Virus Nipah (NiV) dikenal sebagai patogen zoonosis, yaitu penyakit yang berpindah dari hewan ke manusia, yang pertama kali muncul di akhir 1990-an dalam wabah di Malaysia.
Wabah itu tidak hanya menyoroti ancaman virus itu sendiri, tetapi juga cara kehidupan manusia berinteraksi dengan lingkungan alami di sekitarnya. Patogen ini terutama dibawa oleh kelelawar buah dari genus Pteropus, yang menjadi reservoir alami virus dan menyebarkannya melalui urine, air liur, dan kotoran mereka.
Salah satu jalur utama penularan dari hewan ke manusia yang paling sering terjadi di Asia Selatan, khususnya di Bangladesh, adalah melalui konsumsi makanan yang telah tercemar oleh kelelawar. Selama musim tertentu, masyarakat mengumpulkan getah pohon kurma (date palm sap) yang dipanen secara tradisional pada malam hari. Karena getah ini mudah diakses oleh kelelawar saat mengalir ke wadah penampung, virus dari air liur atau urine hewan dapat mencemari bahan makanan ini.
Tradisi ini adalah bagian dari pola makan dan budaya lokal yang turun-temurun. Data dari survei komunitas menunjukkan bahwa lebih dari 30 persen rumah tangga desa di Bangladesh menikmati getah kurma secara rutin, menunjukkan betapa luasnya praktik ini. Artinya, sementara risiko penularan di tingkat komunitas relatif rendah, tetapi paparan terjadi melalui praktik yang sangat normal dan bernilai budaya bagi banyak orang.
