Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Film yang Melawan Budaya dan Tradisi Male-Centered Women

4 min read
5 Film yang Melawan Budaya dan Tradisi Male-Centered Women
Adam (dok. Strand Releasing/Adam)
  • Artikel menyoroti lima film yang mengkritik budaya patriarki dan kebiasaan menempatkan validasi pria sebagai pusat hidup perempuan.
  • Dance, Girl, Dance, Wadjda, dan Under the Fig Trees menggambarkan dampak persaingan, pembatasan tradisi, serta relasi kuasa yang merugikan perempuan.
  • The Girl with the Needle dan Adam menampilkan perempuan rentan yang menghadapi kemiskinan, kehamilan, pengabaian sosial, serta dukungan antarsesama perempuan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Saking melekatnya kultur patriarki, kita jadi terbiasa melihat segala hal dari sudut pandang pria. Contoh termudahnya adalah standar kecantikan. Bahkan, perempuan-perempuan pada masa lalu dididik merawat diri untuk calon pasangan mereka di masa depan, ketimbang untuk diri mereka sendiri. Ini juga yang bikin kita kerap menemukan perempuan yang rela bertikai dan bersaing secara tak sehat hanya untuk bisa “dipilih” laki-laki.

Istilah “pelakor” (perebut laki orang) saja adalah cerminan dari tradisi yang berpusat pada pria tersebut. Ia seolah melanggengkan keyakinan bahwa perempuanlah yang aktif menginisiasi perselingkuhan. Sementara, pria dianggap sebagai pihak pasif yang merespons rangsangan tersebut. Dalam produk hiburan, tradisi ini juga masih sering ditemui. Apalagi dalam film-film romantis lawas buatan pria macam Pretty Woman (1990), Sixteen Candles (1984) dan The Breakfast Club (1985). Merasa masih terjebak dalam kebutuhan untuk dapat validasi pria? Coba tonton 5 sinema yang mendobrak budaya male-centered women dalam film berikut.

  1. 1. Dance, Girl, Dance (1940)

    Dance, Girl, Dance 1940
    Dance, Girl, Dance (dok. Criterion/Dance, Girl, Dance)

    Dance, Girl, Dance adalah film klasik yang cukup visioner karena berani mengkritik betapa tak relevannya validasi pria dalam hidup perempuan. Film bermuara pada dua penari bernama Judy dan Bubbles yang berhasil meraih popularitas dengan cara mengikuti apa yang pasar inginkan. Mengingat, pasar potensial adalah pria kelas atas, maka selera merekalah yang keduanya kejar. Satu hari, Judy dan Bubbles menemukan bahwa mereka jatuh cinta kepada salah satu penonton langganan. Masalahnya, pria ini sebenarnya sudah beristri dan Judy sesungguhnya mulai muak dengan pekerjaan ini. Punya motif yang berbeda terhadap si pria, mereka bersaing satu sama lain untuk mencapai kepentingan masing-masing. Namun, tentu hasilnya gak sesuai harapan. Dance, Girl, Dance berhasil menggambarkan secara unik dan nampol betapa desktruktifnya keinginan mencari validasi pria bagi perempuan.

    • Genre: drama, satir
    • Pemain: Maureen O’Hara, Lucille Ball
    • Sutradara: Dorothy Arzner 

  2. 2. Wadjda (2012)

    film Wadjda (dok. Razor Film Produktion/Wadjda)
    film Wadjda (dok. Razor Film Produktion/Wadjda)

    Wadjda adalah bocah perempuan yang bermimpi bisa punya sepeda agar tak harus lagi berjalan dari sekolah ke rumah setiap hari. Sepeda juga simbol kebebasan baginya yang setiap hari terkungkung oleh tradisi patriarki di negaranya. Saat merajuk kepada sang ibu, Wadjda hanya dapat penolakan keras. Sampai satu ketika, sang ibu seolah ditampar kenyataan ketika keluarga ayah Wadjda secara sepihak merencanakan pernikahan kedua untuk suaminya itu. Alasannya, karena ia tak bisa memberinya anak laki-laki. Kecewa, ini jadi titik balik sang ibu yang akhirnya menyadari kalau validasi suaminya tak berarti apa-apa dan hanya putrinya, Wadjda yang bisa memahaminya.

