Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

7 Film Superhero Sebelum Tahun 2000 yang Layak Dapat Apresiasi

The Phantom.
The Phantom (dok. Paramount Pictures/The Phantom)
Intinya sih...
  • The Crow (1994) adalah adaptasi komik terbaik sepanjang masa dengan visual gelap dan ikonik, serta soundtrack alternative rock yang memperkuat atmosfer emosional.
  • Darkman (1990) karya Sam Raimi menggabungkan nuansa horor, tragedi, dan komik klasik, menunjukkan bahwa film superhero bisa gelap dan dewasa tanpa kehilangan daya tariknya.
  • The Rocketeer (1991) disutradarai Joe Johnston dengan efek praktis yang mengesankan untuk zamannya, membuatnya tetap dicintai oleh penggemar fiksi ilmiah dan superhero klasik.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Sebelum era Marvel Cinematic Universe dan ledakan CGI modern, film superhero pernah berjalan di jalur yang jauh lebih eksperimental dan berani. Banyak sineas mencoba menerjemahkan dunia komik ke layar lebar dengan keterbatasan teknologi, tapi justru melahirkan karya yang punya identitas kuat dan gaya visual khas.

Sayangnya, sebagian film ini tenggelam oleh waktu atau kalah pamor karena tidak sukses secara komersial. Padahal, film-film superhero lawas ini meletakkan fondasi penting bagi genre yang kini mendominasi industri hiburan.

Dari nuansa horor, noir, sampai pulp klasik, pendekatan mereka terasa lebih personal dan berisiko. Berikut tujuh film superhero sebelum tahun 2000 yang mungkin sudah jarang dibicarakan, tapi sebenarnya layak mendapat apresiasi lebih besar.

1. The Crow (1994)

The Crow.
The Crow (dok. Miramax/The Crow)

Film garapan Alex Proyas ini sering dianggap sebagai salah satu adaptasi komik terbaik sepanjang masa. Berlatar dunia distopia yang kelam, The Crow mengikuti kisah seorang musisi yang bangkit dari kematian untuk membalas dendam dengan kekuatan supranatural. Visualnya gelap dan sangat berbeda dari film superhero kebanyakan di masanya.

Penampilan Brandon Lee sebagai Eric Draven menjadi jiwa utama film ini, terlebih karena tragedi meninggalnya sang aktor saat proses syuting. Soundtrack alternative rock yang ikonik semakin memperkuat atmosfer emosional film ini. Meski sekuel-sekuelnya mengecewakan, film pertamanya tetap berdiri sebagai karya yang nyaris tak tertandingi di era pra-2000.

2. Darkman (1990)

cuplikan film Darkman (dok. Universal Pictures/Darkman)
cuplikan film Darkman (dok. Universal Pictures/Darkman)

Sebelum dikenal lewat trilogi Spider-Man, Sam Raimi lebih dulu menunjukkan kecintaannya pada dunia superhero lewat Darkman. Film ini bercerita tentang ilmuwan yang mengalami kecelakaan tragis hingga tubuhnya rusak, lalu berubah menjadi sosok vigilante penuh amarah. Nuansa horor dan tragedi terasa sangat kental di sepanjang cerita.

Liam Neeson tampil intens sebagai Peyton Westlake, karakter yang rapuh secara emosional namun mengerikan saat membalas dendam. Darkman terasa seperti gabungan film noir, horor, dan komik klasik. Inilah bukti awal bahwa film superhero bisa gelap dan dewasa tanpa harus kehilangan daya tariknya.

3. The Rocketeer (1991)

The Rocketeer.
The Rocketeer (dok. Disney/The Rocketeer)

The Rocketeer mengikuti seorang stunt pilot yang menemukan jetpack rahasia dan tanpa sengaja terlibat konflik besar antara FBI dan Nazi. Ceritanya ringan, tapi dikemas dengan penuh pesona klasik.

