Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kelelawar buah yang termasuk ke dalam famili Pteropodidae sebagai host alamiah virus Nipah.
ilustrasi kelelawar buah yang termasuk ke dalam famili Pteropodidae sebagai host alamiah virus Nipah (flickr.com/ANDREA JANDA)

Intinya sih...

  • Penularan utama virus Nipah terjadi melalui kontak dengan reservoir hewan (kelelawar) dan makanan yang terkontaminasi.

  • Beberapa tradisi konsumsi, terutama di Asia Selatan, telah diidentifikasi sebagai jalur pertama masuknya virus dari hewan ke manusia.

  • Memahami hubungan antara budaya konsumsi dan penularan virus Nipah dapat membantu strategi pencegahan yang lebih efektif tanpa menghakimi praktik tradisional masyarakat.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Virus Nipah (NiV) dikenal sebagai patogen zoonosis, yaitu penyakit yang berpindah dari hewan ke manusia, yang pertama kali muncul di akhir 1990-an dalam wabah di Malaysia.

Wabah itu tidak hanya menyoroti ancaman virus itu sendiri, tetapi juga cara kehidupan manusia berinteraksi dengan lingkungan alami di sekitarnya. Patogen ini terutama dibawa oleh kelelawar buah dari genus Pteropus, yang menjadi reservoir alami virus dan menyebarkannya melalui urine, air liur, dan kotoran mereka.

Salah satu jalur utama penularan dari hewan ke manusia yang paling sering terjadi di Asia Selatan, khususnya di Bangladesh, adalah melalui konsumsi makanan yang telah tercemar oleh kelelawar. Selama musim tertentu, masyarakat mengumpulkan getah pohon kurma (date palm sap) yang dipanen secara tradisional pada malam hari. Karena getah ini mudah diakses oleh kelelawar saat mengalir ke wadah penampung, virus dari air liur atau urine hewan dapat mencemari bahan makanan ini.

Tradisi ini adalah bagian dari pola makan dan budaya lokal yang turun-temurun. Data dari survei komunitas menunjukkan bahwa lebih dari 30 persen rumah tangga desa di Bangladesh menikmati getah kurma secara rutin, menunjukkan betapa luasnya praktik ini. Artinya, sementara risiko penularan di tingkat komunitas relatif rendah, tetapi paparan terjadi melalui praktik yang sangat normal dan bernilai budaya bagi banyak orang.

Tradisi turun-menurun menjadi pintu penularan virus Nipah

Transmisi dari kelelawar ke manusia melalui getah kurma mentah telah diidentifikasi sebagai jalur penularan utama di beberapa wabah infeksi virus Nipah di Bangladesh. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan studi epidemiologis menunjukkan bahwa hampir seperempat hingga setengah dari kasus primer di Bangladesh terkait langsung dengan konsumsi getah kurma ini saat masih mentah.

Proses pengumpulan getah itu sendiri melibatkan pengikatan pot tanah liat ke pohon kurma setelah pembersihan kulitnya. Selama proses ini pada malam hari, kelelawar sering turun untuk memakan bagian buah atau menjilat getah yang baru keluar, dan melalui urine maupun air liur mereka dapat mencemari getah tersebut. Ketika getah ini diminum mentah oleh manusia beberapa jam kemudian, itulah titik spillover (perpindahan virus dari hewan ke manusia)

Perlu dicatat, tidak semua getah yang dikumpulkan selalu tercemar, dan masyarakat juga memproses getah tersebut untuk membuat produk lain seperti toddy atau sirop manis. Kendati demikian, karena virus dapat bertahan beberapa waktu dalam lingkungan yang kaya akan gula, peluang paparan tetap nyata.

