Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Ewan Mitchell Soal Lakoni Adegan Mencium 'Ibu' di House Of The Dragon S3

Ewan Mitchell Soal Lakoni Adegan Mencium 'Ibu' di House Of The Dragon S3
Aemond Targaryen dan ibunya, Alicent Hightower (dok. HBO/House of the Dragon)
Intinya Sih
  • Ewan Mitchell mengaku canggung namun melihat adegan ciuman Aemond dan ibunya sebagai tantangan untuk menampilkan sisi psikologis karakter yang haus kasih sayang sejak kecil.
  • Olivia Cooke menyebut adegan tersebut menggambarkan gejolak Oedipal tersembunyi, di mana Alicent harus berhati-hati karena Aemond digambarkan berbahaya dan emosional.
  • Showrunner Ryan Condal menjelaskan perilaku Aemond dipicu trauma masa kecil dan kompleks Oedipus, memperlihatkan bagaimana ia salah menafsirkan kasih sayang ibunya sebagai cinta romantis.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Penayangan perdana musim ketiga House of the Dragon pada Senin (22/6/2026) sukses membuat penonton terbelalak. Di tengah kekacauan setelah hilangnya Aegon Targaryen (Tom Glynn-Carney) dari King's Landing, sang adik, Aemond Targaryen (Ewan Mitchell), melakukan tindakan tak terduga saat berkonfrontasi dengan ibunya sendiri, Alicent Hightower (Olivia Cooke). Dalam adegan tersebut, ia mencium bibir Alicent.

Adegan kontroversial tersebut langsung memicu perdebatan di kalangan fans HOTD. Banyak yang mengaku terkejut dengan arah hubungan kedua karakter, sementara para pemeran dan kru justru menilai momen tersebut penting untuk memahami kondisi psikologis Aemond.

1. Pemeran Aemond, Ewan Mitchell, tanggapi adegan cium ibunya sendiri

Seorang pria berambut panjang putih mengenakan pakaian gelap dan penutup mata berdiri di ruangan bergaya abad pertengahan dengan pedang di pinggangnya.
House of the Dragon (dok. HBO/House of the Dragon)

Menanggapi adegan yang menggegerkan tersebut, Ewan Mitchell mengaku kalau ia sendiri merasa sangat canggung. Namun di sisi lain, Ewan melihatnya sebagai tantangan besar dan kesempatan untuk menunjukkan sisi lain Aemond yang belum pernah terlihat.

"Ya, rasanya agak membuatmu ingin sedikit muntah," candanya kepada majalah PEOPLE, Senin (22/6/2026).

Mitchell kemudian menjelaskan bahwa tindakan karakternya ini berakar dari masa kecilnya yang minim kasih sayang.

"Aemond tumbuh besar tanpa pernah merasa cukup dicintai oleh ibu dan keluarganya. Seorang anak butuh cinta tanpa syarat agar bisa tumbuh dengan mental yang seimbang. Karena tidak mendapatkannya, cara Aemond memandang dan mengekspresikan kasih sayang menjadi sangat menyimpang. Itulah yang kita lihat di episode pertama ini," tambahnya.

2. Olivia Cooke lebih blak-blakan soal adegan inses tersebut

Seorang wanita bergaun hijau menyentuh wajah pria berambut panjang pirang yang duduk di kursi ukiran dalam adegan serial House of the Dragon.
House of the Dragon (dok. HBO/House of the Dragon)

Di sisi lain, Olivia Cooke memiliki pandangan yang lebih blak-blakan mengenai karakter anak layarnya tersebut. Aktris berusia 32 tahun ini menyebut bahwa karakter Aemond memang sudah "sakit" sedari awal.

"Proses syutingnya terasa agak aneh bagi kami berdua. Sebenarnya ada gejolak Oedipal (ketertarikan pada ibu sendiri) yang terselubung di sana, tanpa disadari oleh Alicent. Dan ciuman itu sangat mengejutkan sekaligus berbahaya, karena Aemond adalah sosok yang sangat berbahaya," ungkap Cooke.

Cooke menambahkan bahwa reaksi Alicent yang tampak membeku di adegan tersebut bukan tanpa alasan.

"Alicent tahu betul bahwa satu salah ekspresi wajah saja, atau jika Aemond merasa ditolak, itu bisa merenggut nyawanya. Jadi dia harus melangkah dengan sangat, sangat hati-hati. Dia benar-benar dibuat tercengang di momen itu," lanjutnya.

3. Ewan merasa Aemond salah mengartikan gestur kasih sayang dari ibunya

Seorang karakter berambut pirang panjang duduk di atas Iron Throne dengan ekspresi serius dalam adegan serial House of the Dragon.
House of the Dragon (dok. HBO/House of the Dragon)

Semua ini bermula saat Alicent membujuk Aemond untuk terbang bersama Vhagar menuju Harrenhal demi menghadapi pamannya, Daemon Targaryen. Namun, percakapan tersebut berubah arah saat Aemond diduga salah menafsirkan perhatian sang ibu sebagai bentuk cinta romantis.

"Aemond mencoba membaca maksud tersirat, melihat apakah ada motif tersembunyi di baliknya. Ketika saya membacanya di naskah untuk pertama kali, saya hanya berpikir, 'Oh, itu sesuatu. Cukup di luar dugaan.' Saya sudah menduganya dengan semua yang telah saya eksplorasi tentang Aemond dan hubungannya dengan Alicent," kata Mitchell dalam wawancara berbeda kepada Entertainment Weekly, Senin (22/6/2026).

Mitchell kemudian mengutip pepatah terkenal dari Afrika: "Anak yang tidak diterima oleh desa akan membakar desa itu untuk merasakan kehangatannya."

Showrunner Ryan Condal menjelaskan bahwa benih perilaku Aemond sebenarnya sudah ditanam sejak musim pertama. Menurutnya, trauma masa kecil akibat bullying Aegon dan pengalaman traumatis di rumah bordil membentuk cara Aemond memandang kasih sayang.

"Meskipun saya tidak berpikir Aemond benar-benar mencintai ibunya, saya rasa dia tidak mampu memisahkan perasaan yang dia miliki untuk ibunya dari perasaan maskulin lainnya yang dia alami," ujar Condal.

Para penulis House of the Dragon memang sengaja membangun karakter Aemond dengan nuansa Oedipus Complex, merujuk pada tragedi Yunani tentang seorang pria yang tanpa sadar membunuh ayahnya demi menikahi ibunya. Dalam versi House of the Dragon, konflik tersebut muncul ketika Alicent mengungkapkan keyakinannya bahwa Aemond seharusnya menjadi raja, bukan Aegon.

Adegan kontroversial ini dipastikan bakal terus menjadi bahan perbincangan penggemar sepanjang penayangan musim ketiga House of the Dragon. Menurutmu, apakah keputusan kreatif ini berhasil memperdalam karakter Aemond atau justru terlalu berlebihan?

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Indra Zakaria
EditorIndra Zakaria

Related Articles

See More