Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Bernadya Hadirkan Warna 2000-an dalam Album Semoga Hanya di Mimpi

Bernadya Hadirkan Warna 2000-an dalam Album Semoga Hanya di Mimpi
Potret Adryanto Pratono 'Boim' bersama Bernadya dalam press conference di Jakarta Jumat (26/6/2026) (IDN Times/Juan Dwi)
Intinya Sih
  • Bernadya merilis album terbaru berjudul Semoga Hanya di Mimpi pada 24 Juni 2026 di bawah JUNI Records, berisi sepuluh lagu yang menggambarkan ketakutannya dan harapan agar itu hanya mimpi.

  • Album ini menghadirkan nuansa musik era 2000-an terinspirasi setelah mendengarkan album Audy Item, dengan tujuan menciptakan suasana panggung yang lebih meriah dan membawa pendengar bernostalgia ke masa tersebut.

  • Dalam proses kreatifnya, Bernadya bekerja sama dengan Baskara Putra, Rendy Pandugo, Perunggu, dan Vega Antares untuk menampilkan warna 2000-an melalui musik hingga visual album yang dipotret di Pantai Kamakura, Jepang.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times – Semoga Hanya di Mimpi menjadi album terbaru dari Bernadya setelah sebelumnya sukses dengan Untungnya, Hidup Harus Tetap Berjalan. Album ini berisi sepuluh track dan telah dirilis di bawah naungan label rekaman JUNI Records sejak tanggal 24 Juni 2026.

Lewat kesempatan kali ini, Bernadya menghadirkan sesuatu yang unik dengan membawa warna 2000-an ke dalam album terbarunya. Pemilihan frasa 'Semoga Hanya di Mimpi' sebagai judul albumnya pun memiliki makna yang dalam banget bagi sang penyanyi sendiri.

1. Lewat judul album, Bernadya harap ketakutan yang ia tuangkan tak terjadi

Art cover album Bernadya bertajuk Semoga Hanya di Mimpi (instagram.com/bernadyaribka)
Artwork album Bernadya bertajuk Semoga Hanya di Mimpi (instagram.com/bernadyaribka)

Frasa 'Semoga Hanya di Mimpi' ternyata diambil dari potongan lirik lagu "Laut yang Tenang". Lirik lagu yang menjadi focus track album ini diciptakan Bernadya bersama Baskara Putra alias Hindia dan drummer Lomba Sihir, Enrico Octaviano.

Dengan mengambil frasa tersebut sebagai judul album, Bernadya seperti menaruh harapan besar agar track-track di dalamnya yang berisi ketakutan tak benar-benar terjadi dalam kehidupan di dunia nyata.

"Itu ada di salah satu lirik, track 1, dan itu adalah harapanku. Track-track-nya (di album ini) adalah isi ketakutanku yang aku harap itu cuma ada di mimpi. Mudah-mudahan gak beneran. Semoga hanya di mimpi ketakutanku," ucap Bernadya saat dijumpai di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, Jumat (26/6/2026).

2. Warna 2000-an yang dibawa dalam album terinspirasi usai dengar lagu Audy Item

Potret Bernadya dalam press conference albumnya di Jakarta Selatan, Jumat (26/6/2026) (IDN Times/Juan Dwi)
Potret Bernadya dalam press conference albumnya di Jakarta Selatan, Jumat (26/6/2026) (IDN Times/Juan Dwi)

Dalam album ini, Bernadya tampak menghadirkan sesuatu yang berbeda jika melihat album studio pertamanya. Penyanyi 22 tahun itu mengaku memang mencoba hal baru untuk albumnya kali ini karena ingin memiliki lagu yang dapat membangun suasana lebih meriah ketika sedang manggung.

Oleh karena itulah ia akhirnya memilih menghadirkan warna 2000-an dalam Semoga Hanya di Mimpi. Menariknya, Bernadya terinspirasi untuk menghadirkan musikalitas ala 2000-an setelah mendengar lagu Audy Item di album 18 yang rilis pada 2002 silam.

"Jadi aku berangkatnya sering dengerin Audy album yang 18. Terus Aku juga merasa waktu itu track terakhir di albumku sebelumnya, orang banyak bilang ini terdengar nostalgic, terus orang jadinya terbawa ke masa itu, band-band tahun segitu. Seru ya kalau kita berangkat dari sini. Jadi, benang merahnya itu, 2000-an gitu, lho," imbuhnya.

3. Bernadya gandeng beberapa musisi untuk hadirkan warna 2000-an di albumnya

Potret Bernadya bersama Hindia sampai Rendy Pandugo dalam press conference di Jakarta Selatan, Jumat (26/6/2026) (IDN Times/Juan Dwi)
Potret Bernadya bersama Hindia sampai Rendy Pandugo dalam press conference di Jakarta Selatan, Jumat (26/6/2026) (IDN Times/Juan Dwi)

Bernadya diketahui turut menggandeng beberapa musisi populer di blantika musik Indonesia dalam proses pembuatan lirik dan penggarapan album keseluruhan. Mereka di antaranya adalah Baskara Putra, Rendy Pandugo, Vega Antares, sampai ajak Perunggu untuk kolab.

"2000-an tuh luas banget, ya ternyata. Jadi, makanya aku mengajak banyak produser untuk mengumpulkan 2000-an berdasarkan perspektif produser masing-masing. Ternyata, hasilnya warna-warni," ucapnya.

Warna 2000-an bahkan tidak hanya bisa dirasakan melalui lagunya saja, tapi juga dari artwork album yang menampilkan potret Bernadya di sebuah pantai. Usut punya usut, pemotretan untuk cover albumnya dilakukan di Pantai Kamakura, Jepang.

Walau begitu, cewek berzodiak Pisces ini menegaskan bahwa sebenarnya hal tersebut dilakukan bukan untuk menonjolkan suasana Jepang, tapi justru ingin menampilkan warna-warna khas era 2000-an yang menurutnya lebih banyak ditemukan di sana.

"Kita tuh plan-nya gak mau ngejar Jepang-nya banget. Ada beberapa warna yang cuma ada di Jepang, kayak hijaunya beda, birunya beda. Cuma, kita gak mau sebenarnya orang ngerasa itu Jepang. Aim-nya adalah 2000-an gitu, lho. Entah kenapa warna-warna itu bisa didapatkannya di situ," tandasnya.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Indra Zakaria
EditorIndra Zakaria

Related Articles

See More