ilustrasi menyaksikan Netflix di laptop (pixabay.com/Jade87)
Pandemik mengubah pola penonton menikmati film. Bahkan, Nia mengakui dirinya telah menjadi adaptif untuk menikmati film. Semula hanya bisa menonton di bioskop, sekarang sudah terbiasa di handphone. Setidaknya Sue mencatat ada dua kebiasaan baru yang dilakukan penonton untuk menikmati film.
"Satu, penonton sekarang memiliki attention span (rentang perhatian) yang beragam, karena pilihannya juga banyak di luar sana. Selanjutnya, cenderung lebih menikmati konten episodik. Model seperti ini membuat akselerasi penonton untuk membicarakan tayangan ini terus," papar Sue.
Tidak hanya penonton, pandemik justru memperbanyak jumlah pelaku film pendek. Amanda mengatakan selama pandemik pihaknya banyak sekali mengurasi film pendek. Hal ini dipicu juga karena kita dihadapkan oleh kondisi untuk harus berkembang dengan teknologi. Apalagi, sekarang pembuat film bisa menggarap filmnya hanya dengan smartphone. Berkaitan dengan banyaknya filmmaker saat pandemi, Nia juga menyambut senang karena bisa memahami semakin banyak perspektif yang bisa ditonton.
"Pandemik membuka banyak peluang mendapat cerita baru. Terlebih, mengakses karya multibahasa," jelas Nia.
Berikut beberapa poin penting dari panel diskusi dengan tema perempuan dan industri film. Pesan-pesan tersebut diharapkan mampu membuat perubahan yang lebih baik bagi keberadaan perempuan agar industri film bisa semakin inklusif.