Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Gandhi Fernando Cerita Tantangan Garap Serial Thailand Badminton Boys
Di balik layar syuting serial BL Thailand Badminton Boys (dok. Pribadi/Gandhi Fernando)
  • Gandhi Fernando menggarap serial BL Thailand Badminton Boys, adaptasi novel Wattpad tentang badminton, enemies to lovers, rivalitas, dan persahabatan yang menarik iQIYI serta Above All Studios.
  • Sebagai penulis-sutradara, Gandhi terlibat dari adaptasi naskah, casting, hingga editing; chemistry pemeran utama dibangun lewat sistem coupling beberapa bulan sebelum syuting.
  • Perbedaan bahasa dan komunikasi pascaproduksi menjadi tantangan utama Gandhi. Produksi serial ini berlangsung enam bulan dan dijadwalkan tayang di iQIYI pada 15 Oktober 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times - Menonton film atau serial bukan sekadar hiburan bagiku sebagai penulis untuk kanal Entertainment. Pengalaman tersebut menjadi ruang bagiku untuk berimajinasi, sekaligus mengulik secara langsung apa yang sebenarnya para sineas ingin sampaikan lewat karya-karya mereka. Namun, mendapat kesempatan berbincang langsung untuk mengupas tuntas cerita di balik layar dan fakta menarik dari mata sutradara melahirkan sensasi yang berbeda.

Sensasi itulah yang aku rasakan ketika berbincang secara daring bersama Gandhi Fernando. Senias Indonesia yang baru-baru ini mendapat perhatian warganet karena diketahui akan segera merilis serial BL Thailand garapannya, Badminton Boys.

Gandhi Fernando, produser dan sutradara asal Indonesia ungkap berusaha lepas dari zona nyamannya dengan menantang diri di Negeri Gajah Putih. Berbekal kegemarannya menonton serial BL (Boys Lover) selama pandemik COVID-19, Gandhi melahirkan sebuah naskah adaptasi novel Wattpad yang menarik perhatian iQIYI dan produser Above All Studios.

Melalui pesan pribadi WhatsApp, aku bisa mengetahui kisah menarik di balik syuting Badminton Boys (2026), sekaligus tantangan yang Gandhi hadapi selama syuting di Thailand.

1. Berawal dari suka serial BL hingga picthing ide ke iQIYI dan produser

Di balik layar syuting serial BL Thailand Badminton Boys (dok. Pribadi/Gandhi Fernando)

Aku percaya hobi bisa mengantarkan seseorang untuk menggapai mimpinya. Seperti halnya Gandhi Fernando yang sejak masa pandemik COVID-19 sering menonton film atau serial BL bernuansa coming of age, seperti SOTUS, I Told Sunset About You, Bad Buddy, My School President, 1000 Stars, dan Dark Blue Kiss. Momentum Gandhi Fernando saat pitching ide Badminton Boys (2026) ini cukup tepat, karena bersamaan saat serial Heated Rivalry (2025) rilis di Netflix.

“Setelah 3,5 tahun bulak balik belajar bahasa Thailand. Akhirnya dapet kesempatan untuk meeting dengan iQIYI untuk mengajukan series di Thailand, kebetulan series Heated Rivalry lagi viral, mereka lagi nyari cerita-cerita BL sejenis,” ungkap pria yang pernah menjadi Mister Supranational Indonesia 2018 ini.

Sudah mengenal pasar BL cukup lama, tidak mengherankan Gandhi mampu menghadirkan formula yang memang sedang dicari oleh iQIYI. Ia menggabungkan cabang olahraga badminton yang terkenal di Asia, trope enemies to lovers, dengan nuansa coming of age penuh rivalitas dan persahabatan. Kegemaran Gandhi dengan olahraga badminton semakin menguatkan bahwa Badminton Boys (2026) akan terasa benar-benar seperti serial yang ia tulis dan percaya.

“Aku banget sih. Badminton, BL, format enemies to lovers diramu jadi satu. Kurasa aku gak salah pilih project perdana. Tema olahraga badminton juga belum pernah diangkat jadi series BL. Jadi sisi originalitasnya masih kuat meskipun menggunakan template cerita enemies to lovers yang udah sering digunakan di banyak series populer lainnya,” sambungnya.

2. Gandhi cerita metode coupling untuk membangun chemistry pemain

Di balik layar syuting serial BL Thailand Badminton Boys (dok. Pribadi/Gandhi Fernando)

Serial Badminton Boys (2026) ini ternyata berasal dari novel yang Gandhi unggah melalui Wattpad. Mengingat ini debut penyutradaraan Gandhi di Thailand, aku cukup terkejut saat ia diberikan keleluasaan untuk terlibat secara menyeluruh, mulai dari mengadaptasi screenplay yang memiliki struktur episode, menerjemahkan naskah itu menjadi visual, terlibat dalam casting pemain, hingga tahap editing di pasca produksi.

