Pestapora dan Synchronize Fest (Instagram.com/pestapora | dok. IDN Times/Rani Asnurida)
Saat meliput Pestapora dan Synchronize Fest tahun ini, ada satu hal yang cukup menarik perhatian saya, yakni bagaimana keduanya menghadirkan identitas visual dengan karakter yang berbeda. Pestapora terasa lebih segar lewat ilustrasi buah-buahan yang ikonik, sedangkan Synchronize Fest menawarkan artwork penuh warna yang sekilas terlihat gemas, tetapi menyimpan berbagai keresahan sosial ketika diamati lebih dekat.
Di Pestapora 2026, elemen buah-buahan seperti mangga, semangka, kelapa, hingga anggur menjadi identitas visual yang mudah dikenali. Warna-warna cerah yang digunakan memberikan kesan segar dan ceria, sekaligus membuat tampilan festival terasa khas. Menariknya, identitas buah-buahan ini bukan hal baru. Pestapora telah menggunakannya sebagai pembeda dari festival musik lain sejak 2023 dan mempertahankannya sebagai identitas jangka panjang.
Sementara itu, Synchronize Fest 2026 menghadirkan tema It’s Not Just a Festival, It’s a Movement dengan pendekatan visual yang berbeda. Ketika menyusuri area District Stage, saya sempat dibuat penasaran oleh artwork yang terlihat segar dengan ilustrasi yang terkesan gemas. Namun, setelah melihatnya lebih dekat, tulisan-tulisan yang terpampang di sana menyimpan pesan yang cukup nyelekit.
Beberapa di antaranya berbunyi “Aku Strong, Aku WNI”, “Apa Kabar?”, hingga “Rakyat Pusing, Pejabat Flexing”. Kalimat-kalimat tersebut terasa dekat dengan keresahan yang kerap diperbincangkan masyarakat hari ini. Ada pula tulisan “Keep Smiling Support Palestine” yang dilengkapi gambar semangka sebagai simbol solidaritas terhadap Palestina.
Di sudut lain, sebuah banner panjang yang menyinggung sulitnya mencari pekerjaan turut mencuri perhatian, yang kemudian dimanfaatkan oleh pengunjung sebagai spot foto. Pemandangan ini cukup menarik karena pesan tentang keresahan mencari kerja hadir di tengah suasana festival yang ramai dan penuh hiburan.
Berbagai artwork berisi keresahan ini hadir di setiap sudut Synchronize Fest 2026. Bahkan saat memasuki area festival, pengunjung juga disambut balon bertuliskan, “ASAP DI SINI HANYA SEBATAS EFEK PANGGUNG, KALAU CARI YANG EFEK SAMPING ADANYA DI KALIMANTAN”. Permainan kata tersebut menyentil persoalan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang masih menjadi keresahan masyarakat.
Ekspresi tersebut juga terasa di atas panggung. Synchronize Fest 2026 dibuka dengan penampilan Efek Rumah Kaca. Saat menyaksikan penampilan mereka, saya melihat penonton membawa poster bernuansa perlawanan, sementara beberapa lainnya mengenakan topeng bergambar aktivis HAM, Munir dan Marsinah.
Pesan sosial juga disampaikan lewat sejumlah penampil, termasuk The Changcuters dan Melly Goeslaw bersama Potret. Di tengah aksi panggung yang energik, mereka mengajak para penonton Synchronize Fest 2026 mendoakan warga terdampak kebakaran hutan dan berharap situasi di Kalimantan segera membaik.
Bahkan, penampilan 4 Sehat 5 Nampol yang melibatkan kolektif Orkes Nunung CS, Orkes Pensil Alis, Benang Kenur, Feel Koplo, dan Mingse memperlihatkan kontras menarik antara musik dan pesan visual. Di atas panggung, mereka sukses memanaskan suasana lewat musik dangdut dengan aransemen enerjik yang mengajak penonton bergoyang bersama. Namun, layar di belakang panggung juga gak panas karena menampilkan visual yang menyoroti berbagai persoalan sosial, mulai dari keracunan, sawit, kebakaran hutan, hingga genosida. Ada pula visual kabut asap di Sumatra dan Kalimantan. Alhasil, di tengah suasana yang meriah, penonton tetap diajak melihat berbagai isu yang menjadi keresahan masyarakat.
Lalu, apakah Pestapora memilih diam di tengah berbagai persoalan sosial? Tentu tidak. Meski identitas visualnya terasa lebih ceria dengan ilustrasi buah-buahan, sejumlah penampil juga menggunakan panggung mereka sebagai ruang untuk menyampaikan pesan dan keresahan.
Pada tahun ini, ada The Adams, misalnya, yang menampilkan tulisan “They Burn” saat membawakan lagu “Pelantur”, yang menyoroti persoalan kebakaran hutan di Kalimantan. David Bayu pun turut menyampaikan keresahannya tentang asap akibat pembakaran hutan saat membawakan lagu “Dia adalah Pusaka Sejuta Umat Manusia yang Ada di Seluruh Dunia”.
Ekspresi solidaritas untuk Palestina juga terlihat dalam penampilan Raim Laode. Saat membawakan lagu “Bersenja Gurau” di Hingar Bingar Stage, ia menampilkan visual bendera Palestina, lengkap dengan tulisan “Free Palestine”. Bahkan, Vincent Rompies turut mengibarkan bendera Palestina ketika tampil bersama Teenage Death Star di Klab Klub Stage di hari terakhir gelaran Pestapora 2026.