Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Anime tentang Ketimpangan Kelas dan Diskriminasi Sosial
Karakter Shinei Nouzen, Vladilena Milizé, beserta anggota Skuadron Spearhead lainnya (Dok. A-1 Pictures/86 Eighty Six)
  • Lima anime mengangkat ketimpangan kelas melalui sistem sosial yang memisahkan elite dan kelompok marjinal, dari kota korporat hingga negara kolonial serta kubah tertutup.
  • Cyberpunk: Edgerunners dan Gachiakuta menyoroti akses layanan, teknologi, serta ruang hidup yang dikendalikan uang dan segregasi, hingga warga miskin diperlakukan sebagai beban.
  • Code Geass, 86 Eighty-Six, dan Ergo Proxy menggambarkan diskriminasi berbasis identitas, ras, atau kewarganegaraan yang melegalkan perampasan hak dan eksploitasi kelompok lemah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ketimpangan sosial masih menjadi masalah nyata yang memicu perbedaan nasib antarmanusia di berbagai belahan dunia. Dalam banyak cerita fiksi, perbedaan derajat ini sering digambarkan secara jelas melalui pembagian kasta yang kaku dalam masyarakat. Film dan serial animasi kerap mengangkat tema tersebut untuk memperlihatkan bahwa pihak yang memegang kekuasaan sering kali merugikan kelompok masyarakat yang lemah.

Industri anime terbukti cukup sering menampilkan kritik sosial lewat perbedaan taraf hidup antara kelompok elite kaya dan rakyat biasa. Cerita yang disajikan tidak hanya berfokus pada adegan laga, tetapi juga memperlihatkan ketidakadilan sistem yang membuat kelompok bawah sulit berkembang.

Untuk melihat bagaimana kisah kelompok tertindas dalam menghadapi kenyataan tersebut, berikut lima anime pilihan yang mengangkat tema ketimpangan kelas. Mana dulu yang bakal kamu tonton, nih?

1. Cyberpunk Edgerunners

Karakter David dan Lucy dalam Cyberpunk Edgerunners (Dok. Studio Trigger/Cyberpunk: Edgerunners)

Tatanan kehidupan di Night City dirancang sepenuhnya di bawah kendali modal dan kepemilikan saham konglomerat multinasional. Kota futuristik ini membagi wilayahnya secara tegas antara kawasan elite korporat yang terjaga ketat dan permukiman kumuh tak terurus yang dibiarkan menjadi sarang kriminalitas. Dalam struktur masyarakat seperti ini, seluruh layanan mendasar bagi kelangsungan hidup manusia hanya bisa diakses oleh mereka yang memiliki uang tunai melimpah.

Jurang kelas ini melahirkan sistem pelayanan darurat swasta yang menolak menolong warga miskin yang sekarat di trotoar jalanan karena ketiadaan kartu asuransi medis. Ketimpangan semakin parah karena kaum kaya dapat membeli teknologi implan sibernetika mutakhir yang aman, sementara buruh kawasan pinggiran terpaksa memakai suku cadang ilegal bekas yang merusak sistem saraf otak. Serial ini memperlihatkan bagaimana kemajuan peradaban teknologi tinggi justru menjadi instrumen pemilik modal untuk memperbudak kelompok masyarakat terbawah secara legal.

2. Gachiakuta

Karakter utama anime Gachiakuta bernama Rudo (dok. Bones/Gachiakuta)

Semesta cerita Gachiakuta sejak awal dibangun di atas fondasi pemisahan derajat manusia yang sangat kaku dan berjenjang. Di pulau melayang bernama Sphere, masyarakat kelas atas menikmati kehidupan serba bersih dan fasilitas serba ada di pusat peradaban yang terjaga ketat. Di sisi lain, batas kota tersebut dipasangi barikade kawat tinggi untuk mengisolasi kelompok masyarakat marjinal di permukiman kumuh pinggiran agar tidak mencemari lingkungan kaum terpandang.

Keberadaan sekat pemisah tersebut melahirkan diskriminasi sosial yang menganggap warga bantaran kota sebagai potensi bahaya dan biang keladi kriminalitas. Ketimpangan ini bergerak semakin ekstrem karena siapa pun dari kawasan pinggiran yang dianggap meresahkan akan langsung dibuang sepihak ke jurang penampungan sampah raksasa di bawah Bumi. Sistem segregasi berlapis ini memperlihatkan bagaimana sebuah tatanan masyarakat tega merampas martabat manusia hingga menyamakannya dengan tumpukan limbah tak bernilai demi menjaga kesucian hidup kaum elit.