“Untuk casting juga aku terlibat. Karena aku menulis karakternya, tentunya aku punya bayangan mengenai siapa yang cocok menjadi Sumo, Kao, dan karakter-karakter lainnya. Tapi prosesnya tetap diskusi bersama para produser Thailand dan platform iQIYI juga. Buat aku casting bukan cuma soal siapa yang secara visual cocok, tapi apakah mereka bisa membawa personality karakter tersebut dan, terutama untuk pemeran utama, apakah chemistry mereka bekerja,” jelas produser kelahiran Jakarta ini.

Satu hal yang selalu membuatku takjub setiap menonton serial BL Thailand, kenapa chemistry mereka selalu terlihat menyatu di depan layar? Rasa penasaranku ini terjawab lewat pernyataan Gandhi yang menceritakan proses membangun chemistry antara pemeran Sumo dan Kao. Di sisi lain, menurut Gandhi sebenarnya setiap aktor, baik Indonesia maupun Thailand pasti memiliki cara tersendiri untuk membangun chemistry.

“Kalau di Thailand itu sistemnya 'coupling' yah. Jadi sebelum syuting mereka berdua (Petch dan Nine) sudah dipertemukan jauh hari, hangout, ngonten bareng di media sosial, dateng-dateng ke event. Jadi pas tiba saatnya kita syuting, chemistry mereka sudah terbangun dari beberapa bulan sebelumnya,” lanjutnya.

3. Perbedaan bahasa menjadi salah satu tantangan Gandhi sebagai sutradara Badminton Boys

Di balik layar syuting serial BL Thailand Badminton Boys (dok. Pribadi/Gandhi Fernando)

Meski Gandhi sudah mempelajari bahasa Thailand sejak 3,5 tahun lalu, tapi perbedaan bahasa tetap menjadi culture shock baginya. Ketika Gandhi bercerita terkadang ia memilih mempraktikkan gestur atau dialog yang harus di-deliver para aktor, aku mengalami deja vu. Hal serupa beberapa kali aku lakukan saat harus mewawancarai artis mancanegara, tapi berujung blank karena terlalu gugup.

“Bayangkan harus directing aktor, menjelaskan emosi yang sangat spesifik, blocking, timing, sambil berpikir menggunakan bahasa yang bukan bahasa pertama kita. Itu pengalaman yang cukup challenging. Untungnya karena background aktor aku juga cukup banyak, men-direct acting para pemain, kadang aku suka praktikin sendiri juga bagaimana delivery dialognya kalau aku mentok gak bisa menjelaskan maksud yang diinginkan apa,” tuturnya.

4. Perbedaan syuting di Indonesia dan Thailand yang Gandhi alami

Di balik layar syuting serial BL Thailand Badminton Boys (dok. Pribadi/Gandhi Fernando)

Lokasi syuting yang nyaman bisa meningkatkan produktivitas kru dan akting pemain. Maka dari itu, banyak sineas Indonesia yang sudah mulai concern dan memperbaiki budaya syuting film di Tanah Air. Gandhi pun menceritakan bagaimana budaya syuting di Thailand yang mayoritas tepat waktu.

“Di Thailand (departemen art, properti, dan kostum) sat set banget, gak pakai nunggu. Kalau pun ada nunggu, mereka sudah bilang dari jauh hari bahwa hari syuting kesekian butuh waktu 2 jam untuk prepare, jadi call time syuting diundur dan disesuaikan request dari Art Director,” kata aktor yang pernah membintangi serial Inul & Adam (2024) ini.

Ketepatan waktu saat call time ternyata berpengaruh erat terhadap durasi produksi secara keseluruhan, lho. Aku cukup kaget saat tahu proses pra produksi hingga pasca produksi hanya membutuhkan waktu enam bulan saja. Padahal format dari Badminton Boys (2026) adalah serial.

5. Berkomunikasi dengan tim editor pada pasca produksi juga butuh effort yang ekstra

Di balik layar syuting serial BL Thailand Badminton Boys (dok. Pribadi/Gandhi Fernando)

Sejak awal, Gandhi memang menekankan bahwa ia ingin terlibat penuh terhadap proses produksi serial ini, termasuk saat tahap editing. Ia turut serta saat pemilihan musik, sound, color, sampai final delivery. Tidak mengherankan, karena Gandhi ingin menghadirkan karya yang layak ditonton secara internasional.

“Tantangan kedua adalah post produksi. Berkomunikasi dalam editing kepada crew Thailand sangat challenging untuk aku. Kalau secara pribadi, tantangan terbesarnya mungkin pressure terhadap diri sendiri. Karena ini karya pertamaku sebagai writer-director di Thailand. Aku ingin membuktikan bahwa aku datang ke sana bukan sekadar numpang membuat project, tetapi benar-benar bisa bekerja bersama cast dan crew lokal dan menghasilkan sesuatu yang layak ditonton secara internasional,” ucap Gandhi yang dua kali masuk IGD di Bangkok karena stres sehingga asam lambung dan gastric kumat saat produksi berlangsung.

Serial Badminton Boys bisa kamu tonton mulai 15 Oktober 2026 di iQIYI. Kamu bisa cek penjelasan karakter, momen di balik layar, dan trailer resminya melalui akun Instagram @badmintonboys.series, ya! Sudah siapkah kamu bertemu Sumo dan Kao?

Curated For You

Editorial Team

Related Article