Genre Aksi Masih Kalah dari Horor Indonesia, Joe Taslim: Lagi Siklusnya

- Genre horor masih mendominasi box office Indonesia, sementara film aksi jarang menonjol meski proses produksinya lebih kompleks dan memakan biaya besar menurut Yayan Ruhian.
- Joe Taslim menilai dominasi horor adalah hal wajar dalam siklus industri film, karena genre ini mudah diterima penonton dan memberikan pengalaman menonton bersama yang kuat.
- Meski begitu, Joe optimis tren akan bergeser seiring berkembangnya selera penonton, membuka peluang bagi genre lain seperti aksi, animasi, dan sci-fi untuk bersinar di masa depan.
Jakarta, IDN Times - Genre horor masih merajai box office Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Di tengah maraknya film-film horor yang sukses besar, film aksi justru relatif lebih jarang mendominasi layar bioskop. Fenomena ini turut mendapat perhatian dari dua aktor laga Indonesia yang namanya telah dikenal hingga mancanegara, Yayan Ruhian dan Joe Taslim.
Menjelang perilisan film The Furious (2026), keduanya berbagi pandangan soal kondisi perfilman Indonesia saat ini. Meski mengakui genre aksi tengah kalah pamor dibanding horor, mereka percaya tren tersebut hanyalah bagian dari siklus yang suatu saat akan berubah.
1. Yayan mengakui proses pembuatan film aksi lebih sulit

Sebagai pegiat genre aksi, Yayan Ruhian mengaku dirinya juga sering mempertanyakan mengapa film aksi belum mendapatkan tempat sebesar genre horor di Indonesia. Padahal menurutnya, proses produksi film aksi jauh lebih kompleks dan menuntut banyak aspek teknis.
"Kenapa ya? Padahal kalau kita bicara mungkin tentang proses, Masya Allah, bikin film action itu lain sekali ya dari banyak hal. Waktu lebih lama, tentunya budget juga lebih besar," aku pemeran Mad Dog itu saat konferensi pers di XXI Epicentrum, Karet Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (5/6/2026).
Meski demikian, Yayan memilih melihat kondisi ini secara positif. Ia menilai selera penonton akan terus berubah seiring waktu. Saat ini horor mungkin sedang berada di puncak popularitas, tetapi bukan berarti genre lain kehilangan peluang.
"Ya mudah-mudahan karena setiap saat dunia berputar. Mudah-mudahan saat ini respon penonton lagi condong ke horor dan film-film lainnya, sehingga film action agak kurang. Mudah-mudahan berikutnya film action akan menjadi atau mendapatkan tempat yang sebaik film-film lainnya karya sineas-sineas Indonesia," lanjutnya.
2. Jota melihat genre horor memang masih diminati penonton Indonesia

Joe Taslim memiliki pandangan yang senada. Aktor yang akrab disapa Jota itu menilai dominasi horor saat ini merupakan sesuatu yang sangat wajar dalam perkembangan industri perfilman. Menurutnya, hampir setiap negara yang industri filmnya berkembang pernah mengalami fase serupa, termasuk Korea Selatan yang kini dikenal memiliki ragam genre kuat di pasar global.
"Aku rasa ini suatu siklus ya. Siklus dimana emang penonton kita genre yang digemari adalah mungkin horor dan drama ya. Tapi itu aku rasa sesuatu yang masih sangat normal dan sangat sehat," katanya.
Joe kemudian mengingat percakapannya dengan seorang pelaku perfilman Korea Selatan saat terlibat dalam proyek film di negara tersebut. Dari pengalaman itu, ia memahami bahwa horor memang menjadi salah satu genre yang paling mudah diterima penonton secara luas.
"Aku pernah berbincang dengan produser senior Korea juga waktu aku main film di Korea, dia juga bilang Korea pun sama. Pada saat Korea pertama kali berkembang, genre (horor) yang paling gampang di-digest untuk penonton datang ke bioskop, yang mempunyai efek communal experience yang cukup impactful," ungkap Joe.
Menurut Joe, pengalaman menonton film horor secara bersama-sama menjadi salah satu alasan utama mengapa genre ini begitu disukai banyak orang. Itulah alasan kenapa genre horor masih dan selalu laris di pasaran.
"Horor itu kan kita takut bersama, pegangan, teriak bersama, itu kan kayak naik roller coaster sama-sama. Dan suatu negara yang filmnya berkembang itu emang genre itu (horor) pasti akan sangat awal-awal seperti itu," ucap Joe.
3. Jota sebut tren genre akan berubah di masa depan

Meski horor masih mendominasi saat ini, Joe optimis akan ada titik ketika penonton Indonesia mulai mencari pengalaman baru dari genre lain. Pada saat itulah film aksi, animasi, sci-fi, atau genre lain berpotensi mendapatkan ruang yang lebih besar.
"Pada saat kualitas penonton itu semakin baik dan pada saat penonton menemukan titik. Ada titik di mana stagnan, habis itu baru genre-genre yang lain mempunyai napas untuk dilirik," jelas Joe.
Ia pun memberikan contoh keberhasilan film animasi Jumbo (2025) yang sukses besar di box office, membuktikan bahwa selera pasar Indonesia terus berkembang dari waktu ke waktu.
"Dan juga terbukti kan animasi ada Jumbo, yang tidak pernah kita pikirkan 10 tahun yang lalu Indonesia bikin animasi bisa selaku itu," tegasnya.
Karena itu, Joe mengajak para pelaku film aksi untuk tetap fokus berkarya dan terus meningkatkan kualitas. Baginya, tugas sineas bukan mengikuti tren semata, melainkan terus menghadirkan karya terbaik sampai momentum itu datang.
"Dan ternyata emang aku rasa ini sesuatu yang normal, dan kita emang pelaku action hanya tetap bekerja sebaik mungkin. Dan kita beruntung juga kita bisa mempunyai panggung lain dan tetap membangun action Indonesia. Tapi itu satu titik aku rasa transisi terhadap genre lain akan diminati. Itu pasti akan terjadi," kata Joe.


















