Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Sama-sama Hits, Apa Bedanya Pestapora dan Synchronize Fest 2026?

8 min read
Sama-sama Hits, Apa Bedanya Pestapora dan Synchronize Fest 2026?
Pestapora dan Synchronize Fest (Instagram.com/pestapora | dok. IDN Times/Rani Asnurida)
  • Pestapora 2026 digelar 25–27 September di JIExpo dengan 330 penampil pada 19 area, menonjolkan musisi populer, pertunjukan spesial, dan konsep hiburan terpadu.

  • Synchronize Fest 2026 berlangsung 16–18 Oktober di JIExpo dengan 119 musisi di 10 area, berfokus pada kurasi lintas genre, generasi, serta skena musik.

  • Pestapora menawarkan aktivitas rekreatif seperti pangkas rambut, gim, memasak, dan area bermain; Synchronize Fest menyediakan bursa rilisan musik, pasar seni, bioskop terbuka, serta Gold Sprint.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Suasana sore itu gegap gempita, ribuan penonton bernyanyi bersama, mengangkat tangan mengikuti irama, atau bergegas dari satu panggung ke panggung lain demi menyaksikan penampilan yang sudah dinanti. Momen-momen seperti ini menjadi bagian dari keseruan festival musik, termasuk Pestapora dan Synchronize Fest yang sama-sama mempertemukan musisi serta penikmat musik dari berbagai genre.

Pada 2026, kedua festival ini kembali hadir di JIExpo Kemayoran dengan ciri khasnya masing-masing. Pestapora lebih dulu berlangsung pada 25–27 September dengan menghadirkan 330 penampil di 19 area pertunjukan. Sementara itu, Synchronize Fest digelar pada 16–18 Oktober dengan 119 musisi yang tersebar di 10 area.

Meski sama-sama menjadi perayaan musik Indonesia, Pestapora dan Synchronize Fest menawarkan pengalaman yang berbeda. Mulai dari karakter penampil dan identitas visual hingga berbagai aktivitas di luar panggung, keduanya memiliki ciri khas yang membuat pengalaman festival terasa seru dengan cara masing-masing.

  1. 1. Sama-sama punya ratusan penampil, tapi apa bedanya?

    Kolase visual promosi festival musik Pestapora dan Synchronize Fest dengan identitas grafis masing-masing acara.
    Pestapora dan Synchronize Fest (Instagram.com/pestapora | instagram.com/synchronizefest)

    Setiap orang pasti memiliki cara sendiri untuk menikmati festival musik. Ada yang rela datang demi bernostalgia dan menyanyikan lagu favorit bersama ribuan penonton lainnya. Bahkan, gak sedikit juga yang ingin menemukan band baru, menikmati kolaborasi spesial, atau mengeksplorasi beragam genre dan skena musik yang mungkin belum terlalu familier.

    Pengalaman tersebut bisa ditemukan, baik di Pestapora maupun Synchronize Fest. Tapi, meski sama-sama menghadirkan ratusan musisi dari berbagai genre, keduanya tetap memiliki sejarah dan karakter tersendiri dalam merayakan musik Indonesia.

    Di Pestapora, deretan musisi populer menjadi salah satu daya tarik yang membuat penonton bisa bernyanyi bersama sepanjang pertunjukan. Pada edisi 2026, festival musik gagasan Boss Creator ini menghadirkan 330 penampil yang tersebar di 19 area pertunjukan, sehingga pengunjung jadi memiliki lebih banyak pilihan untuk menikmati penampilan sesuai selera.

    Tahun ini, Pestapora 2026 juga menghadirkan sejumlah pertunjukan spesial, mulai dari reuni Kerispatih bersama Sammy Simorangkir hingga kolaborasi Erwin Gutawa Orchestra dengan sejumlah musisi. Kehadiran mereka menawarkan pengalaman berbeda, mulai dari bernostalgia lewat lagu-lagu yang sudah akrab di telinga hingga menikmati aransemen musik dalam format orkestra.

