Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Drama Pendek Jadi Ancaman buat Industri Film?

ilustrasi seseorang menonton drama pendek di HP
ilustrasi seseorang menonton drama pendek di HP (pexels.com/mikoto.raw Photographer)
Intinya sih...
  • Microdrama hadir sebagai inovasi hiburan instan berdurasi pendek yang sesuai dengan ritme konsumsi cepat pengguna HP. Namun, ia juga menuai kritik karena kualitas cerita yang cenderung formulaik dan berpotensi adiktif layaknya doomscrolling.
  • Dari sisi bisnis, drama pendek menjadi ladang profit menarik karena biaya produksi rendah, strategi distribusi agresif, dan nilai pasar serta proyeksi pendapatan global yang terus meningkat. Ini terutama dari audiens dewasa yang stabil secara finansial.
  • Meski belum bisa mematikan industri film konvensional, pertumbuhan pesat microdrama berpotensi menggeser pola konsumsi, arah investasi, dan prioritas pasar hiburan secara perlahan, tetapi signifikan.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Popularitas drama pendek atau microdrama susah buat diabaikan saat ini. Ia jadi semacam candu baru buat banyak orang, terutama pengguna HP. Dengan durasi pendek dan cerita yang padat serta memikat, microdrama memang bikin banyak orang beralih dari film maupun serial konvensional.

Logikanya, pada era yang serbacepat ini, produk instan apa, sih, yang gak diminati? Microdrama seolah jadi jawaban untuk pengisi waktu yang juga gak butuh komitmen tinggi, apalagi daya pikir kritis. Namun, benarkah ia lebih terhormat dibanding doomscroll? Selain itu, apakah eksistensinya juga jadi ancaman buat industri film?

1. Drama pendek dianggap inovasi, tapi tak lepas dari kritik

ilustrasi menonton drama pendek
ilustrasi menonton drama pendek (pexels.com/cottonbro studio)

Drama pendek memang sebuah inovasi brilian. Ia berhasil menjawab tantangan disrupsi digital yang bikin orang asing akan kebosanan. Harus ada sesuatu yang mengisi waktu mereka, entah pekerjaan atau hiburan. Media sosial dan streaming platform menjawab itu dengan memastikan akses terhadap hiburan dan narasi yang eskapis itu bisa diakses dari genggaman tangan: HP.

Namun, seiring waktu, muncul fenomena media fatigue, momen saat orang mulai bosan dan lelah dengan interaksi digital terus-menerus di media sosial. Di sisi lain, mereka juga mulai ogah nonton serial bermusim-musim atau film berjam-jam di streaming platform. Di sinilah, produsen microdrama masuk ke celah kosong tersebut. Mereka menawarkan gabungan antara narasi memikat ala film/serial konvensional, tetapi dalam durasi yang jauh lebih pendek, kurang dari 10 menit. Hebatnya lagi, untuk nonton episode berikutnya, pengguna bisa menggulir layar layaknya nonton konten di media sosial.

Tak pelak, microdrama mendulang popularitas. Pertama kali muncul pada 2022, kini microdrama jadi sesuatu yang normal dikonsumsi. Louis Zhao dalam video esainya yang berjudul "The Rise of China’s Micro Dramas: The Death of Attention Span?" menganalogikan drama pendek seperti camilan. Kamu mengonsumsinya tanpa pikir panjang, tanpa harus memasaknya terlebih dahulu, apalagi membeli dan memilih bahan. Ia tersedia dalam bentuk siap konsumsi, ringan di perut, tetapi bikin nyaman. Kurang lebih seperti itulah drama pendek buat konsumennya.

Namun, seperti camilan pula, drama pendek punya efek adiktif yang sama halnya dengan doomscroll. Orang termasuk konsumennya pun menyadari bahwa drama pendek punya kualitas tak bagus, plotnya formulaik alias mudah ditebak, dan aktingnya pun tak maksimal. Namun, demi menghindari kebosanan, ia dipilih jadi sumber hiburan mudah dan murah.

