Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Film Barat tentang Ambisi Besar yang Mengorbankan Kehidupan Pribadi
cuplikan film Whiplash (dok. Bold Films/Whiplash)

Ambisi sering menjadi dorongan seseorang untuk meraih kesuksesan dan membuktikan kemampuannya. Demi mencapai tujuan besar, kita mungkin rela bekerja lebih keras, mengorbankan waktu istirahat, bahkan menunda kebahagiaan. Namun, ketika ambisi mulai mengambil alih seluruh kehidupan, ada hal-hal berharga yang perlahan terabaikan, mulai dari hubungan dengan orang terdekat hingga kesempatan menikmati hidup itu sendiri.

Konflik semacam ini kerap diangkat dalam film barat melalui karakter yang mengejar karier, kekuasaan, atau pengakuan tanpa menyadari konsekuensi dari pilihan mereka. Khusus untuk kamu, berikut IDN Times Community membagikan lima rekomendasi film barat tentang ambisi besar yang harus dibayar dengan pengorbanan kehidupan pribadi. Keep scrolling!

1. The Devil Wears Prada (2006)

cuplikan film The Devil Wears Prada (dok. Fox 2000 Pictures/The Devil Wears Prada)

The Devil Wears Prada mengikuti Andrea Sachs (Anne Hathaway), fresh graduate yang mendapatkan pekerjaan sebagai asisten Miranda Priestly (Meryl Streep), pemimpin redaksi majalah mode bergengsi, Runway. Meskipun tidak memiliki ketertarikan besar terhadap dunia mode pada awalnya, Andrea melihat pekerjaan tersebut sebagai batu loncatan untuk membangun karier jurnalistiknya. Ia pun berusaha keras memenuhi tuntutan Miranda yang terkenal perfeksionis, sulit dipuaskan, dan selalu mengharapkan kesempurnaan dari orang-orang di sekitarnya.

Seiring meningkatnya tanggung jawab, Andrea mulai mengubah penampilan, kebiasaan, dan prioritasnya agar bisa bertahan di lingkungan kerja yang kompetitif. Namun, kesibukan tersebut membuat hubungannya dengan teman dan kekasih semakin renggang. Film ini memperlihatkan dilema yang sering dihadapi seseorang ketika mengejar kesuksesan: seberapa jauh kita bersedia berubah dan mengorbankan kehidupan pribadi demi mendapatkan pengakuan profesional?

2. The Social Network (2010)

cuplikan film The Social network (dok. Columbia Pictures/The Social Network)

Lalu, ada The Social Network yang mengikuti Mark Zuckerberg (Jesse Eisenberg), mahasiswa Harvard yang mengembangkan situs jejaring sosial yang kemudian dikenal sebagai Facebook. Berawal dari sebuah proyek kampus, platform tersebut berkembang menjadi perusahaan besar yang mengubah cara orang berkomunikasi. Namun, di balik pertumbuhan bisnis yang luar biasa, perjalanan Mark diwarnai konflik dengan teman, mitra bisnis, dan orang-orang yang pernah dekat dengannya.

Ambisi untuk membangun perusahaan teknologi raksasa membuat hubungan personal Mark semakin rumit. Perselisihan mengenai kepemilikan, kekuasaan, dan kontribusi terhadap perusahaan turut merusak persahabatan yang sebelumnya terjalin. The Social Network menunjukkan bahwa kesuksesan bisnis tidak selalu berjalan seiring dengan kebahagiaan pribadi, terutama ketika keinginan untuk menang dan mempertahankan kendali mulai mengalahkan kepercayaan terhadap orang lain.

3. The Wolf of Wall Street (2013)

cuplikan film The Wolf of Wall Street (dok. Red Granite Pictures/The Wolf of Wall Street)

The Wolf of Walf Street menceritakan tentang Jordan Belfort (Leonardo DiCaprio), pialang saham yang membangun kekayaan besar melalui perusahaan pialang miliknya. Ia menikmati kehidupan mewah dengan pesta, barang mahal, dan berbagai bentuk kesenangan yang menyertai kesuksesannya. Namun, ambisinya untuk memperoleh lebih banyak uang dan kekuasaan membuatnya semakin terlibat dalam praktik bisnis ilegal serta gaya hidup yang sulit dikendalikan.

Kehidupan pribadi Jordan ikut terkena dampaknya. Hubungannya dengan istri dan keluarganya memburuk seiring perilaku impulsif, kecanduan, dan keputusan-keputusan yang semakin merusak. Film ini menggambarkan bagaimana ambisi yang tidak dibatasi oleh prinsip dapat berubah menjadi obsesi, sampai seseorang kehilangan kendali atas hal-hal yang dahulu membuat hidupnya terasa berarti.

4. Whiplash (2014)

cuplikan film Whiplash (dok. Bold Films/Whiplash)

Selanjutnya ada film Whiplash yang mengikuti Andrew Neiman (Miles Teller), mahasiswa musik yang bercita-cita menjadi pemain drum jazz terbaik. Ia kemudian bergabung dengan kelompok musik elite yang dipimpin Terence Fletcher (J. K. Simmons), seorang instruktur yang menggunakan metode latihan sangat keras dan tekanan psikologis untuk menuntut performa sempurna. Andrew menganggap kesempatan tersebut sebagai jalan menuju impiannya, sehingga ia rela mengerahkan hampir seluruh tenaga dan waktunya untuk berlatih.

Namun, keinginannya untuk menjadi musisi hebat perlahan menguasai kehidupan sehari-hari. Andrew menjauh dari orang-orang terdekat, mengabaikan keseimbangan hidup, dan terus memaksakan diri meskipun harus menghadapi tekanan fisik serta emosional. Whiplash mengajukan pertanyaan penting tentang ambisi dan kesempurnaan: apakah pencapaian luar biasa sepadan jika proses untuk meraihnya membuat seseorang kehilangan hubungan, kesehatan, dan ketenangan batin?

5. Tár (2022)

cuplikan film Tár (dok. EMJAG Productions/Tár)

Terakhir, ada film Tár yang menceritakan Lydia Tár (Cate Blanchett), konduktor ternama yang berada di puncak kariernya dalam dunia musik klasik. Ia memiliki reputasi internasional, memimpin orkestra bergengsi, dan menikmati pengaruh besar di lingkungan profesionalnya. Namun, di balik prestasi tersebut, Lydia dikenal sebagai sosok yang sangat mengontrol dan memiliki standar tinggi, sehingga relasi dengan orang-orang di sekitarnya kerap diwarnai ketegangan.

Ketika sejumlah persoalan mulai mengancam reputasinya, kehidupan pribadi dan profesional Lydia perlahan mengalami perubahan besar. Kekuasaan yang selama ini ia gunakan untuk mempertahankan posisinya justru membuatnya harus menghadapi konsekuensi dari perilaku serta keputusan masa lalu. Film ini mengeksplorasi sisi gelap ambisi, terutama ketika pencapaian dan keinginan untuk mempertahankan status membuat seseorang mengabaikan batas etika serta dampaknya terhadap orang lain.

Kelima film di atas menunjukkan bahwa ambisi bukanlah sesuatu yang selalu buruk. Keinginan untuk berkembang dapat mendorong seseorang keluar dari zona nyaman dan mencapai hal-hal yang sebelumnya terasa mustahil. Namun, ketika kesuksesan menjadi satu-satunya ukuran kebahagiaan, kehidupan pribadi berisiko berubah menjadi sesuatu yang terus dikorbankan. Masukkan dalam daftar tontonanmu, yuk!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorAtqo Sy

Related Article