ilustrasi pemeriksaan telinga (pexels.com/Karolina Grabowska)
Umumnya, kotoran telinga berwarna kuning, oranye, hingga cokelat dengan tekstur padat lengket atau basah. Warna kotoran telinga berhubungan dengan lama kotoran tersebut di telinga. Semakin lama kotoran tersebut di dalam telinga, maka semakin gelap warnanya karena telah menyaring partikel asing.
Selain warna, tekstur kotoran telinga juga berubah seiring durasi kotoran telinga di kuping. Selain itu, genetik dan usia juga dapat memengaruhi (kotoran telinga anak lebih lembut dan terang, sedangkan kotoran telinga dewasa lebih keras dan gelap).
Selain itu, kemungkinan besar, demografi pun juga dapat menjadi faktor penentu kotoran telinga. Sebuah studi pada 2006 di Jepang yang dimuat dalam jurnal Nature Genetics mengatakan bahwa masyarakat Asia Timur memiliki kotoran telinga yang bertekstur kering dan pecah-pecah.
Warna, tekstur, dan jumlah kotoran telinga dapat bervariasi. Telinga dapat dengan cepat membersihkan kotorannya sendiri. Akan tetapi, kecepatannya pun berbeda-beda, sehingga tekstur kotoran telinga pun juga berbeda.
Kotoran telinga adalah bagian dari sistem pertahanan tubuh yang membantu melindungi saluran telinga dari ancaman luar. Warnanya dapat bervariasi dari kuning terang hingga cokelat tua, dan variasi ini umumnya normal dan mencerminkan siklus alami produksi serumen.
Namun, variasi warna lain seperti hijau, merah, atau hitam yang tiba-tiba muncul beserta gejala tambahan bisa menandakan adanya infeksi, iritasi, atau penumpukan serius di dalam telinga. Dalam kasus seperti itu, konsultasi dengan dokter THT sangat dianjurkan untuk memastikan kesehatan telinga.
Referensi
“What Your Earwax Says About Your Health.” AARP. Diakses Februari 2026.
“Earwax (Cerumen): Types, Function & Causes.” Cleveland Clinic. Diakses Februari 2026.
“Earwax Color: Chart, Infection, Tarry Earwax, and More.” Healthline. Diakses Februari 2026.
“Earwax Colors Explained: What They Mean About Your Health.” Hearing Insider. Diakses Februari 2026.