12 Fakta Avenged Sevenfold yang Jarang Dibahas, Mau Gelar Konser

- Avenged Sevenfold, band rock asal California yang berdiri sejak 1999, berevolusi dari metalcore ke metal progresif dan akan menggelar konser di Jakarta pada 10 Oktober 2026 bertajuk “Where The Bats Ascend.”
- Perjalanan A7X penuh tantangan: kehilangan drummer The Rev, gugatan dengan Warner Bros., hingga konflik dengan Mike Portnoy; namun mereka tetap bertahan dan terus bereksperimen dalam musiknya.
- Band ini dikenal inovatif dan mandiri—menjauhkan politik dari karya, merambah NFT lewat Deathbats Club, serta fokus pada kreativitas tanpa terlalu peduli angka penjualan atau label besar.
"Aku terlalu aneh untuk hidup, tetapi terlalu langka untuk mati." Siapa sangka kutipan terkenal Raoul Duke dari film Fear and Loathing in Las Vegas (1998) tersebut menjadi inspirasi dari lagu "Bat Country" (2005), single pertama Avenged Sevenfold yang meraih status emas. Lagu ini juga melambungkan band rock asal California tersebut menjadi superstar.
Namun, proses pembuatan lagu "Bat Country" memakan waktu lama, karena band ini dimulai sejak tahun 1999 ketika para anggota aslinya masih duduk di bangku SMA. Saat melakukan tur dan merekam musik, Avenged Sevenfold bereksperimen dan menggabungkan berbagai gaya—dimulai sebagai band metalcore dengan debut album Sounding the Seventh Trumpet (2001) dan berkembang menjadi band metal progresif lewat album The Stage (2016).
Rupanya, Avenged Sevenfold akan menggelar konser lagi, nih, di Jakarta. Konser yang digelar di International Stadium pada 10 Oktober 2026 ini menjadi tur Asia bertajuk “Where The Bats Ascend.” Siapa nih, yang mau bernostalgia dengan lagu-lagu Avenged Sevenfold. Nah, tapi sebelumnya, kita bahas dulu momen-momen penting yang belum terungkap tentang band A7X ini, ya.
1. Avenged Sevenfold ingin bubar setelah meninggalnya The Rev

Pada Desember 2009, drummer dan vokalis latar Avenged Sevenfold, Jimmy "The Rev" Sullivan, meninggal dunia akibat overdosis yang gak disengaja, menurut laporan Rolling Stone. Pada usia 28 tahun, meninggalnya The Rev yang mendadak mengejutkan keluarga dan teman-temannya karena karier musiknya baru saja dimulai, tapi berakhir dengan tiba-tiba. Bagi anggota bandnya, kepergiannya menjadi beban yang sangat berat. Band ini bahkan hampir ingin membubarkan A7X—sebutan akrab Avenged Sevenfold.
"Setelah Jimmy meninggal, kami benar-benar sudah selesai," kata Synyster Gates kepada Kerrang. "Selama minggu pertama, kami sudah selesai. Kami semua duduk dan bilang, 'Kita gak menyerah, tapi tanpa Jimmy, gak ada Avenged Sevenfold.' Tetapi ketika kami duduk dan berbicara dengan keluarga Jimmy, mereka bilang, 'Kalian harus melanjutkan ini.'" Gates bilang kalau keluarga Sullivan meminta band untuk tetap bertahan karena mereka menganggap itu yang di mau The Rev. Gates mengakui bahwa awalnya sangat sulit, tapi Avenged Sevenfold rela berjuang lagi karena mereka di-support banyak orang.
2. Warner Bros. Records menggugat Avenged Sevenfold

Selama lebih dari 10 tahun, Avenged Sevenfold bernaung di bawah Warner Bros. Records. Band ini merilis empat album—City of Evil, Avenged Sevenfold, Nightmare, dan Hail to the King—serta meraih dua album yang menduduki puncak tangga lagu Billboard 200 selama periode tersebut. Namun, di suatu titik, hubungan mereka memburuk. A7X ngasih tahu Warner Bros. bahwa mereka gak akan bekerja sama lagi dengan label tersebut pada akhir tahun 2015. Jadi, apa yang dilakukan para eksekutif Warner Bros.? Yap, studio ini justru menggugat Avenged Sevenfold, seperti yang dilaporkan dalam berita eksklusif Billboard.
Menurut pernyataan yang dirilis oleh pengacara Avenged Sevenfold, Howard E. King, band tersebut ingin menggunakan undang-undang tujuh tahun untuk mengakhiri kesepakatan mereka dengan Warner Bros. Band ini menyebut bahwa terjadi banyak perubahan di label tersebut sejak mereka menandatangani kontrak. Mereka pun gak lagi memiliki hubungan dengan personel A&R.
Gugatan tersebut berlangsung bolak-balik selama beberapa tahun. Namun, menurut komentar Johnny Christ di podcast-nya Drinks with Johnny pada tahun 2020, tampaknya Avenged Sevenfold kembali ke Warner Bros. lagi.
3. Avenged Sevenfold sempat berseteru dengan mantan drummer Dream Theater