    Nah, beragam pilihan tersebut sejalan dengan konsep One Stop Celebration yang diusung Pestapora. Konsep ini gak hanya menghadirkan pertunjukan musik, tetapi juga berbagai hiburan dan aktivitas lain dalam satu area sehingga pengunjung punya banyak cara untuk menikmati festival.

    Meski begitu, bukan berarti Pestapora hanya menghadirkan musisi populer. Festival ini juga memberi ruang bagi band dengan karakter musik yang beragam, seperti Pure Saturday dan The Adams dari skena musik independen, Barasuara dengan warna rock alternatifnya, hingga Burgerkill yang dikenal lewat musik metal. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa pilihan musik di Pestapora gak terbatas pada lagu-lagu populer, tetapi juga mencakup beragam karakter musik yang bisa dijelajahi pengunjung.

    Sementara itu, Synchronize Fest menawarkan kesempatan untuk menyelami lebih jauh keberagaman musik Indonesia. Festival ini bermula pada tahun 2000 sebagai acara musik elektronik, kemudian berkembang menjadi festival multigenre pada 2009. Sejak 2016, Synchronize Fest hadir dalam format tiga hari yang mempertemukan musisi lintas genre dan generasi.

    Perjalanan tersebut pun turut membentuk karakter Synchronize Fest sebagai ruang bagi berbagai skena musik, termasuk indie, alternatif, punk, hingga metal. Pada edisi 2026, misalnya, ada band seperti Polka Wars dan Monkey to Millionaire yang mewakili warna musik independen dan alternatif.

    Meski dikenal dengan kurasi lintas genre dan skenanya, bukan berarti Synchronize Fest jauh dari momen guyub. Penampilan Potret, Project Pop hingga The Changcuters pada hari pertama Synchronize Fest 2026, misalnya, juga memberi ruang bagi penonton untuk ikut bernyanyi bersama. Begitu pula pertunjukan Geisha: A Retrospective Journey, yang mempertemukan Momo dan Geisha dalam satu panggung.

    Pada akhirnya, Pestapora dan Synchronize Fest sama-sama memberi ruang untuk bernyanyi bersama, menemukan musik baru, dan menikmati pertunjukan spesial. Perbedaannya terletak pada penekanan pengalaman yang ditawarkan. Pestapora menghadirkan perayaan musik dengan lebih banyak pilihan penampil dan hiburan dalam satu area, sedangkan Synchronize Fest memberi perhatian pada keberagaman skena dan kurasi lintas generasi. Keduanya tetap memiliki daya tarik masing-masing sehingga pilihan festival kembali pada pengalaman yang ingin dicari oleh setiap penonton.

  2. 2. Beda visual dan ekspresi di panggung Pestapora dan Synchronize Fest

    Pestapora dan Synchronize Fest dalam dokumentasi yang dikreditkan kepada Instagram Pestapora dan IDN Times.
    Pestapora dan Synchronize Fest (Instagram.com/pestapora | dok. IDN Times/Rani Asnurida)

    Saat meliput Pestapora dan Synchronize Fest tahun ini, ada satu hal yang cukup menarik perhatian saya, yakni bagaimana keduanya menghadirkan identitas visual dengan karakter yang berbeda. Pestapora terasa lebih segar lewat ilustrasi buah-buahan yang ikonik, sedangkan Synchronize Fest menawarkan artwork penuh warna yang sekilas terlihat gemas, tetapi menyimpan berbagai keresahan sosial ketika diamati lebih dekat.

    Di Pestapora 2026, elemen buah-buahan seperti mangga, semangka, kelapa, hingga anggur menjadi identitas visual yang mudah dikenali. Warna-warna cerah yang digunakan memberikan kesan segar dan ceria, sekaligus membuat tampilan festival terasa khas. Menariknya, identitas buah-buahan ini bukan hal baru. Pestapora telah menggunakannya sebagai pembeda dari festival musik lain sejak 2023 dan mempertahankannya sebagai identitas jangka panjang.

