potret pemain Ghost in the Cell di kantor IDN, Kamis (5/3/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)
Morgan Oey memperkirakan salah satu alasan kenapa Joko Anwar memilih teknik tersebut adalah karena film ini bisa melibatkan sekitar 20 pemain dalam satu adegan. Menurutnya, dengan metode ini, semua pemain yang berada dalam satu ruangan sekaligus bisa bergerak sesuai peran mereka masing-masing, meskipun kamera sedang fokus pada karakter lain.
“Kan kita semua mau gak mau semuanya satu ruangan itu, walaupun kameranya nyorot yang lain, kita tetap mengerjakan apa yang kita kerjakan. Jadi itu yang benar-benar kayak teater aja. Makanya abang suka bilang, ‘Kalau ada yang salah nanti, tetap keep roll aja.’ Kalau kata abang itu magisnya,” lanjut Morgan.
Ia menambahkan, penndekatan sinema teater ini memungkinkan pengambilan gambar dilakukan tanpa banyak potongan, sehingga adegan tidak pecah-pecah dan alurnya tetap mengalir.
Danang kemudian menjelaskan bahwa gaya ini mirip dengan opening film La La Land.
“Kalau misalnya mau lihat sinema teater yang paling populer itu opening La La Land, kayak gitu flow-nya.”