Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Bahaya Buah Bekas Gigitan Kelelawar, Jadi Jalur Penularan Virus Nipah

Ilustrasi kelelawar.
ilustrasi kelelawar (pixabay.com/Simon Berstecher)
Intinya sih...
  • Manusia dapat tertular virus Nipah melalui interaksi dengan hewan pembawa virus, terutama kelelawar buah, serta konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi cairan tubuh kelelawar.
  • Peran orang tua dan masyarakat menjadi kunci dalam memutus potensi rantai penularan penyakit zoonosis seperti virus Nipah dengan memastikan anak hanya mengonsumsi buah yang bersih dan membiasakan cuci tangan sebelum makan.
  • Penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) menjadi benteng pertama dalam mencegah penularan penyakit infeksi zoonosis, termasuk virus Nipah.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Virus Nipah (NiV) kembali menjadi perhatian karena termasuk penyakit zoonosis, yaitu infeksi yang dapat menular dari hewan ke manusia, dengan kelelawar buah sebagai reservoir alami utamanya.

Penularan dapat terjadi melalui hewan perantara seperti babi, kontak langsung dengan hewan terinfeksi, hingga konsumsi makanan atau buah yang terkontaminasi cairan tubuh hewan pembawa virus.

Penyakit ini menjadi perhatian serius karena tingkat kematiannya tinggi, diperkirakan berkisar 40–75 persen, serta hingga kini belum tersedia terapi spesifik maupun vaksin yang disetujui secara luas. Infeksi biasanya diawali gejala umum seperti demam dan nyeri tubuh, tetapi pada kasus berat dapat berkembang menjadi radang otak (ensefalitis) yang berpotensi fatal.

Table of Content

Manusia dapat tertular

Manusia dapat tertular

Ancaman virus Nipah kembali menjadi perhatian karena sifatnya sebagai penyakit zoonosis dengan tingkat kematian yang sangat tinggi. Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K) menegaskan bahwa penularan virus ini berkaitan erat dengan interaksi manusia dan hewan pembawa virus, terutama kelelawar buah.

"Virus Nipah, terutama berasal dari kelelawar, tetapi juga bisa menular melalui babi atau hewan ternak lain," ujarnya dalam media briefing virtual "Mengenal dan mewaspadai Nipah" pada Kamis (29/01/2026).

Manusia dapat tertular ketika mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi cairan tubuh kelelawar, seperti air liur, urine, atau kotoran. Infeksi dapat terjadi saat seseorang memakan buah atau minum nira yang terkontaminasi kelelawar yang terinfeksi.

Kondisi ini menjadi relevan dengan kebiasaan di masyarakat, terutama pada anak-anak yang kerap memakan buah jatuh atau buah yang tampak masih layak konsumsi meski sudah digigit hewan.

"Ada beberapa kebiasaan yang perlu diwaspadai. Misalnya, anak-anak kadang memakan buah yang sudah digigit atau bekas dimakan kelelawar. Jika kelelawar tersebut membawa virus Nipah, maka ini berpotensi menularkan penyakit ke manusia, termasuk anak-anak," jelas Dr. Piprim.

Upaya memutus potensi rantai penyebaran virus Nipah

Mengajarkan anak mencuci tangan.
ilustrasi mengajarkan anak mencuci tangan (freepik.com/freepik)

Peran orang tua dan masyarakat menjadi kunci dalam memutus potensi rantai penularan penyakit zoonosis, termasuk virus Nipah. Orang tua perlu memastikan anak hanya mengonsumsi buah yang bersih, tidak rusak, dan tidak menunjukkan bekas gigitan hewan, serta membiasakan cuci tangan sebelum makan.

"Kolaborasi antara orang tua dan tenaga kesehatan perlu ditingkatkan. Masyarakat juga perlu melaporkan jika ada kematian hewan liar atau hewan ternak secara tidak wajar. Hal ini membutuhkan perhatian bersama," kata Dr. Piprim.

Di sisi lain, kewaspadaan masyarakat juga penting melalui pengamatan lingkungan sekitar, termasuk segera melaporkan jika ditemukan kematian hewan liar atau ternak secara mendadak dan tidak wajar kepada otoritas terkait.

Pendekatan ini sejalan dengan konsep One Health, yaitu kolaborasi antara sektor kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan lingkungan. Dengan edukasi yang konsisten dan pelaporan dini, risiko penyebaran penyakit dapat ditekan tanpa menimbulkan kepanikan, sekaligus melindungi kelompok rentan termasuk anak-anak.

Terapkan PHBS

Infeksi virus Nipah umumnya diawali gejala yang menyerupai penyakit virus pada umumnya, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, dan rasa lemas, sehingga kerap tidak disadari sebagai infeksi berbahaya pada tahap awal. Namun, pada sebagian kasus, penyakit dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan hingga ensefalitis yang berisiko fatal.

"Seperti penyakit infeksi virus pada umumnya, gejala awal biasanya berupa demam dan nyeri badan. Namun, penyakit ini juga berpotensi berkembang menjadi radang otak dan komplikasi lain yang serius," Dr. Piprim mengatakan.

Oleh sebab itu, penting bagi masyarakat untuk memahami risiko penyakit ini secara rasional—tetap waspada tanpa panik berlebihan. Dokter Piprim menekankan bahwa dalam situasi ketika obat dan vaksin spesifik belum tersedia luas, langkah perlindungan paling efektif justru berasal dari perilaku sehari-hari.

Penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), seperti mencuci tangan, memastikan kebersihan makanan, menghindari konsumsi buah yang rusak atau bekas gigitan hewan, serta menjaga kebersihan lingkungan, menjadi benteng pertama dalam mencegah penularan penyakit infeksi zoonosis, termasuk virus Nipah.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More

10 Penyebab Diabetes yang Harus Dikenali dan Diwaspadai

30 Jan 2026, 17:03 WIBHealth