Film Ghost in the Cell (dok. Come and See Pictures/Ghost in the Cell)
Ghost in the Cell berpusat di sebuah lapas bernama Labuhan Angsana. Di dalamnya, para napi harus menghadapi berbagai masalah setiap hari, mulai dari penindasan oleh pejabat lapas hingga konflik brutal antar tahanan. Hidup di sana sudah cukup berat. Tapi semuanya berubah saat seorang napi baru masuk ke dalam penjara. Sejak kedatangannya, satu per satu napi mulai mati dengan cara yang mengerikan.
Ternyata, diketahui ada sosok hantu yang menghantui lapas tersebut. Hantu ini tidak membunuh secara sembarangan. Ia menargetkan orang-orang dengan energi paling negatif, semakin jahat seseorang, semakin besar kemungkinan mereka menjadi korban berikutnya. Hal ini pun membuat para napi panik. Mereka yang biasanya hidup dengan kekerasan dan kebencian, kini terpaksa berubah. Para tahanan mulai berlomba-lomba melakukan kebaikan demi menjaga aura tetap positif agar tidak jadi target.
Konflik pun semakin kompleks. Di satu sisi mereka harus melawan rasa takut terhadap hantu, di sisi lain mereka juga masih menghadapi sistem penjara yang kejam. Satu-satunya cara bertahan hidup adalah dengan bersatu. Mereka harus melawan penindasan, sekaligus menghadapi teror supranatural yang mengancam nyawa mereka. Dalam film ini, Morgan berperan sebagai Bimo. Ia adalah salah satu narapidana yang menghadapi kejadian mistis di dalam penjara.
Meski pada awalnya sempat dianggap sebelah mata, kini Morgan semakin membuktikan jika kualitas aktingnya juga bisa diperhitungkan. Bahkan, lewat peran Edwin di Pengepungan di Bukit Duri, Morgan sukses masuk nominasi FFI 2025 untuk kategori Pemeran Utama Pria Terbaik dan membawa penghargaan sebagai Aktor Utama Pilihan di Festival Film Tempo 2025.