ilustrasi radio jadul (pixabay.com/Duc Kieul)
Istilah "liminalitas" merujuk pada keadaan transisi antara dua hal dan berasal dari akar kata Latin limen, yang berarti ambang batas. Hal ini bisa bersifat psikologis, seperti keadaan setengah sadar antara tidur dan terjaga, atau merujuk pada ruang fisik: peron stasiun kereta api, gerbang bandara, lorong hotel dan sebagainya. Semua ruang ini dimaksudkan untuk mengantarkan kita dari satu area ke area lain. Nah, hal ini pun dieksplorasi sebagai liminalitas ruang fisik.
Estetika ruang liminal muncul bersamaan dengan serangkaian gaya serupa, yang bernuansa suram dan nostalgia gelap, seperti Weirdcore atau Dreamcore. Semua ini lahir di era internet, ketika generasi milenial bergulat dengan nostalgia mereka terhadap masa di era media sosial dan dominasi teknologi, dengan teknologi jadul seperti surat-menyurat, telepon rumah, dan media konvensional.
Sementara itu, generasi-generasi berikutnya pun terpesona dengan era yang justru pernah dialami generasi milenial, seperti mendengarkan kembali lagu-lagu jadul era milenial hingga earphone kabel.
Saat ini, generasi milenial merasa sejalan dengan generasi Z yang mengalami apa yang dikenal sebagai anemoia, atau nostalgia terhadap masa yang belum pernah dialami. Jadi, subgenre horor liminal hanyalah salah satu ekspresi dari keadaan ini.
Seperti Weirdcore, genre ini merangkul liminalitas dengan melibatkan lingkungan yang familiar sembari menumbangkan perasaan yang biasanya diasosiasikan dengan lingkungan tersebut: gambar area bermain tanpa anak-anak atau video taman air dalam ruangan yang tampaknya gak berujung.
Yap, dengan cara ini pula, genre horor liminal ini menjadi lambang kerinduan yang suram serta merekontekstualisasikan kegembiraan masa muda sebagai harapan yang gak terpenuhi. Itu sebabnya, horor liminal sering kali melampaui estetika ruang liminal itu sendiri dengan menggabungkan elemen horor, seperti monster yang mengintai di lorong-lorong gak berujung dalam video Backrooms.