Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Brian Tak Ingin Cawe-cawe dalam Adaptasi Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
Brian Khrisna bicara soal adaptasi film "Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati" (dok. Sinergi Pictures/Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati | IDN Times/Shandy Pradana)

Jakarta, IDN Times - Setelah sukses menjadi novel mega best seller, Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna akhirnya melangkah ke layar lebar. Kisah Ale yang selama ini hidup di halaman buku kini mulai menemukan bentuk baru melalui film garapan sutradara Kuntz Agus (Surga yang Tak Dirindukan, Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?).

Sinergi Pictures dan Ben Film resmi merilis trailer Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati pada Senin (12/10/2026), tepat satu bulan sebelum film tersebut tayang serentak di bioskop Indonesia pada 12 November 2026. Di tengah proses adaptasi film, sang penulis Brian Khrisna justru memilih untuk memberikan ruang lebih kepada para pembuat film untuk menerjemahkan ceritanya ke medium layar lebar.

1. Brian Khrisna antusias Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati diadaptasi jadi film

Brian Khrisna saat konferensi pers film "Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati" di XXI Plaza Senayan, Jakarta, Senin (12/10/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

Sebagai penulis, Brian Khrisna mengaku antusias sekaligus gugup ketika melihat kisah yang selama ini hanya ada dalam bentuk tulisan mulai diwujudkan menjadi film.

"Sebagai orang yang nulis dan mendengarkan Ale-nya sendiri, kita berbincang tentang ini sangat excited sekali. Deg-degan juga ada pasti tentunya. Apalagi ini dialihwahanakan menjadi film, pasti tentunya ada tambahan beberapa adegan yang lebih menarik," ujar Brian dalam konferensi pers di XXI Plaza Senayan, Jakarta, Senin (12/10/2026).

Brian juga melihat kisah Ale cukup dekat dengan realita banyak orang, khususnya mereka yang tinggal di kota-kota besar. Ada berbagai persoalan dan perasaan yang sering kali hanya dipendam tanpa pernah diceritakan kepada orang lain.

"Apalagi ini menceritakan tentang keadaan yang mungkin didera banyak orang, apalagi di kota-kota besar seperti Jakarta yang selama ini bahkan tidak pernah dibicarakan ke orang lain. Perasaannya selama ini dipendam sendiri, dan ada banyak sekali 'Ale' di luar sana yang masuk ke DM juga," jelasnya.

Ia berharap pembaca novel dapat merasakan pengalaman baru ketika melihat karakter dan cerita yang selama ini mereka bayangkan akhirnya menjadi nyata di layar.

"Jadi semoga di film ini para teman-teman yang sudah membaca bukunya bisa ketika nanti menonton filmnya akan merasa sama exciting-nya seperti saya, karena melihat yang selama ini dibayangkan ternyata menjadi nyata. Dan buat teman-teman yang belum baca bukunya ketika menonton film ini akan merasa sangat tergugah puas, lalu pulangnya bisa membeli buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati," harap Brian.

2. Brian Khrisna beri kebebasan untuk mengadaptasi novelnya

Brian Khrisna saat konferensi pers film "Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati" di XXI Plaza Senayan, Jakarta, Senin (12/10/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

Alih-alih "posesif" dan mengatur bagaimana setiap adegan harus dibuat, Brian justru mempercayakan penuh proses adaptasi kepada tim produksi. Ia menyadari bahwa novel dan film memiliki bahasa masing-masing.

"Saya sebagai penulis novelnya sendiri sebenarnya memberikan begitu banyak kebebasan buat teman-teman di PH, di film, apalagi menulis skrip seperti itu. Karena pada dasarnya saya tahu setiap orang mempunyai keahliannya masing-masing dan saya mungkin keahliannya ada di novel, tapi ketika alih wahana ada orang yang lebih ahli dalam hal itu," tuturnya.

Brian bahkan hampir tidak memberikan revisi yang bersifat mendikte. Ia mempercayai orang-orang yang terlibat dalam pembuatan film mampu menerjemahkan ceritanya.

"Saya hampir minim sekali untuk memberikan revisi, 'Ini harus kayak gini, harus kayak gini.' Karena saya yakin 100 persen orang-orang di sini adalah orang-orang yang berbakat, sudah mencurahkan tenaganya, mencurahkan 100 persen dan sama-sama ingin menjadikan film ini sebagai sesuatu yang baik," ucap Brian.

3. Brian Khrisna tak ingin cawe-cawe dalam proses adaptasi filmnya

Brian Khrisna saat konferensi pers film "Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati" di XXI Plaza Senayan, Jakarta, Senin (12/10/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

Bagi Brian, sebuah karya adaptasi memang tidak mungkin dibuat sama persis dengan materi sumbernya. Ada bagian tertentu dari novel yang bisa diterjemahkan melalui tulisan, tetapi belum tentu dapat bekerja dengan cara yang sama ketika divisualisasikan. Karena itu, Brian tidak menuntut seluruh bagian film harus mengikuti imajinasinya.

"Saya sebagai penulis tidak ingin jadi penulis yang idealis, selama itu masih dalam koridor novelnya, masih sama, kan tentu pasti ada yang berbeda ya kalau alih wahana. Ada yang sesuatu yang enggak bisa digambarkan di novel," ujarnya.

Ia pun menyerahkan berbagai keputusan mengenai pemain hingga pendekatan visual kepada tim produksi film yang dianggap lebih memahami kebutuhan film.

"Itu saya serahkan sepenuhnya kepada tim, kepada casting director, saya benar-benar tidak mengganggu. 'Harus ini dong, saya pengen ini dong.' Mereka tahu mana yang baik di filmnya masing-masing, dan itu yang saya berikan. Jadi saya memberikan kebebasan biar mereka bisa 100 persen bekerjanya," ujar Brian.

Curated For You

Editorial Team

Related Article