2. Ladang profit untuk kapitalis

ilustrasi proses produksi drama pendek
ilustrasi proses produksi film (pexels.com/Lê Minh)

Harga ini jadi unik. Sebenarnya, biaya yang kamu bayar untuk nonton ratusan opsi drama pendek tidak jauh beda dengan biaya langganan bulanan streaming platform pada umumnya. Namun, mereka tak jarang memberi opsi gratis beberapa episode atau membuat gebrakan bersama penyedia layanan seluler. Tak sedikit provider telepon seluler yang menawarkan opsi pembelian paket data bundel dengan langganan OTT drama pendek. Ini jelas menarik kaum mendang-mending yang gak mau rugi.

Gebrakan itu sebenarnya sudah dilakukan pula oleh penyedia layanan OTT pelopor. Namun, satu yang mereka tidak bisa penuhi ialah format vertikal dan kualitas gambar HD. Penyedia layanan streaming platform besar tentu gak mau rugi. Mereka memang awalnya mendesain konten mereka untuk layar desktop dan televisi.

Dari sisi produsen dan pemilik modal (kapitalis), drama pendek juga menguntungkan. Mereka tak perlu anggaran besar untuk produksi layaknya film konvensional. Jumlah kru dan aktor bisa ditekan, begitu pula durasi produksi. Namun, keuntungannya gak main-main. Menurut data yang dihimpun CNBC dari China Netcasting Services Association, sebuah lembaga yang mengatur industri konten audiovisual daring di China yang juga produsen terbesar microdrama, valuasi sektor ini mencapai 6,9 miliar dolar AS (Rp116,7 triliun). Perusahaan konsultan media dan hiburan Owl & Co merilis estimasi bahwa drama pendek asal China bisa menghasilkan pendapatan sampai 3 miliar dolar AS (Rp50,7 triliun) dari audiens luar negeri pada 2025.

Ini memang belum bisa menyamai streaming platform besar, macam Netflix dan Prime Video, tetapi pertumbuhannya sangat cepat. Apalagi, konsumen drama pendek ternyata gak terbatas pada anak muda. Ia justru cukup populer di kalangan penonton berumur 25 tahun ke atas dengan rentang usia 30–40-an sebagai kelompok usia terbanyak. Ini artinya, audiens mereka sudah relatif stabil secara finansial. Produsen dan distributor drama pendek memanfaatkan media sosial dan streaming platform, seperti YouTube, sebagai tempat mereka beriklan. Coba sudah berapa kali kamu melihat iklan drama pendek saat lagi asyik menggulir layar HP?

3. Bisakah ia mematikan industri film konvensional?

ilustrasi menonton film di televisi
ilustrasi menonton film di televisi (pexels.com/Karola G)

Pertanyaannya, apakah drama pendek bisa jadi ancaman buat industri film konvensional? Jawabannya belum bisa dipastikan mengingat drama pendek baru eksis beberapa tahun. Namun, perkembangan pesatnya mungkin dikhawatirkan bisa bikin investor melirik drama pendek ketimbang menggelontorkan dana ke rumah produksi konvensional, apalagi sineas independen.

Kita bahkan sudah disuguhi banyak kasus miris soal rumah produksi dan distributor film konvensional yang mengalami kontraksi finansial. Warner Bros., misalnya, bersiap menjual sahamnya pada Netflix. Sementara, MUBI yang dikenal sebagai surga sinefili progresif sampai melepas idealisme mereka dengan menerima investasi dari perusahaan problematik Sequoia Capital. Kita pun tak bisa memungkiri beralihnya perusahaan distributor film arthouse berbujet rendah seperti A24 ke arah mainstream demi mempertahankan bisnis mereka.

Berkaca dari itu, sebenarnya gak berlebihan ketika orang mengeklaim microdrama sebagai ancaman. Nyatanya, meski tak serta-merta mematikan industri film konvensional, tren microdrama bakal mengubah pola konsumsi dan sikap pasar secara perlahan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎
Follow Us

Latest in Hype

See More

Drama Pendek Jadi Ancaman buat Industri Film?

17 Jan 2026, 23:24 WIBHype