Pada tahun 2010, Avenged Sevenfold gak sengaja berselisih dengan mantan drummer sesi mereka, yaitu Mike Portnoy, dan bandnya, Dream Theater. Portnoy sendiri menggantikan The Rev untuk menyelesaikan trek drum dalam album Nightmare setelah meninggalnya The Rev. Meskipun begitu, Portnoy gak pernah menjadi anggota tetap A7X.
Menurut wawancara Zacky Vengeance dengan stasiun radio 107.7 The Bone, Avenged Sevenfold ngasih tahu Portnoy kalau sejak awal, pekerjaannya sebagai drummer hanya sementara. Sebab, anggota Avenged Sevenfold belum siap untuk mencari pengganti The Rev saat itu. Namun, Portnoy bilang kalau ia ingin keluar dari Dream Theater.
Zacky Vengeance mengakui kalau Avenged Sevenfold kaget ketika Mike Portnoy ngasih tahu bahwa dia keluar dari Dream Theater. Portnoy sendiri mengumumkannya di media sosial, dan siap bergabung dengan Avenged Sevenfold. Namun, gak ada kesepakatan di awal terkait hal tersebut. Portnoy dan Dream Theater pun akhirnya berseteru karena masalah itu. Terlepas dari drama tersebut, Avenged Sevenfold sangat berterima kasih kepada Portnoy karena membantu Avenged Sevenfold ketika mereka membutuhkannya.
4. Avenged Sevenfold berhasil tampil di acara Total Request Live yang populer kala itu di MTV

Kamu tahu gak kalau huruf "M" dalam "MTV" berarti "musik"? Yap, saluran TV tersebut memang memutar musik dan menampilkan acara-acara seputar band dari industri musik. Salah satu acara paling populer di MTV saat itu adalah Total Request Live, atau TRL. Acara ini memutar video musik yang paling banyak di-request oleh penggemar.
TRL sendiri awalnya dipandu oleh Carson Daly. Di sisi lain, band yang bisa tampil di TRL merupakan kesempatan besar, dan membantu melegitimasi banyak band di mata khalayak umum. Namun, pada tahun 2005, hampir gak pernah terdengar lagi band-band beraliran heavy metal yang tampil di acara tersebut, karena lagu-lagu hits teratas tahun itu kebanyakan bergenre pop atau R&B.
Jadi, bayangkan bagaimana perasaan Avenged Sevenfold ketika "Bat Country" berhasil menduduki puncak tangga lagu TRL pada saat itu. Saat diwawancarai MTV, M. Shadows (vokalis Avenged Sevenfold) mengakui kalau perasaannya gak karuan. "Ketika kami mendengar bahwa kami diumumkan akan tampil di 'TRL,' saya berpikir, 'itu agak aneh,'" ungkapnya. "Tapi itu adalah keputusan yang harus kami buat: Apakah kami ingin menempuh jalan itu dan melakukan itu? Tapi ini pasar yang sangat sulit untuk menjual CD dan membuat orang mendengarkan kami, jadi kami sangat senang bisa menjadi No. 1." Sayangnya, TRL gak lagi tayang di MTV pada tahun 2008.
5. M. Shadows pernah bekerja sama dengan Axl Rose dan pelatih vokal Chris Cornell

Jika kamu penggemar Avenged Sevenfold dan membeli album Waking the Fallen (2003) dan City of Evil (2005) pasti kamu sadar kalau ada perbedaan dalam pendekatan musiknya, dan juga perbedaan dalam gaya vokal M. Shadows. Seperti yang diungkapkan Shadows kepada Blistering, perubahan itu memang disengaja karena Avenged Sevenfold gak berniat merilis album dengan suara serupa lagi.
Penyanyi Avenged Sevenfold itu menjalani pelatihan vokal di bawah bimbingan pelatih vokal Ron Anderson—yang pernah bekerja dengan Axl Rose dan Chris Cornell—selama 9 bulan sebelum masuk rekaman studio. "Ron mengajariku bagaimana punya kekasaran dalam suara, tapi tetap mempertahankan nada. Dia mengajarkan teknik itu ke suaraku." Shadows juga gak khawatir jika penggemar menuduhnya mengkhianati prinsip, karena dia percaya perubahan gaya bernyanyi ini diperlukan untuk evolusi band dan suaranya.
6. Avenged Sevenfold menjauhkan politik dari musik mereka