3. Code Geass Lelouch of the Rebellion

Karakter utama dalam anime Code Geass: Lelouch of the Rebellion (dok. Sunrise/Code Geass: Lelouch of the Rebellion)

Latar dunia Code Geass berdiri kokoh di atas fondasi kolonialisme global yang dipimpin oleh dinasti monarki Kekaisaran Suci Britannia. Sistem imperium ini menata masyarakat berdasarkan garis keturunan darah bangsawan dan status kemenangan perang di berbagai wilayah taklukan. Penduduk negara yang kalah diturunkan kastanya menjadi warga kelas dua tanpa hak kedaulatan, sementara para bangsawan penjajah menempati wilayah konsesi modern yang serba istimewa.

Penghapusan identitas budaya diterapkan secara kejam dengan mengganti nama tanah air dan warga lokal Jepang menjadi sebutan nomor sebelas. Kebijakan diskriminatif ini menutup rapat peluang penduduk pribumi untuk mengenyam pendidikan tinggi, memiliki properti tanah yang layak, dan menduduki posisi penting dalam birokrasi pemerintahan. Serial ini secara gamblang memperlihatkan bahwa kemakmuran sebuah negara adidaya sering kali bersumber dari penindasan sistematis dan perampasan martabat bangsa lain.

4. 86 Eighty Six

Karakter Shinei Nouzen, Vladilena Milizé, beserta anggota Skuadron Spearhead lainnya (dok. A-1 Pictures/86 Eighty Six)

Republik San Magnolia membangun tatanan kenegaraan yang mengagungkan keunggulan genetik dan kemurnian ciri fisik ras tertentu. Pemerintah setempat secara resmi mendirikan delapan puluh lima distrik berbenteng kokoh untuk menampung warga ras dominan berambut perak dalam kenyamanan hidup modern yang damai. Di luar dinding tebal tersebut terbentang zona terlarang yang sengaja tidak dicatat dalam peta nasional demi menutupi fakta keberadaan operasi militer berdarah.

Diskriminasi rasial dilegalkan secara mutlak dengan cara mencabut kewarganegaraan seluruh etnis minoritas non-Alba lalu membuang mereka ke wilayah perbatasan terluar. Kelompok minoritas ini dipaksa mengoperasikan mesin tempur di garis depan dan diklasifikasikan sebagai makhluk selain manusia agar warga kota tidak merasa bersalah atas kematian mereka. Karya ini menyuguhkan gambaran dingin tentang bagaimana sebuah rezim sanggup memanfaatkan aturan perundang-undangan untuk melegalkan eksploitasi nyawa kaum lemah demi ketenteraman kelompok mayoritas.

5. Ergo Proxy

Ergo Proxy (dok. Manglobe/Ergo Proxy)

Tatanan sosial dalam semesta Ergo Proxy terbelah secara mutlak oleh keberadaan kubah raksasa bernama Romdo yang melindungi manusia dari kehancuran alam luar. Di dalam kubah, masyarakat hidup sebagai warga resmi dengan jaminan fasilitas hidup otomatis, udara bersih, serta perlindungan ketat dari robot pelayan. Sebaliknya, wilayah luar kubah dibiarkan menjadi padang tandus beracun yang hanya dihuni oleh kelompok masyarakat tanpa izin tinggal atau kaum buangan yang kehilangan hak kewarganegaraan.

Warga kubah dituntut mematuhi aturan perilaku yang sangat kaku demi menjaga predikat sebagai warga teladan yang produktif dan tertib. Sementara itu, kelompok masyarakat di luar kubah dipaksa hidup serba kekurangan dan mengais sisa barang buangan dari dalam kota tanpa pernah diakui keberadaannya oleh pemerintah. Cerita ini memperlihatkan bentuk segregasi yang nyata ketika kenyamanan hidup segelintir manusia di dalam lingkungan tertutup dibayar dengan pengabaian total terhadap kelompok marjinal yang terlantar di luar perbatasan.

Kelima anime di atas memperlihatkan bahwa jurang pemisah sosial sering kali diciptakan secara sengaja melalui pembagian wilayah fisik, penguasaan teknologi, hingga aturan hukum yang berat sebelah. Mulai dari dominasi modal korporasi di Night City, segregasi kota melayang dan kubah tertutup, hingga diskriminasi rasial yang dilegalkan negara, semuanya menempatkan kelompok lapisan bawah sebagai pihak yang paling dirugikan.

Berbagai karya ini menjadi pengingat nyata bagi penonton bahwa kemewahan sebuah tatanan hidup yang serba teratur kerap kali berdiri di atas pengabaian hak dasar masyarakat yang terbuang di luar lingkaran kekuasaan. Kamu mau nonton yang mana dulu, nih?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article