Saking melekatnya kultur patriarki, kita jadi terbiasa melihat segala hal dari sudut pandang pria. Contoh termudahnya adalah standar kecantikan. Bahkan, perempuan-perempuan pada masa lalu dididik merawat diri untuk calon pasangan mereka di masa depan, ketimbang untuk diri mereka sendiri. Ini juga yang bikin kita kerap menemukan perempuan yang rela bertikai dan bersaing secara tak sehat hanya untuk bisa “dipilih” laki-laki.
Istilah “pelakor” (perebut laki orang) saja adalah cerminan dari tradisi yang berpusat pada pria tersebut. Ia seolah melanggengkan keyakinan bahwa perempuanlah yang aktif menginisiasi perselingkuhan. Sementara, pria dianggap sebagai pihak pasif yang merespons rangsangan tersebut. Dalam produk hiburan, tradisi ini juga masih sering ditemui. Apalagi dalam film-film romantis lawas buatan pria macam Pretty Woman (1990), Sixteen Candles (1984) dan The Breakfast Club (1985). Merasa masih terjebak dalam kebutuhan untuk dapat validasi pria? Coba tonton 5 sinema yang mendobrak budaya male-centered women dalam film berikut.
