Still cut film Indonesia Surat Untuk Masa Mudaku (dok. Netflix/Surat Untuk Masa Mudaku)
Detail lain yang juga cukup mencuri perhatian adalah dari segi pewarnaan. Tebakan saya tentang makna dari color grading di film ini ternyata benar! Adegan Kefas remaja cenderung berwarna kuning yang menandakan meski hidupnya penuh kesulitan, tapi masih terasa hangat, karena keluarga di panti asuhan. Berbeda dengan Kefas dewasa (Fendy Chow) yang hidup serba berkecukupan, tapi terasa hampa karena trauma masa lalunya.
"Ya, teori kamu benar! Memang itu yang ingin aku sampaikan. Jadi berarti sampai, ya? Memang itu direncanakan. Jadi aku bersama Pak Arief R. Pribadi, DOP-nya dari awal kita sudah diskusikan," ungkap Sim F yang membenarkan teori saya.
Meski film ini berlatarkan masa lalu yang warna-warnanya terkesan tua, mereka tetap ingin suasananya colorful. Apalagi Surat Untuk Masa Mudaku (2026) gak cuma menyajikan kesedihan dan kehilangan para karakternya, tapi juga kehangatan di antara mereka.
"Ketika saya men-develop cerita ini, saya pengen colorful, berwarna, cantik, dan sebagainya di masa lalu. Karena walaupun banyak kejadian traumatik, tapi banyak pula kejadian-kejadian hangat," lanjutnya.
Di sisi lain, pewarnaan di adegan masa depan memang cenderung dingin, karena Kefas dewasa masih terbelenggu traumanya. Namun, warnanya semakin hangat setelah Kefas mulai menerima trauma itu dan mau membuka diri kepada keluarganya.
"Ketika di-present memang (menyajikan) orang yang terjebak dengan traumanya, dengan masa lalunya. Makanya agak dingin di awal. Tapi ketika sudah masuk di akhir gitu, di ending, bisa dilihat mulai cerah gitu. Waktu di kuburan," jelas sutradara film Susi Susanti - Love All (2019) ini.
Ternyata detail-detail yang penonton lihat dilayar memang hadir untuk menunjang alur cerita dari film Surat Untuk Masa Mudaku (2026). Mendingan kamu coba nonton lagi filmnya untuk tahu apa detail-detail yang Sim F sisipkan!