potret Prilly Latuconsina di kantor IDN, Jakarta, Jumat (4/9/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)
Perjalanan karier Prilly sebagai aktor ternyata tidak selalu berjalan mulus. Di balik pencapaiannya di industri film, aktris kelahiran 1996 tersebut sempat menghadapi berbagai stigma yang membuatnya meragukan kemampuan diri sendiri.
Salah satunya muncul karena Prilly lebih dulu dikenal sebagai pemain sinetron, khususnya lewat Ganteng-Ganteng Serigala (GGS). Menurut Prilly, citra yang saat itu melekat padanya membuat sebagian orang meragukan kemampuannya ketika mulai terjun ke layar lebar.
“Orang biasa ngelihat aku di sinetron GGS, ngata-ngatain aku alay, ‘Kayaknya gak akan (bisa) deh,” lanjutnya.
Dengan mata berkaca-kaca, Prilly juga mengaku pernah mendapat anggapan bahwa dirinya bisa terjun ke dunia film hanya karena memiliki banyak pengikut, bukan karena kemampuan akting atau kesesuaian dengan karakter yang diperankan. Berbagai pandangan tersebut bahkan sempat membuatnya mempertanyakan kemampuan diri sendiri. Namun, setelah berhasil meraih Piala Citra, Prilly pun menjadikan penghargaan tersebut sebagai pengingat bahwa ia memang memiliki tempat di industri film.
“Aku mendapatkan kayak omongan, ‘Ya, Prilly ada di film karena followers-nya banyak, bukan karena emang bisa akting atau emang cocok karakternya.’ Nah, karena aku punya banyak pengalaman seperti itu, jadi Piala Citra itu sebagai pengingat dan penyemangat aku bahwa aku pantes ada di sini. Aku berhak untuk terus belajar kayak yang lain, berhak untuk terus berkarya, gak down sama stigma-stigma yang udah ada di luar sana, dan aku bisa patahkan,” lanjut Prilly.
Pernyataan tersebut disampaikan Prilly dengan mata berkaca-kaca, membuat suasana roundtable interview bersama IDN Times terasa emosional. Pengalaman panjang menghadapi stigma itu pula yang membuat Piala Citra memiliki arti lebih dari sekadar penghargaan bagi Prilly. Prilly pun berharap pengalamannya tersebut bisa menginspirasi aktor lain, terutama mereka yang berasal dari dunia sinetron dan ingin terjun ke industri film, tetapi masih menghadapi stigma atau keraguan terhadap kemampuan sendiri.