kausalitas, terutama mengapa perbedaan terkait usia dan gender bisa berpengaruh terhadap hasil kognitif.
Studi ini tidak mempertimbangkan gejala terkait mood dan/atau aktivitas tidur siang yang umum di kalangan penduduk pedesaan China. Selain itu, studi ini mengandalkan pelaporan mandiri, sehingga ada risiko kesalahan data. Karena studi ini melibatkan hanya satu daerah, peneliti menekankan untuk tidak memukulratakan hasil dengan populasi lain.
Para peneliti berharap temuan ini bisa menjadi pengetahuan untuk penduduk pedesaan China dengan status sosial ekonomi rendah dan membantu tenaga kesehatan memantau lansia laki-laki berusia 60–74 tahun dengan TIB tinggi. Lalu, bagaimana dengan penelitian selanjutnya?
"Studi intervensi di masa depan bisa membantu menjelaskan apakah mengurangi TIB dan menunda waktu tidur bisa memperlambat penurunan kognitif dan memperpanjang munculnya gejala demensia di kalangan dewasa tua," tulis para peneliti.