Disutradarai Joe Johnston, film ini unggul lewat efek praktis yang mengesankan untuk zamannya. Visual art deco, musik heroik, dan nuansa nostalgia membuat The Rocketeer terasa hangat dan timeless. Meski kini jarang dibahas, film ini tetap dicintai oleh penggemar fiksi ilmiah dan superhero klasik.

4. The Toxic Avenger (1984)

The Toxic Avenger.
The Toxic Avenger (dok. Troma Ent./The Toxic Avenger)

Berbeda jauh dari superhero konvensional, The Toxic Avenger adalah film superhero paling absurd dan ekstrem di daftar ini. Diproduksi oleh Troma, film ini menceritakan seorang petugas kebersihan yang berubah menjadi mutan setelah terjatuh ke limbah beracun. Dari sinilah lahir pahlawan dengan moral yang aneh tapi tegas.

Film ini dipenuhi humor gelap, kekerasan berlebihan, dan lelucon yang sengaja terasa murahan. Namun justru di situlah daya tariknya. The Toxic Avenger sejak awal memang dibuat untuk menjadi film cult dan status itu masih melekat kuat hingga sekarang.

5. The Phantom (1996)

The Phantom.
The Phantom (dok. Paramount Pictures/The Phantom)

The Phantom menghadirkan pendekatan yang penuh warna dan terasa seperti komik yang hidup. Dibintangi Billy Zane, film ini mengadaptasi karakter klasik dari strip surat kabar era 1930-an. Alih-alih tampil serius, film ini justru memilih gaya campy dan penuh petualangan.

Meski gagal di box office, The Phantom menemukan kehidupan kedua lewat pasar home video. Kostum ungu ikonik dan suasana retro membuatnya kini dinilai sebagai film superhero yang menyenangkan. Ini adalah contoh film yang mungkin datang di waktu yang salah, tapi dengan niat tulus.

6. The Shadow (1994)

The Shadow.
The Shadow (dok. Universal Pictures/The Shadow)

Sebelum Batman mendominasi layar, The Shadow sudah lebih dulu hadir sebagai pahlawan berbalut nuansa noir. Dibintangi Alec Baldwin, film ini mengangkat karakter pulp legendaris dengan kekuatan misterius dan identitas ganda. Atmosfer gelap dan desain produksinya menjadi kekuatan utama film ini.

Meski gagal secara finansial, The Shadow punya identitas visual yang kuat dan cerita yang solid. Bagi penonton yang menyukai estetika noir dan dunia kriminal yang penuh bayangan, film ini menawarkan pengalaman yang unik. The Shadow mungkin tidak sempurna, tapi jelas punya karakter.

7. Swamp Thing (1982)

Swamp Thing.
Swamp Thing (dok. MGM/Swamp Thing)

Disutradarai oleh Wes Craven, Swamp Thing menjadi salah satu adaptasi komik DC paling awal di layar lebar. Film ini menggabungkan elemen horor, tragedi, dan romansa dalam kisah ilmuwan yang berubah menjadi makhluk rawa. Pendekatannya terasa sederhana, namun cukup berani untuk masanya.

Dibintangi Adrienne Barbeau dan Ray Wise, film ini kemudian berkembang menjadi karya cult dengan sekuel dan serial TV. Swamp Thing menunjukkan bahwa film superhero tak harus selalu glamor untuk meninggalkan kesan. Kadang, nuansa aneh dan eksperimental justru membuatnya bertahan lama di ingatan penonton.

Film-film superhero sebelum tahun 2000 memang lahir di era yang berbeda, dengan keterbatasan dan kebebasan yang sama besarnya. Walaupun mungkin tidak sempurna, tapi keberanian mereka dalam bereksperimen patut dihargai. Dari ketujuh film ini, mana yang menurutmu paling layak mendapat apresiasi lebih dari penonton masa kini?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Diana Hasna
EditorDiana Hasna
Follow Us

Latest in Hype

See More

8 Meme Naoya vs. Choso Jujutsu Kaisen Season 3, Heboh!

21 Jan 2026, 13:44 WIBHype