5 Film Netflix Mirip Surat untuk Masa Mudaku, Heartwarming!

- Paper Lives (2021) menguras emosi dengan kisah Mehmet dan Ali yang mengungkap trauma masa lalu lewat hubungan lintas generasi.
- The Life Ahead (2020) menampilkan hubungan hangat antara Madame Rosa dan Momo, serta realitas sosial yang getir.
- My Father's Violin (2022) mengajak penonton menengok kisah Özlem dan Mahir, dengan alunan biola yang mengaduk-emosi.
Sejak tayang di Netflix pada 29 Januari 2026 lalu, Surat untuk Masa Mudaku (2026) sukses jadi perbincangan hangat di media sosial. Film karya Sim F (Susi Susanti: Love All) ini berhasil mengaduk-aduk emosi penonton lewat dinamika hubungan antara Kefas (Millo Taslim) yang pemberontak dan Pak Simon (Agus Wibowo) yang pendiam di Panti Asuhan Pelita Kasih. Gak cuma menguras emosi, Surat untuk Masa Mudaku juga meninggalkan rasa hangat yang sulit dilupakan setelah kredit akhir bergulir.
Kalau kamu termasuk yang masih kepikiran film tersebut, bahkan setelah selesai menontonnya, tenang, Netflix masih punya sejumlah film lain yang menawarkan nuansa emosional serupa. Mulai dari tema trauma masa kecil, hubungan lintas generasi, hingga konsep chosen family. Berikut lima film Netflix yang vibes-nya mirip Surat untuk Masa Mudaku dan siap bikin hatimu tersentuh!
1. Paper Lives (2021)

Kalau kamu pikir Surat untuk Masa Mudaku sudah cukup menguras emosi, kamu wajib nonton film Netflix asal Turki yang satu ini. Paper Lives berpusat pada Mehmet (Çağatay Ulusoy), pengelola gudang sampah yang hidupnya berubah drastis setelah ia menemukan bocah bernama Ali (Emir Ali Doğrul) di dalam karung sampah. Berniat membantu Ali menemukan ibunya, Mehmet justru kembali ditarik masuk ke memori masa kecilnya yang penuh luka dan pengabaian.
Kemiripan Paper Lives dengan Surat untuk Masa Mudaku terletak pada bagaimana kedua film ini mengulik trauma masa lalu lewat hubungan lintas generasi. Baik Mehmet dan Ali maupun Pak Simon dan Kefas sama-sama berjuang menyembuhkan luka batin melalui kehadiran satu sama lain yang saling menguatkan. Kisah mereka dijamin bakal bikin kamu siapin tisu lebih banyak sejak menit-menit awal film dimulai!
2. The Life Ahead (2020)

Dibintangi aktris legendaris Sophia Loren, The Life Ahead juga menyuguhkan hubungan lintas generasi yang sehangat Surat untuk Masa Mudaku. Film Netflix asal Italia ini mengambil latar sebuah kota pesisir yang cantik, tapi menyimpan realitas sosial yang cukup getir bagi para karakternya. Di sini, Loren memerankan Madame Rosa, penyintas Holocaust sekaligus mantan pekerja seks yang kini menghabiskan masa tuanya dengan membuka jasa penitipan anak.
Ceritanya bermula ketika seorang anak imigran asal Senegal bernama Momo (Ibrahim Gueye) nekat mencopet barang milik Madame Rosa di pasar. Meski awalnya mereka saling benci, takdir justru memaksa keduanya untuk tinggal di bawah atap yang sama karena sebuah kesepakatan. Perjalanan mereka pun makin emosional, karena Madame Rosa harus menghadapi trauma masa lalu di tengah kenakalan Momo yang sulit diatur.
3. My Father's Violin (2022)

Gak cuma Paper Lives, Turki juga punya My Father's Violin yang bisa jadi asupan setelah Surat untuk Masa Mudaku. Film Netflix ini bakal mengajakmu menengok kisah Özlem (Gülizar Nisa Uray), gadis kecil yang harus kehilangan ayahnya yang seorang musisi jalanan. Ia kemudian terpaksa tinggal bersama pamannya, Mahir (Engin Altan Düzyatan), yang merupakan pemain biola terkenal yang punya watak kaku, sombong, dan awalnya enggan mengurus keponakannya sendiri.
Kalau dalam Surat untuk Masa Mudaku ada lagu "Kidung" yang bikin galau, My Father's Violin punya alunan biola yang siap mengaduk-aduk emosimu. Instrumen tersebut bukan sekadar pemanis, melainkan jembatan komunikasi bagi paman dan keponakan yang sama-sama punya luka masa lalu tersebut. Dan layaknya situasi Pak Simon dan Kefas, ketulusan Özlem pun perlahan melunakkan hati Mahir yang sedingin es. Siap dibuat terharu?
4. Blue Miracle (2021)

Selanjutnya ada Blue Miracle, yang berbagi kemiripan emosional serta latar belakang yang kental dengan Surat Untuk Masa Mudaku. Sama seperti film karya Sim F tersebut, film Netflix asal Amerika ini mengeksplorasi relasi emosional antara orang dewasa dengan anak-anak panti asuhan. Kamu juga akan menemukan banyak kemiripan tema tentang memaafkan masa lalu dan menemukan harapan baru di tengah situasi yang nyaris mustahil di sini.
Ceritanya berfokus pada Omar (Jimmy Gonzales), pengelola panti asuhan yang harus memutar otak demi melunasi utang yang besar. Ia akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Wade Malloy (Dennis Quaid), kapten kapal legendaris yang temperamental, untuk memenangkan turnamen memancing terbesar di dunia. Meski awalnya penuh keraguan, kolaborasi pria skeptis dan anak-anak panti ini berubah jadi petualangan yang luar biasa seru!
5. Ali & Ratu Ratu Queens (2021)

Daftar ini ditutup dengan film Indonesia bertajuk Ali & Ratu Ratu Queens, yang 5 tahun lalu sukses mengaduk-aduk emosi penonton. Film garapan Lucky Kuswandi ini mengikuti Ali (Iqbaal Ramadhan) yang nekat terbang ke New York demi menyusul sang ibu yang lama menghilang. Bukannya sambutan hangat dari ibu kandung, Ali justru dipertemukan dengan empat imigran kocak, Party (Nirina Zubir), Ance (Tika Panggabean), Biyah (Asri Welas), dan Chinta (Happy Salma), yang akhirnya jadi keluarga barunya.
Nuansa heartwarming di film ini terasa sangat identik dengan Surat untuk Masa Mudaku, karena keduanya sama-sama mengangkat tema chosen family. Jika Kefas menemukan sosok ayah pada Pak Simon, maka Ali belajar arti kasih sayang dari para "Ratu" meski gak sedarah. Menonton kedua film ini secara berurutan akan memberimu perspektif baru bahwa rumah bukan sekadar bangunan, melainkan tempat di mana hatimu merasa diterima.
Kalau kamu belum move on dari Surat untuk Masa Mudaku, lima film Netflix ini bisa jadi pelukan yang sama hangatnya lewat kisah-kisah tentang luka, harapan, dan keluarga gak sedarah. Jadi, mau mulai dari yang mana dulu, nih?



