    Sementara itu, Synchronize Fest 2026 menghadirkan tema It’s Not Just a Festival, It’s a Movement dengan pendekatan visual yang berbeda. Ketika menyusuri area District Stage, saya sempat dibuat penasaran oleh artwork yang terlihat segar dengan ilustrasi yang terkesan gemas. Namun, setelah melihatnya lebih dekat, tulisan-tulisan yang terpampang di sana menyimpan pesan yang cukup nyelekit.

    Beberapa di antaranya berbunyi “Aku Strong, Aku WNI”, “Apa Kabar?”, hingga “Rakyat Pusing, Pejabat Flexing”. Kalimat-kalimat tersebut terasa dekat dengan keresahan yang kerap diperbincangkan masyarakat hari ini. Ada pula tulisan “Keep Smiling Support Palestine” yang dilengkapi gambar semangka sebagai simbol solidaritas terhadap Palestina.

    Di sudut lain, sebuah banner panjang yang menyinggung sulitnya mencari pekerjaan turut mencuri perhatian, yang kemudian dimanfaatkan oleh pengunjung sebagai spot foto. Pemandangan ini cukup menarik karena pesan tentang keresahan mencari kerja hadir di tengah suasana festival yang ramai dan penuh hiburan.

    Berbagai artwork berisi keresahan ini hadir di setiap sudut Synchronize Fest 2026. Bahkan saat memasuki area festival, pengunjung juga disambut balon bertuliskan, “ASAP DI SINI HANYA SEBATAS EFEK PANGGUNG, KALAU CARI YANG EFEK SAMPING ADANYA DI KALIMANTAN”. Permainan kata tersebut menyentil persoalan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang masih menjadi keresahan masyarakat.

    Ekspresi tersebut juga terasa di atas panggung. Synchronize Fest 2026 dibuka dengan penampilan Efek Rumah Kaca. Saat menyaksikan penampilan mereka, saya melihat penonton membawa poster bernuansa perlawanan, sementara beberapa lainnya mengenakan topeng bergambar aktivis HAM, Munir dan Marsinah.

    Pesan sosial juga disampaikan lewat sejumlah penampil, termasuk The Changcuters dan Melly Goeslaw bersama Potret. Di tengah aksi panggung yang energik, mereka mengajak para penonton Synchronize Fest 2026 mendoakan warga terdampak kebakaran hutan dan berharap situasi di Kalimantan segera membaik.

    Bahkan, penampilan 4 Sehat 5 Nampol yang melibatkan kolektif Orkes Nunung CS, Orkes Pensil Alis, Benang Kenur, Feel Koplo, dan Mingse memperlihatkan kontras menarik antara musik dan pesan visual. Di atas panggung, mereka sukses memanaskan suasana lewat musik dangdut dengan aransemen enerjik yang mengajak penonton bergoyang bersama. Namun, layar di belakang panggung juga gak panas karena menampilkan visual yang menyoroti berbagai persoalan sosial, mulai dari keracunan, sawit, kebakaran hutan, hingga genosida. Ada pula visual kabut asap di Sumatra dan Kalimantan. Alhasil, di tengah suasana yang meriah, penonton tetap diajak melihat berbagai isu yang menjadi keresahan masyarakat.

    Lalu, apakah Pestapora memilih diam di tengah berbagai persoalan sosial? Tentu tidak. Meski identitas visualnya terasa lebih ceria dengan ilustrasi buah-buahan, sejumlah penampil juga menggunakan panggung mereka sebagai ruang untuk menyampaikan pesan dan keresahan.

