Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

3 Film Thailand Kriminal 2025 yang Tayang di Netflix, Kasus Apa Saja?

Everybody Loves Me When I'm Dead
scene di film Everybody Loves Me When I'm Dead (Dok.Netflix/Everybody Loves Me When I'm Dead)
Intinya sih...
  • Film Thailand kriminal 2025 berfokus pada dunia amulet, kejahatan di dunia perbankan, dan kisah nyata tentang seorang bandit dengan kekuatan mistis.
  • The Stone (2025) mengangkat sisi gelap industri amulet, Everybody Loves Me When I’m Dead (2025) menyinggung perkembangan teknologi AI di dunia perbankan, dan Tee Yai: Born to Be Bad terinspirasi dari kisah nyata tentang seorang bandit.
  • Cerita-cerita film tersebut tidak hanya menyajikan aksi brutal dan menegangkan, namun juga berisi pesan kehidupan yang relevan dengan realitas sosial saat ini.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Meskipun terkenal dengan kualitas film genre horornya yang telah mendunia, sineas Thailand tetap menghadirkan beragam film dengan genre yang variatif serta menghibur. Di tahun 2025, salah satu tema yang sering diangkat oleh film Thailand adalah kriminal. Berhasil mencuri perhatian, cerita yang dihadirkan pun semakin berani, gelap, dan sangat dekat dengan realitas sosial saat ini.

Kasus yang dihadirkan pun berbeda-beda, mulai dari kejahatan karena kepercayaan, tindak kriminal di dunia perbankan, hingga kejahatan yang terinspirasi dari kisah nyata. Sangat mudah diakses karena bisa ditonton di Netflix, ada tiga film Thailand kriminal 2025 yang wajib untuk kamu tonton. Apa saja? Berikut ulasannya!

1.The Stone

The Stone
scene di film The Stone (Dok.Jungka Studio/The Stone)

The Stone (2025), merupakan film kriminal yang fokus terhadap dunia amulet atau dunia perjimat-an. Film ini memberi gambaran sisi gelap dari industri amulet dan memberikan perspektif baru tentang jimat yang bukan hanya sekedar benda suci pemberi perlindungan. Melainkan juga sebagai komoditas atau mata uang yang sangat berharga. Jadi tidak heran jika berbagai tindakan kejahatan akan dilakukan demi mendapat sebuah jimat yang diinginkan.

Cerita diawali dengan Ek (Jaonaay Jinjett), putra seorang mantan polisi yang berada dalam situasi terdesak. Ek membutuhkan sejumlah besar uang untuk mengobati ayahnya yang sakit parah. Ia pun memutuskan untuk membawa jimat sakral milik ayahnya ke seorang ahli jimat terkenal di media sosial Seng Paradise (Jaii Itkron), untuk dinilai. Namun sebelum Ek tertipu dan menjualnya dengan harga yang sangat rendah, ia diselamatkan oleh Muai (Aheye Korranid), bidadari dunia jimat yang sedang naik daun. Muai mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa jimat milik Ek sebenarnya adalah Phra Somdej, sebuah jimat legendaris yang terkait dengan kasus besar dan telah hilang dari dunia jimat lebih dari 30 tahun lalu. Nilai jimatnya diperkirakan mencapai ratusan juta baht.

Ek dan Muai kemudian bekerja sama untuk mengikuti kompetisi jimat dan mencari cara menjual Phra Somdej tersebut. Tindakan keduanya ini pun langsung menarik perhatian, seluruh komunitas kolektor jimat mulai memburunya, termasuk Father Sunthorn (Tu Nappon), seorang tokoh besar dunia jimat, serta Victor (Chakrabongse Chulachak), sosok misterius yang juga mengincar jimat tersebut. Tanpa Ek sadari, kini ia terjebak dalam pertarungan berisiko tinggi di mana kolektor jimat berkuasa rela melakukan apa saja mulai dari penipuan, manipulasi hingga kejahatan lainnya untuk mendapatkan jimat tersebut.

