House of the Dragon (dok. HBO/House of the Dragon)
Semua ini bermula saat Alicent membujuk Aemond untuk terbang bersama Vhagar menuju Harrenhal demi menghadapi pamannya, Daemon Targaryen. Namun, percakapan tersebut berubah arah saat Aemond diduga salah menafsirkan perhatian sang ibu sebagai bentuk cinta romantis.
"Aemond mencoba membaca maksud tersirat, melihat apakah ada motif tersembunyi di baliknya. Ketika saya membacanya di naskah untuk pertama kali, saya hanya berpikir, 'Oh, itu sesuatu. Cukup di luar dugaan.' Saya sudah menduganya dengan semua yang telah saya eksplorasi tentang Aemond dan hubungannya dengan Alicent," kata Mitchell dalam wawancara berbeda kepada Entertainment Weekly, Senin (22/6/2026).
Mitchell kemudian mengutip pepatah terkenal dari Afrika: "Anak yang tidak diterima oleh desa akan membakar desa itu untuk merasakan kehangatannya."
Showrunner Ryan Condal menjelaskan bahwa benih perilaku Aemond sebenarnya sudah ditanam sejak musim pertama. Menurutnya, trauma masa kecil akibat bullying Aegon dan pengalaman traumatis di rumah bordil membentuk cara Aemond memandang kasih sayang.
"Meskipun saya tidak berpikir Aemond benar-benar mencintai ibunya, saya rasa dia tidak mampu memisahkan perasaan yang dia miliki untuk ibunya dari perasaan maskulin lainnya yang dia alami," ujar Condal.
Para penulis House of the Dragon memang sengaja membangun karakter Aemond dengan nuansa Oedipus Complex, merujuk pada tragedi Yunani tentang seorang pria yang tanpa sadar membunuh ayahnya demi menikahi ibunya. Dalam versi House of the Dragon, konflik tersebut muncul ketika Alicent mengungkapkan keyakinannya bahwa Aemond seharusnya menjadi raja, bukan Aegon.
Adegan kontroversial ini dipastikan bakal terus menjadi bahan perbincangan penggemar sepanjang penayangan musim ketiga House of the Dragon. Menurutmu, apakah keputusan kreatif ini berhasil memperdalam karakter Aemond atau justru terlalu berlebihan?