Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Apa Itu Horor Liminal yang Viral lewat Backrooms dan Exit 8?
Backrooms (dok. North Road Films/Backrooms)
  • Film Exit 8 dan Backrooms dari A24 memperkenalkan horor liminal ke publik, menyoroti ketegangan antara hal yang familiar dan rasa gelisah yang sulit dijelaskan.
  • Horor liminal berakar dari konsep liminalitas, mengeksplorasi ruang transisi fisik maupun psikologis serta nostalgia generasi milenial dan Gen Z terhadap masa lalu digital.
  • Popularitas horor liminal meningkat lewat film seperti Skinamarink, I Saw the TV Glow, dan adaptasi game The Exit 8 yang membawa estetika nostalgia bercampur teror ke arus utama.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Setelah perilisan film horor psikologis Exit 8 (2025) dan Backrooms (2026) dari A24 yang membawa horor liminal ke khalayak luas, banyak yang bertanya-tanya tentang subgenre yang sedang populer ini dan asal-usulnya di dunia maya. Backrooms disutradarai oleh Kane Parsons, seniman VFX di balik serial YouTube Backrooms yang viral pada 2022.

Serial itu didasarkan pada gambar yang diposting di berbagai forum daring pada 2010-an, yang menggambarkan sebuah kantor kosong bermandikan cahaya lampu neon kuning pucat. Gambar ini dan cerita daring yang dihasilkannya akhirnya menjadi contoh penting dari estetika ruang liminal dan turunannya, horor liminal.

Namun, apa sebenarnya arti dari horor liminal itu sendiri? Ketahui fakta-faktanya berikut ini, ya!

1. Horor liminal viral lewat film Skinamarink dan Backrooms

Backrooms (dok. North Road Films/Backrooms)

Pada 2026, film Backrooms menghadirkan genre horor liminal dari kisah viral creepypasta di internet. Ini juga bukan pertama kalinya genre horor liminal muncul dalam film. Film Skinamarink (2022) juga punya tampilan khas yang sangat dipengaruhi oleh karya-karya horor dunia maya.

Skinamarink menyajikan visual buram di rumah pinggiran kota. Tentunya bikin yang nonton ngerasa gelisah dan ketakutan. Balok-balok LEGO berserakan di karpet, serta panel kayu yang hanya diterangi cahaya redup. Semuanya terasa familiar, tapi entah kenapa terasa mengganggu, seolah-olah ada sesuatu yang salah.

Apa sebenarnya yang salah itu masih belum jelas, tetapi itulah intinya. Horor liminal adalah tentang mengeksploitasi rasa gelisah yang samar dan sulit dipahami. Kegelisahan ini muncul dari benturan antara hal yang familiar dan yang gak dipahami. Ruang liminal dan kepekaan horor yang terkait dengannya berhubungan dengan rasa kehilangan harapan.

2. Horor liminal bukan hanya tentang ruangan-ruangan kosong yang menyeramkan

ilustrasi radio jadul (pixabay.com/Duc Kieul)

Istilah "liminalitas" merujuk pada keadaan transisi antara dua hal dan berasal dari akar kata Latin limen, yang berarti ambang batas. Hal ini bisa bersifat psikologis, seperti keadaan setengah sadar antara tidur dan terjaga, atau merujuk pada ruang fisik: peron stasiun kereta api, gerbang bandara, lorong hotel dan sebagainya. Semua ruang ini dimaksudkan untuk mengantarkan kita dari satu area ke area lain. Nah, hal ini pun dieksplorasi sebagai liminalitas ruang fisik.

Estetika ruang liminal muncul bersamaan dengan serangkaian gaya serupa, yang bernuansa suram dan nostalgia gelap, seperti Weirdcore atau Dreamcore. Semua ini lahir di era internet, ketika generasi milenial bergulat dengan nostalgia mereka terhadap masa di era media sosial dan dominasi teknologi, dengan teknologi jadul seperti surat-menyurat, telepon rumah, dan media konvensional.

Sementara itu, generasi-generasi berikutnya pun terpesona dengan era yang justru pernah dialami generasi milenial, seperti mendengarkan kembali lagu-lagu jadul era milenial hingga earphone kabel.

Saat ini, generasi milenial merasa sejalan dengan generasi Z yang mengalami apa yang dikenal sebagai anemoia, atau nostalgia terhadap masa yang belum pernah dialami. Jadi, subgenre horor liminal hanyalah salah satu ekspresi dari keadaan ini.

Seperti Weirdcore, genre ini merangkul liminalitas dengan melibatkan lingkungan yang familiar sembari menumbangkan perasaan yang biasanya diasosiasikan dengan lingkungan tersebut: gambar area bermain tanpa anak-anak atau video taman air dalam ruangan yang tampaknya gak berujung.

Yap, dengan cara ini pula, genre horor liminal ini menjadi lambang kerinduan yang suram serta merekontekstualisasikan kegembiraan masa muda sebagai harapan yang gak terpenuhi. Itu sebabnya, horor liminal sering kali melampaui estetika ruang liminal itu sendiri dengan menggabungkan elemen horor, seperti monster yang mengintai di lorong-lorong gak berujung dalam video Backrooms.

3. Genre horor liminal semakin populer dan disukai

cuplikan dalam film Exit 8 (dok. Story Inc./Exit 8)

Horor liminal sering kali tumpang tindih dengan estetika horor online lainnya. Misalnya, kamu akan melihat banyak horor analog dalam genre liminal, seperti beberapa adegan dalam film Backrooms yang terlihat seolah-olah difilmkan dengan kamera video era 2000-an. Sekali lagi, tujuannya untuk membangkitkan perasaan nostalgia yang bercampur dengan kesedihan atau kegelapan. Disitulah letak liminalitasnya.

Horor liminal ingin mengajak penonton bernostalgia sekaligus merasakan kegelisahan. Yap, membenamkan kita dalam lingkungan yang familiar sekaligus menempatkan kita di ambang teror. Ini sangat efektif jika dilakukan dengan benar dan bisa lebih populer lagi.

Contohnya, Exit 8, film horor psikologis Jepang yang berdasarkan pada video game tahun 2023 dengan nama yang sama. Game The Exit 8 dikembangkan oleh studio indie Jepang Kotake Create. Dalam game ini, pemain menjelajahi stasiun metro bawah tanah yang sepi di Jepang. Pemain pun harus menghindari anomali lingkungan untuk melewati lorong-lorong yang tampaknya gak berujung itu.

Digambarkan di halaman Steam-nya sebagai simulator berjalan singkat yang terinspirasi oleh lorong bawah tanah Jepang, ruang liminal, dan ruang belakang, game ini menangkap nuansa samar tapi spesifik dari horor liminal, yang kemudian diadaptasi ke dalam film.

Kayaknya kita akan melihat lebih banyak horor liminal di masa mendatang berkat kesuksesan film-film yang mengusung genre tersebut. Film-film seperti Skinamarink yang disebutkan sebelumnya dan film horor unggulan I Saw the TV Glow (2024) menjadi viralnya estetika horor online, termasuk horor liminal, yang masuk ke arus utama. Apalagi ketika film Backrooms memecahkan rekor box office dan memberikan pengalaman horor liminal yang sempurna pada khalayak luas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article