    Pada tahun ini, ada The Adams, misalnya, yang menampilkan tulisan “They Burn” saat membawakan lagu “Pelantur”, yang menyoroti persoalan kebakaran hutan di Kalimantan. David Bayu pun turut menyampaikan keresahannya tentang asap akibat pembakaran hutan saat membawakan lagu “Dia adalah Pusaka Sejuta Umat Manusia yang Ada di Seluruh Dunia”.

    Ekspresi solidaritas untuk Palestina juga terlihat dalam penampilan Raim Laode. Saat membawakan lagu “Bersenja Gurau” di Hingar Bingar Stage, ia menampilkan visual bendera Palestina, lengkap dengan tulisan “Free Palestine”. Bahkan, Vincent Rompies turut mengibarkan bendera Palestina ketika tampil bersama Teenage Death Star di Klab Klub Stage di hari terakhir gelaran Pestapora 2026.

  3. 3. Pestapora vs Synchronize Fest: Aktivitas di luar panggung yang gak kalah seru

    Pestapora, festival musik yang menjadi bagian dari rekomendasi acara hiburan dan musik di Indonesia.
    Pestapora (Instagram.com/yummy.idn | Instagram.com/synchronizefest)

    Keseruan festival musik ternyata gak selalu berhenti di depan panggung. Saat menjelajahi area Pestapora 2026 dan Synchronize Fest 2026, saya menemukan bahwa keduanya punya pendekatan berbeda dalam menghadirkan aktivitas di luar penampilan musisi. Pestapora menawarkan kegiatan rekreatif yang tak terduga, sedangkan Synchronize Fest memberi ruang lebih bagi eksplorasi musik dan seni.

    Di Pestapora 2026, salah satu hal yang cukup mencuri perhatian saya adalah kehadiran layanan pangkas rambut di tengah festival musik. Siapa sangka, di antara jadwal penampilan musisi dan keramaian penonton, ada pengunjung yang bisa mampir untuk merapikan rambut? Kehadirannya menjadi gebrakan tak terduga. Namun, yang lebih tak terduga lagi, layanan tersebut diminati banyak pengunjung yang ikut mengantre untuk mencobanya.

    Aktivitas di Pestapora 2026 juga gak berhenti sampai di situ saja. Pengunjung juga bisa bermain PlayStation dan Mahjong, mengikuti kegiatan memasak di Masakpora by Yummy, hingga mengunjungi Buumiplayscape yang menyediakan area bermain. Pilihan tersebut memperlihatkan bagaimana Pestapora menghadirkan aktivitas rekreatif yang bisa dinikmati di sela-sela menonton musisi favorit. Jadi, pengunjung gak harus terus berada di depan panggung untuk tetap merasakan keseruan festival.

    Sedangkan Synchronize Fest 2026 menawarkan pengalaman yang lebih dekat dengan eksplorasi musik dan seni. Pengunjung bisa mampir ke Records Fair untuk berburu rilisan musik, menjelajahi Art & Merch Market, atau menikmati film di Outdoor Cinema. Aktivitas tersebut memberi ruang bagi para pengunjung untuk mengenal karya dan produk kreatif, sekaligus menikmati sisi lain dari ekosistem musik Indonesia.

    Di samping itu, pengunjung juga bisa menjajal Gold Sprint, yakni kompetisi mengayuh sepeda statis secepat mungkin. Aktivitas yang membutuhkan tenaga ekstra ini ternyata menarik perhatian pengunjung. Antusiasme pun terlihat dari cukup banyaknya pengunjung yang memadati area aktivitas tersebut untuk menunggu giliran.

    Pada akhirnya, Pestapora dan Synchronize Fest punya cara masing-masing dalam merayakan musik Indonesia. Tapi justru perbedaan itulah yang membuat keduanya punya cerita dan kenangan tersendiri bagi setiap pengunjung. Sebab, musik bukan sekadar tentang siapa yang tampil di atas panggung, tetapi juga tentang perasaan, pertemuan, dan pengalaman yang dibawa pulang setelah festival berakhir.

Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More