2.Everybody Loves Me When I’m Dead

Everybody Loves Me When I'm Dead
scene di film Everybody Loves Me When I'm Dead (Dok.Netflix/Everybody Loves Me When I'm Dead)

Topik yang diangkat dalam film Everybody Loves Me When I’m Dead (2025) adalah kejahatan di dunia perbankan. Film original Netflix ini juga menyinggung tentang perkembangan teknologi AI yang mengancam pekerjaan manusia. Adegan menegangkan dipenuhi kekerasan seperti pembunuhan dan pengeroyokan juga dihadirkan dalam film ini.

Toh (Ken Theeradeth) merupakan karyawan bank yang berdedikasi tinggi dan seringkali mendapat penghargaan sebagai karyawan teladan. Namun, penggunaan AI untuk menilai kinerja karyawan di kantornya mengancam pekerjaannya karena teknologi tersebut menganggap ia tidak kompeten. Di tengah masalah pekerjaannya tersebut Toh juga dihadapi dengan permasalahan pelunasan pembiayaan sekolah internasional putrinya.

Permasalahan keuangan tersebut membuat Toh memutuskan menyalahgunakan jabatannya. Bersama dengan Petch (Ryu Vachirawich), juniornya di bank, Toh mengaktifkan rekening dormant dengan saldo puluhan juta baht milik nasabah yang meninggal namun tidak memiliki ahli waris. Namun, keputusannya ini membawanya pada masalah yang lebih berbahaya dan mengancam nyawa. Uang yang telah ia gunakan ternyata diincar oleh orang lain, selain itu ia juga terjebak dengan komplotan penjahat yang menagih ganti rugi kepada Petch.

3.Tee Yai: Born to Be Bad

Tee Yai: Born to Be Bad
scene di film Tee Yai: Born to Be Bad (Dok. Netflix/Born to Be Bad)

Tee Yai: Born to Be Bad menjadi film kriminal Thailand yang terinspirasi dari kisah nyata. Film ini mengangkat cerita legendaris tentang seorang bandit dengan kekuatan mistis yang mewarnai sejarah kejahatan di Thailand pada tahun 70-an. Legenda Tee Yai yang sudah terkenal di Thailand, digarap ulang dalam film ini dengan sudut pandang baru yang belum pernah diceritakan sebelumnya.

Tee (Apo Nattawin), merupakan perampok kelas kakap yang paling dicari oleh polisi Thailand. Dalam menjalankan aksinya, Tee selalu bekerja sama dengan sahabatnya Rerk (Most Witsarut). Rerk sosok berhati dingin yang selalu menjadi bayangan serta penyusun rencana dalam setiap perampokan yang dilakukan oleh Tee. Nama Tee dan Rerk sebagai perampok begitu melegenda, banyak masyarakat Thailand yang percaya bahwa keduanya memiliki kemampuan supranatural yang mempermudah aksi perampokan dan lolos dari kejaran polisi.

Namun kehidupan keduanya berubah saat Rerk memutuskan pensiun sebagai perampok setelah jatuh cinta dengan Dao (Kao Supassara), perempuan cantik dari sebuah rumah bordil. Meski pada awalnya tidak setuju dengan keputusan Rerk, Tee akhirnya mengiyakan keinginan sahabatnya. Sebelum keluar dari dunia perampokan, Tee dan Rerk menyusun rencana untuk melakukan perampokan besar terakhir. Di saat bersamaan tanpa mereka sadari seorang polisi bernama Jakkarat (Joke Akarin) sedang menyusun strategi untuk memburu keduanya. Cara cerdik yang dilakukan oleh Jakkarat tidak hanya menghentikan perampokan, tapi juga menghancurkan ikatan persahabatan Tee dan Rerk.

Film kriminal Thailand tidak hanya mengandalkan fiksi atau twist semata, namun kisah diambil dari kehidupan sehari-hari dan realita sosial yang terjadi masa kini. Ketiga film di atas tidak hanya menyajikan aksi brutal dan menegangkan, namun juga berisi sebuah pesan kehidupan. Dari tiga film di atas adakah yang sudah kamu tonton?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Diana Hasna
EditorDiana Hasna
Follow Us

Latest in Hype

See More

Biodata dan Profil Richa Novisha, Pesinetron Istri Gary Iskak

29 Nov 2025, 12:41 WIBHype
ibunda Raisa meninggal dunia

Ibunda Raisa Meninggal Dunia

29 Nov 2025, 08:54 WIBHype