Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Film 2026 yang Terlalu Ambisius dan Berani, Akankah Berhasil?

Wuthering Heights
Wuthering Heights (dok. Warner Bros/Wuthering Heights)

Tahun 2026 diprediksi akan dipenuhi film-film besar dengan ambisi tinggi, sutradara ternama, dan aktor kelas A. Namun, ambisi besar tidak selalu berbanding lurus dengan hasil yang memuaskan. Dalam perfilman, banyak proyek megah justru jatuh karena salah arah, kontroversi, atau keputusan kreatif yang terlalu memaksakan diri.

Beberapa film yang akan datang terlihat berani sejak awal. Entah karena mengutak-atik karya klasik atau mencoba mengemas figur kontroversial dengan cara yang terasa kurang jujur. Kalau belum tahu, ini beberapa film 2026 yang dianggap ambisius dan berani, bahkan sejak awal sudah memicu keraguan dan berpotensi gagal di mata kritikus maupun penonton.

1. Wuthering Heights (Emerald Fennell)

Wuthering Heights
Wuthering Heights (dok. Warner Bros/Wuthering Heights)

Adaptasi novel klasik Wuthering Heights memang sudah berkali-kali dibuat, tetapi versi terbaru garapan Emerald Fennell tampaknya ingin tampil paling provokatif. Sutradara Saltburn (2023) ini disebut akan membawa pendekatan yang jauh lebih sensual, gelap, dan mengejutkan, dengan fokus pada sisi obsesif dari kisah cinta Heathcliff dan Cathy.

Sayangnya, pendekatan yang terlalu mengutamakan sensasi berisiko mengaburkan kedalaman emosional yang justru menjadi kekuatan utama novel Emily Brontë. Kontroversi semakin besar dengan pilihan casting Margot Robbie dan Jacob Elordi, terutama untuk peran Heathcliff yang secara literatur digambarkan jauh dari citra tampan Hollywood.

Banyak penggemar merasa karakter ikonik ini kehilangan konteks sosial dan rasialnya. Jika film ini hanya mengandalkan estetika, kejutan, dan kontroversi tanpa emosi yang kuat, Wuthering Heights bisa berakhir sebagai adaptasi yang ramai dibicarakan, tapi cepat dilupakan.

2. Michael (Antoine Fuqua)

Michael
Michael (dok. Univeral Pictures/Michael)

Biopik tentang Michael Jackson terdengar seperti proyek besar yang tak terhindarkan, tetapi justru di situlah masalahnya. Sosok Jackson adalah figur legendaris sekaligus sangat kontroversial dengan warisan musik luar biasa yang selalu dibayangi tuduhan serius.

Mengangkat kisah hidupnya dalam satu film adalah tantangan besar, apalagi jika narasinya cenderung membersihkan sisi gelap yang sudah lama diperdebatkan publik. Keputusan memilih Jaafar Jackson, keponakan Michael, sebagai pemeran utama juga menimbulkan kekhawatiran soal objektivitas.

Banyak yang menduga film ini akan terasa terlalu aman dan cenderung memuja, bukan mengulas secara jujur. Di era ketika penonton semakin kritis terhadap biopik yang terasa manipulatif, Michael berisiko dianggap sebagai proyek nostalgia yang gagal menyentuh realitas kompleks sang ikon.

3. Focker-in-Law (John Hamburg)

Meet the Parents
Meet the Parents (dok. Universal Piactures/Meet the Parents)

Waralaba Meet the Parents pernah menjadi komedi keluarga yang segar dan menghibur, tetapi kualitasnya terus menurun seiring berjalannya sekuel. Little Fockers (2010) sudah dianggap sebagai titik terendah, sehingga keputusan menghidupkan kembali seri ini 16 tahun kemudian terasa sangat dipaksakan.

Meski kembali menghadirkan Robert De Niro dan Ben Stiller, rasa lelah terhadap formula lama sulit dihindari. Penambahan nama baru, seperti Ariana Grande dan Beanie Feldstein, memang menarik perhatian, tetapi belum tentu cukup menyelamatkan naskah yang kemungkinan besar mengandalkan humor usang.

Jika film ini hanya bermain aman demi keuntungan nostalgia tanpa ide segar, Focker-in-Law hampir pasti akan menerima sambutan dingin dari kritikus. Bagaimana menurutmu?

4. Scream 7 (Kevin Williamson)

Scream 7
Scream 7 (dok. Paramount Pictures/Scream 7)

Sebagai penggemar lama Scream, sulit untuk tidak merasa khawatir dengan film ketujuh ini. Setelah wafatnya Wes Craven, seri ini memang masih berjalan, tetapi nuansa meta-horor yang tajam perlahan kehilangan taringnya. Dua film terakhir punya momen menarik, tetapi juga menunjukkan tanda-tanda kelelahan cerita dan karakter.

Masalah produksi Scream 7 memperparah situasi, terutama setelah pemecatan Melissa Barrera dan mundurnya Jenna Ortega. Kehilangan dua pemeran utama membuat fondasi cerita goyah sejak awal. Tanpa arah yang jelas dan dengan kontroversi yang membayangi, film ini berisiko menjadi penutup yang mengecewakan bagi waralaba horor paling ikonik.

5. Supergirl (Craig Gillespie)

Supergirl
Supergirl (dok. Warner Bros. Pictures/Supergirl)

Film superhero kini berada di titik jenuh dan Supergirl tampaknya menjadi korban berikutnya. Meski diadaptasi dari komik yang penuh warna dan imajinasi, materi promosi awal justru terlihat datar. Banyak penggemar merasa film ini tidak menawarkan identitas visual atau konsep yang cukup kuat untuk membedakannya dari deretan film superhero lain.

Selain itu, sejarah buruk adaptasi Supergirl versi 1984 masih membekas sebagai kegagalan besar. Dengan ekspektasi rendah dan reaksi awal yang kurang antusias, film ini harus bekerja ekstra keras untuk membuktikan bahwa ia bukan sekadar proyek komersial tanpa jiwa.

Film-film ambisius memang sering menjanjikan sesuatu yang besar, tetapi tanpa visi yang matang, keberanian bisa berubah menjadi bumerang. Dari adaptasi klasik hingga sekuel panjang umur, kelima film di atas menunjukkan bahwa hype tidak selalu menjamin kualitas. Menurutmu film mana yang paling berisiko gagal di tahun 2026?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Naufal Al Rahman
EditorNaufal Al Rahman
Follow Us

Latest in Hype

See More

Kronologi Denada Digugat Rp7 Miliar Setelah Diduga Telantarkan Anak

13 Jan 2026, 17:41 WIBHype