Ada juga keterlibatan perubahan lingkungan dan ekosistem alami

Pengumpulan getah pohon kurma. Getah pohon kurma (Khejur Rosh) adalah getah manis, bergula, dan kaya nutrisi yang dikumpulkan dari pohon kurma selama bulan-bulan musim dingin di Bangladesh dan Benggala Barat. (commons.wikimedia.org/Biswarup Ganguly)

Hubungan antara manusia, makanan, dan virus Nipah tidak hanya soal kebiasaan makan, melainkan juga soal perubahan lingkungan dan ekosistem alami.

Ketika habitat alami kelelawar terdesak oleh deforestasi atau perubahan penggunaan lahan, interaksi manusia-hewan menjadi lebih intens. Buah yang dihasilkan atau residu makanan yang jatuh dari pohon menjadi sumber bagi kelelawar yang mencari makan di daerah yang sama dengan aktivitas manusia.

Itu berarti, walaupun konsumsi tradisional adalah bagian dari budaya, tetapi perubahan pada pola lingkungan juga meningkatkan peluang transmisi dari kelelawar ke manusia. Pengetahuan tentang pola makan ini, dikombinasikan dengan pemahaman tentang bagaimana perubahan lingkungan mendorong kontak antara manusia dan reservoir hewan, menjelaskan mengapa virus Nipah muncul berkali-kali di kawasan tertentu seperti Bangladesh, India timur, dan bagian Asia Tenggara lainnya.

Langkah pencegahan

Untuk memutus rantai penularan, bukan berarti tradisi harus dihapuskan. Perlu adanya peningkatan kecerdasan risiko masyarakat terhadap jalur penularan yang mungkin terjadi.

WHO merekomendasikan beberapa langkah pencegahan yang memadukan nilai budaya dengan kesehatan publik:

  • Menjaga agar kelelawar tidak mengakses area pengumpulan getah dengan menggunakan pelindung atau penutup pada wadah pengumpul.

  • Memasak atau merebus getah sebelum dikonsumsi untuk membunuh virus.

  • Mencuci dan mengupas buah secara menyeluruh, serta menghindari konsumsi buah yang terlihat rusak atau digigit hewan.

Langkah-langkah ini menekankan bahwa pencegahan penularan virus Nipah bisa dilakukan tanpa harus melarang atau menghakimi praktik budaya.

Dari virus Nipah, kita belajar bahwa hubungan antara manusia, makanan, dan alam sangat kompleks. Tradisi turun-temurun yang tampak tidak berbahaya ternyata bisa menjadi jalur paparan zoonosis ketika kondisi ekologis berubah atau ketika hewan pembawa virus bercampur lebih dekat dengan aktivitas manusia.

Mempromosikan langkah-langkah pencegahan yang efektif tanpa menghilangkan praktik budaya dapat mengurangi peluang terjadinya penyebaran penyakit berbahaya ini.

Referensi

Stephen P. Luby, Emily S. Gurley, and M. Jahangir Hossain, “TRANSMISSION OF HUMAN INFECTION WITH NIPAH VIRUS,” Improving Food Safety Through a One Health Approach - NCBI Bookshelf, 2012, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK114486.

"Nipah Virus." WHO. Diakses Januari 2026.

Emily S Gurley et al., “Convergence of Humans, Bats, Trees, and Culture in Nipah Virus Transmission, Bangladesh,” Pmc.Ncbi.Nlm.Nih.Gov, September 1, 2017, https://doi.org/10.3201/eid2309.161922.

M. Saiful Islam et al., “Nipah Virus Transmission From Bats to Humans Associated With Drinking Traditional Liquor Made From Date Palm Sap, Bangladesh, 2011–2014,” Emerging Infectious Diseases 22, no. 4 (March 15, 2016): 664–70, https://doi.org/10.3201/eid2204.151747.

Joel M. Montgomery et al., “Risk Factors for Nipah Virus Encephalitis in Bangladesh1,” Emerging Infectious Diseases 14, no. 10 (October 1, 2008): 1526–32, https://doi.org/10.3201/eid1410.060507.

“About Nipah Virus.” Centers for Disease Control and Prevention. Diakses Januari 2026.

Editorial Team