Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Film tentang Anak Fatherless yang Bikin Terenyuh
Our Hero, Balthazar (dok. Picturehouse/Our Hero, Balthazar)
  • Artikel menyoroti fatherless sebagai kondisi akibat kematian, perceraian, atau pengabaian, yang dapat memengaruhi pengalaman emosional anak tanpa berarti semua anak akan menjadi problematik.
  • If I Go Will They Miss Me, Boy, dan Sentimental Value menggambarkan anak-anak yang menghadapi ayah mantan narapidana atau ayah lama menghilang demi kepentingan pribadi.
  • Arze dan Our Hero, Balthazar menampilkan remaja dengan minim kehadiran orangtua, saat rahasia keluarga, tekanan hidup, serta ketidakstabilan emosi membentuk konflik mereka.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Fatherless atau kondisi tumbuh besar tanpa figur ayah adalah realitas yang harus dihadapi sebagian anak di dunia. Alasannya beragam, bisa karena kematian, perceraian, atau bahkan karena pengabaian yang disengaja karena absennya tanggung jawab dan kesadaran peran. Sebagai makhluk paling sensitif, anak bisa merasakan dampak jangka panjang dari absennya ayah. Apalagi kalau alasan kondisi fatherless mereka bukan karena kematian. Alias si ayah secara fisik ada, tetapi memilih untuk tidak berusaha menjalin koneksi emosional dengan mereka.

Bukan berarti semua anak fatherless akan jadi pribadi problematik. Namun, pengalaman dan perasaan mereka pada fase tumbuh besar itu layak divalidasi dan dipahami, bukan dianggap sebagai pemberontakan dan kenakalan biasa. Coba tonton 5 film tentang anak-anak fatherless berikut, deh. Semoga bisa bikin tobat para ayah yang absen.

1. If I Go Will They Miss Me (2026)

If I Go Will They Miss Me (dok. Spark Features/If I Go Will They Miss Me)

Tayang perdana di Sundance Film Festival 2026, If I Go Will They Miss Me adalah cerita Lil Ant, anak sulung dari tiga bersaudara. Ia masih berusia belia, tetapi sudah jadi andalan ibunya yang harus mengurus rumah dan tiga anak selama sang suami menjalani hukuman penjara. Tak pernah benar-benar mengenal ayahnya, Lil Ant selalu membayangkannya sebagai sosok heroik. Sampai sang ayah akhirnya bebas dan pulang ke rumah, tetapi masih kesulitan beradaptasi dengan kehidupan dan peran barunya. Lil Ant bukan tipe bocah fatherless yang hobi bikin masalah, sebaliknya ia dikenal sebagai anak rajin, pintar, dan tak banyak tingkah. Namun, ia punya cara sendiri untuk menyampaikan perasaan sejatinya dan ini yang akan disingkap dalam film.

  • Genre: avant-garde, coming of age

  • Pemain: Bodhi Jordan Dell, J. Alphonse Nicholson

  • Sutradara:  Walter Thompson-Hernández

2. Boy (2010)

Boy (dok. Unison Films/Boy)

Sama seperti Lil Ant, Boy dalam film ini juga besar tanpa ayah. Dalam bayangannya, ayahnya adalah sosok keren dan pemberani. Dengan keyakinan itu, Boy bahkan tak menggubris hinaan orang-orang yang tahu kalau ayahnya seorang kriminal. Sampai sang ayah bebas dari penjara dan menemuinya, barulah ia perlahan disadarkan kalau ayahnya bukan pria sempurna seperti angan-angannya. Sang ayah tak pernah meluangkan waktu untuk Boy dan adik-adiknya, dan puncaknya ternyata hanya pulang untuk mengambil harta bendanya.

  • Genre: coming of age, tragikomedi

  • Pemain: James Rolleston, Taika Waititi

  • Sutradara: Taika Waititi

3. Sentimental Value (2025)

Sentimental Value (dok. MUBI/Sentimental Value)

Seperti ayah Boy di film sebelumnya, tokoh ayah di Sentimental Value pulang setelah bertahun-tahun absen dari hidup dua putrinya hanya untuk mencapai kepentingannya sendiri. Gustav, si ayah absen itu, tiba-tiba menelepon putrinya karena butuh kontribusi mereka untuk sebuah proyek film yang sedang ia garap. Jelas saja anak-anaknya menolak dengan tegas, tetapi Gustav gak kehilangan akal. Ia merekrut aktris untuk memerankan putrinya dan berusaha meminta mereka mengizinkan proses syuting dilakukan di rumah leluhur Gustav yang juga rumah masa kecil dua putrinya sebelum Gustav pergi tanpa kabar bertahun-tahun.

  • Genre: drama

  • Pemain: Stellan Skarsgård, Renate Reinsve

  • Sutradara: Joachim Trier

4. Arze (2023)

Arze (dok. Lebanese Film Festival/Arze)

Anak fatherless di film ini adalah Kinan, remaja yang sejak kecil dibesarkan ibu dan bibinya di apartemen sederhana di Beirut, Lebanon. Selama ini, Kinan hanya tahu kalau ayahnya bekerja di luar negeri, dan sesekali mengiriminya mainan serta uang untuk bertahan hidup. Meski begitu, ibunya tetap harus mencari uang lewat bisnis pai yang ia tekuni bersama si bibi. Satu hari, motor kredit yang dibawa Kinan untuk mengantar pesanan pai dicuri orang. Sang ibu kemudian menyeret Kinan untuk membantu mencari modal bisnis itu sampai ketemu. Pada fase inilah, fakta-fakta baru ikut terbongkar dan bersiaplah terenyuh menghadapinya.

  • Genre: komedi, drama

  • Pemain: Diamand Abou Abboud, Bilal Al Hamwi

  • Sutradara: Mira Shaib

5. Our Hero, Balthazar (2025)

Our Hero, Balthazar (dok. Picturehouse/Our Hero, Balthazar)

Balthazar adalah gambaran anak yang tak dapat perhatian langsung dari orangtua. Ayahnya sibuk dan hampir tak pernah di rumah, begitu pula dengan sang ibu yang tak pula memberinya cinta dan kestabilan. Sering sendirian tanpa pengawasan, Balthazar tumbuh jadi sesosok remaja laki-laki penuh amarah, kemunafikan dan manipulatif. Ia pura-pura aktif di kegiatan sosial demi memikat perempuan yang ia taksir di sekolah. Puncaknya, ia nekat melakukan upaya berisiko demi memancing para pemuda yang menunjukkan potensi aksi penembakan massal. Aksinya mungkin terlihat heroik, tetapi ia punya intensi yang tak murni dan ketidakstabilan emosi yang bikin sikapnya layak dipertanyakan.

  • Genre: satire, coming of age

  • Pemain: Jaeden Martell, Asa Butterfield

  • Sutradara: Oscar Boyson

Ketidakhadiran ayah atau ibu memang punya dampak besar dalam kepribadian seseorang. Fatherless jadi isu yang lebih santer digaungkan karena prevalensinya di masyarakat yang lebih besar ketimbang motherless. Kalau kamu suka menghina atau menghakimi anak-anak tanpa ayah yang kemudian menurutmu problematik, ada baiknya kita hakimi ayah yang meninggalkan mereka dulu. Bukankah itu akar dan awal mulanya?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article