Anak Macan (dok. Podium Pictures/Anak Macan)
Anak Macan (My Plastic Mother) mengikuti Eki, seorang anak laki-laki yang tinggal di kawasan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat. Cerita bermula dari keinginan sederhana Eki untuk menemukan sebuah barang perempuan demi memenuhi tugas Hari Ibu di sekolah. Namun, pencarian tersebut berubah menjadi perlombaan melawan waktu ketika hujan memicu longsoran sampah.
Longsoran tersebut menimbun makam ibu Eki. Ia pun dipaksa menghadapi kehilangan dan duka yang selama ini mungkin belum sepenuhnya ia pahami. Dari pengalaman tersebut, Anak Macan mengeksplorasi berbagai tema yang universal, mulai dari kesepian, identitas, kehilangan, hingga proses menemukan diri sendiri. Di saat yang sama, film ini juga mengangkat persoalan pendidikan, pengasuhan, konsumerisme, dan krisis iklim melalui perspektif seorang anak.
Sutradara Riri Riza (Petualangan Sherina, Laskar Pelangi) turut memberikan pandangannya setelah menyaksikan film pendek tersebut. Menurutnya, Anak Macan meninggalkan kesan yang panjang karena menghadirkan realitas sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
"Film pendek Anak Macan (My Plastic Mother) meninggalkan aftertaste atau kesan yang mendalam dan panjang bagi saya setelah menontonnya. Film ini bercerita tentang seorang anak yang hidup di dalam sebuah realitas sosial yang dekat dengan kita hari-hari ini, tentang pendidikan, kepengasuhan, dan tentang krisis iklim yang akan menghantui kita apabila kita tidak mengubah pola hidup," ujar Riri.
Setelah melalui berbagai festival film pendek internasional dan meraih sejumlah pencapaian, Anak Macan kini melanjutkan perjalanannya menuju Academy Awards ke-99. Film karya Amar Haikal tersebut menjadi salah satu karya yang eligible atau memenuhi syarat untuk dipertimbangkan dalam kategori Live Action Short Film Oscar 2027.