Sebagian besar band hardcore biasanya lebih suka mengkritik politik. Band sejenis ini gak takut menyuarakan pandangan mereka tentang berbagai topik dan menunjukkan kepada pendengar di pihak mana mereka berada. Namun, menurut M. Shadows, Avenged Sevenfold memilih untuk gak memasukkan pandangan politik pribadi mereka ke dalam musik. Band ini takut jika pesan-pesan tersebut disalahartikan dan malah menciptakan perpecahan di kalangan penggemarnya.
Dalam sebuah wawancara dengan Rock 106.9, M. Shadows bilang, "Aku cukup politis, tapi aku gak mau memasukkannya ke dalam musik, karena aku tahu kalau setiap pernyataan yang kalian terima dariku dalam wawancara radio atau majalah, selalu ada argumen balasan yang gak akan pernah bisa aku bantah." Meskipun demikian, Shadows secara terbuka mendukung gerakan Black Lives Matter. Dia bilang bahwa hal itu penting untuk menunjukkan dukungannya terhadap gerakan tersebut (bandnya juga mendukungnya).
7. Kenapa Brooks Wackerman meninggalkan Bad Religion untuk A7X?

Butuh beberapa waktu setelah meninggalnya The Rev bagi Avenged Sevenfold untuk mencari drummer pengganti. Arin Ilejay bergabung dengan Avenged Sevenfold pada tahun 2011, tapi ia dikeluarkan pada tahun 2015. Gak lama kemudian, Brooks Wackerman dari Bad Religion diumumkan sebagai drummer baru. Hal ini mengejutkan banyak orang di industri musik, terutama karena Wackerman masih bersama band punk legendaris Bad Religion selama 14 tahun ketika akhirnya keluar untuk bergabung dengan A7X.
Dalam percakapan dengan Drum Magazine, Brooks Wackerman mengungkapkan alasan yang sederhana kenapa ia keluar dari Bad Religion. "Ketika para personel Avenged memintaku untuk bergabung, aku sedang mencari gaya yang berbeda, atau petualangan baru," katanya. "Mereka sudah familiar dengan karyaku, jadi aku merasa terhormat mereka memintaku untuk masuk ke band mereka." Wackerman juga ngasih tahu kalau idola drumnya adalah drummer hard rock dan metal. Jadi bergabung dengan Avenged Sevenfold merupakan impiannya meraih akar musiknya. Wackerman memang dikenal di kancah musik punk, tapi metal selalu menjadi nomor satu di hatinya.
8. Komentar negatif netizen gak memengaruhi Avenged Sevenfold

Setelah berkecimpung di dunia musik selama lebih dari dua dekade, Avenged Sevenfold memahami volatilitas penggemar rock dan metal, terutama di forum online dan platform media sosial. Yap, komentar netizen seringkali berubah menjadi argumen elitis dan saling menyerang tentang selera musik.
Saat diminta menjawab pertanyaan penggemar dalam Metal Hammer, M. Shadows bilang kalau pendapat netizen sama sekali gak mengganggu bandnya. "Aku gak minat lagi bermain internet sejak bertahun-tahun yang lalu," jelasnya. "Kalian bisa mengunjungi saluran YouTube atau Facebook artis mana pun dan menulis komentar negatif. Siapa yang peduli?" gertak Shadows.
M. Shadows bilang kalau seseorang gak harus khawatir tentang apa yang dikatakan atau dipikirkan orang lain. Itu artinya, jangan terlalu menganggap serius pendapat netizen di sosial media. Yap, benar banget.
9. Avenged Sevenfold terjun ke pasar NFT

Non-Fungible Token atau lebih dikenal sebagai NFT, telah menjadi bagian utama dari ruang digital untuk seni, musik, dan game. Banyak artis bereksperimen dengan aset digital ini dalam berbagai tingkat keberhasilan. Menjelang akhir tahun 2021, Avenged Sevenfold menguji pasar dengan merilis 10.000 NFT lewat Deathbats Club kepada penggemar mereka.
"Kami sudah cukup lama mengoleksi CryptoPunks, dan kami memutuskan untuk membuat NFT yang kami rilis sebelum Deathbats Club," kata M. Shadows kepada Forbes, "yang merupakan upaya kami untuk mencoba dan melihat bagaimana reaksi penggemar."
M. Shadows mengakui bahwa pasar NFT bisa membingungkan dan gak selalu cocok untuk semua orang. Tapi band ini siap untuk mengajak penggemar yang ingin mempelajarinya. Shadows berharap dengan adanya perilisan musik on-chain ini bisa menjadi pilihan baru, karena cara lama merilis musik lewat label sudah ketinggalan zaman.
10. Zacky Vengeance gak pernah belajar gitar secara profesional dengan orang lain