    • Genre: drama, coming of age
    • Pemain: Waad Mohammed, Reem Abdullah
    • Sutradara: Haifaa al-Mansour

  3. 3. Under the Fig Trees (2022)

    Under the Fig Trees (dok. Mad Distribution/Under the Fig Trees)
    Under the Fig Trees (dok. Mad Distribution/Under the Fig Trees)

    Sekelompok anak muda Tunisia bekerja di sebuah perkebunan selama libur sekolah. Perempuan dan laki-laki, tak ada yang membedakan beban kerja mereka. Semua dibayar sesuai dengan apa yang mereka berhasil dapat nantinya. Selama bekerja, mereka bergosip dan bertukar cerita. Salah satu dari mereka, Fidé, adalah tipe perempuan male-centered yang punya hubungan khusus dengan mandor kebun. Ia awalnya menaruh rasa bangga atas pencapaiannya, tetapi setelah tahu salah satu rekannya hampir jadi korban pelecehan seksual oleh si mandor, Fide menyadari kalau dirinya telah salah selama ini.

    • Genre: drama
    • Pemain: Fidé Fdhili, Ameni Fdhili
    • Sutradara: Erige Sehiri

  4. 4. The Girl with the Needle (2024)

    The Girl with the Needle (dok. MUBI/The Girl with the Needle)
    The Girl with the Needle (dok. MUBI/The Girl with the Needle)

    The Girl with the Needle bukan film true crime biasa. Meski menyenggol kejahatan yang dilakukan pembunuh berantai Dagmar Overbye, film ini memakai POV Karoline, perempuan miskin biasa. Sepeninggal suaminya yang tak ada kabar sejak berpartisipasi dalam Perang Dunia I, Karoline mengalami kesulitan finansial. Ia akhirnya pindah ke sebuah apartemen kotor dan bekerja sebagai buruh dengan upah minim. Di sana, ia jatuh cinta kepada salah satu petinggi pabrik. Karoline sempat percaya kalau pria ini akan menyelamatkannya dari kemiskinan dan kesengsaraan, sampai ia ditampar kenyataan pahit. Ketika Karoline hamil, sendirian, dan masih miskin, ia bertemu Dagmar yang memberinya sebuah solusi. Solusi yang ditawarkan Dagmar memang kontroversial, tetapi ini sebenarnya sebuah tamparan keras untuk pengabaian yang dilakukan otoritas dan pihak-pihak yang tak harus menanggung beban reproduksi dan pengasuhan.

    • Genre: drama, kriminal
    • Pemain: Vic Carmen Sonne, Trine Dyrholm
    • Sutradara: Magnus von Horn

  5. 5. Adam (2019)

    Adam (dok. Strand Releasing/Adam)
    Adam (dok. Strand Releasing/Adam)

    Film lain yang mendobrak keyakinan kalau perempuan butuh validasi pria adalah Adam. Ia sebuah film feminis berlatar Maroko dengan lakon Samia, perempuan muda yang tengah hamil besar dan sendirian. Tak mungkin meminta pertolongan orang terdekat yang hanya akan menghakimi dan menyalahkannya, Samia pun nekat kabur dari tempat kerjanya dan terlunta-lunta di jalanan Casablanca. Di sanalah, ia bertemu dengan Abla, ibu tunggal yang meski sempat ragu akhirnya mengizinkan Samia bekerja di toko rotinya dan tinggal sementara di rumahnya. Film ini bernapaskan semangat women support women di tengah masyarakat patriarki yang kerap menekan dan menyisihkan perempuan.

    • Genre: drama
    • Pemain: Lubna Azabal, Nissrine Errad
    • Sutradara: Maryam Touzani

    Kelima film tadi harusnya bisa menyadarkan kita betapa kejamnya kita saat menaruh ekspektasi dan tekanan terhadap perempuan. Sebaliknya, setelah berbagai kejahatan dan kesewenang-wenangan yang dilakukan pria, kita tidak mencecar mereka sebesar kita membenci perempuan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More