Terlepas dari apa pun pendapat orang tentang musik Avenged Sevenfold, gak ada yang bisa menyangkal kalau permainan gitar Zacky Vengeance dan Synyster Gates sangat mengesankan. Yap, kedua gitaris ini mengalirkan melodi lewat riff yang berpacu dan solo secepat kilat. Jadi, bisa dibilang kalau gitar adalah instrumen utama dalam setiap lagu A7X. Synyster Gates sendiri mempelajari berbagai genre di Musicians Institute Hollywood dan mempelajari beberapa trik dari ayahnya yang juga seorang musisi, Brian Haner Sr. Namun, berbeda dengan Zacky Vengeance.
"Aku gak pernah belajar gitar dengan seumur hidupku," ungkap Zacky Vengeance kepada GoetiaMedia. "Aku gak peduli dengan hal itu. Aku hanya fokus dengan musik, dan bagaimana aku menikmati musik itu."
Zacky Vengeance juga gak pernah menganggap dirinya sebagai salah satu pemain gitar hebat. Dia gak peduli seberapa banyak pujian yang dia terima dari orang lain. Sebab, dia bermain gitar karena kecintaannya pada musik. Benar-benar bakat bawaan.
11. Avenged Sevenfold gak terlalu peduli tentang bisnis industri musik

Sama seperti pendapatan box office yang ngasih tahu studio apakah sebuah film sukses atau enggak, tangga penjualan album adalah satu-satunya hal yang sangat diperhatikan oleh label rekaman. Angka-angka inilah yang diteliti oleh para eksekutif dan mereka lihat dalam rapat dewan direksi, karena angka-angka tersebut menunjukkan apakah sebuah album menjadi investasi yang baik bagi mereka atau enggak. Meskipun punya dua album yang mencapai posisi teratas di Billboard 200, M. Shadows bilang kepada Metal Hammer bahwa Avenged Sevenfold gak melihat tangga lagu untuk memvalidasi apa yang mereka lakukan.
Vokalis A7X tersebut mengungkapkan bahwa The Stage masih menjadi album favoritnya hingga saat ini, meskipun bukan album terlaris. Album tersebut debut di posisi No. 4 di Billboard 200, tiga posisi lebih rendah dari album pendahulunya Hail to the King dan Nightmare. Shadows bilang kalau band mereka tetap merilis album kejutan itu tanpa pemasaran sama sekali. Mereka gak terlalu khawatir tentang angka-angka tersebut. Selain itu, setelah perilisan berikutnya, mereka gak akan terikat dengan label rekaman karena ingin lebih bebas bereksperimen dan terhubung langsung dengan para penggemar.
12. Neil DeGrasse Tyson ngasih saran agar durasi lagu Exist dipersingkat

Salah satu lagu paling eklektik dari album The Stage adalah lagu penutupnya yang berjudul "Exist", yang dinarasikan oleh astrofisikawan dan tokoh sains terkenal Neil deGrasse Tyson. Sebab, lagu ini berpusat pada fenomena Big Bang. Lagu ini juga merupakan lagu terpanjang Avenged Sevenfold, dengan durasi 15 menit 41 detik, yang mungkin lebih panjang daripada beberapa album grindcore. Ternyata, Neil deGrasse Tyson justru khawatir tentang durasi lagu yang panjang tersebut, seperti yang diungkapkan M. Shadows kepada Loudwire.
"Dia (Neil deGrasse Tyson) bilang, 'Apakah kalian yakin ingin membuat lagu berdurasi 15 menit? Kalian tahu, 'Imagine' karya John Lennon sangat sederhana,'" ungkap M. Shadows. "Dan aku menjawab, 'Kita sudah punya bagian musiknya, percayalah. Ini akan keren.'" Dan dia seperti, 'Oke, asalkan kau benar-benar ingin aku berbicara selama 3 menit.'"
Adapun, media seperti Metal Injection dan NME memuji album eksperimental Avenged Sevenfold ini. Mereka ngasih pujian untuk lagu tersebut. Yap, M. Shadows kayanya tahu banget apa yang dia maksud sejak awal, dan Neil deGrasse Tyson salah. Siapa yang nyangka?
Sukses dan menerima pujian, Loudwire menobatkan Avenged Sevenfold sebagai salah satu dari 50 band metal terbaik sepanjang masa. Namun, perjalanan band ini menuju puncak kesuksesan gak lepas dari berbagai cobaan dan kesulitan. Mulai dari kehilangan drummer dan sahabat terbaik mereka, Jimmy "The Rev" Sullivan, hingga gugatan yang diajukan oleh mantan label rekaman mereka, nih.


















