Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Lagu Putus Cinta Ikonik Era 80-an, Semua Orang Pasti Tahu!
ABBA (facebook.com/ABBA)
  • Lima lagu putus cinta era 80-an yang disorot ialah karya ABBA, Whitney Houston, Laura Branigan, Phil Collins, dan George Michael, dengan tema kehilangan, penyesalan, serta perpisahan.
  • “The Winner Takes It All” berangkat dari perceraian Björn Ulvaeus dan Agnetha Fältskog, sementara “Careless Whisper” menampilkan rasa bersalah akibat kesalahan dan pengkhianatan.
  • Balada-baladanya dikemas dengan karakter kuat, dari vokal emosional hingga piano dan saksofon ikonik, serta tetap dikenal lewat film, radio, televisi, dan playlist nostalgia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Era 1980-an melahirkan banyak lagu pop yang sampai sekarang masih mudah dikenali hanya dari beberapa nada pertama. Di antara lagu-lagu tersebut, tema putus cinta menjadi salah satu yang paling sering muncul. Meski sudah puluhan tahun berlalu, lirik tentang kehilangan, penyesalan, dan sulitnya melupakan seseorang tetap terasa dekat dengan kehidupan banyak orang.

Menariknya, lagu patah hati dari era 80-an tidak selalu dibawakan dengan musik yang murung. Ada yang dikemas sebagai balada emosional, ada pula yang terdengar lebih dramatis dan penuh nostalgia. Beberapa bahkan tetap populer karena sering muncul di film, acara televisi, radio, hingga berbagai playlist nostalgia. Berikut lima lagu putus cinta ikonik era 80-an yang hampir semua orang pasti pernah dengar.

1. “The Winner Takes It All” – ABBA

“The Winner Takes It All” merupakan salah satu lagu ABBA yang paling emosional. Lagu ini ditulis oleh Björn Ulvaeus setelah perceraiannya dengan Agnetha Fältskog, yang juga merupakan anggota ABBA. Liriknya menggambarkan hubungan yang berakhir dengan sudut pandang seseorang yang harus menerima bahwa dalam percintaan, ada pihak yang merasa menang dan ada yang harus menanggung kehilangan.

Kekuatan lagu ini terletak pada cara ABBA membungkus kesedihan dengan melodi yang indah dan mudah diingat. Vokal Agnetha membuat lirik tentang perpisahan terdengar semakin menyayat, terutama ketika lagu memasuki bagian klimaks. Popularitas Mamma Mia! (2008) juga membuat lagu ini kembali dikenali oleh generasi yang lebih muda.

2. “Didn’t We Almost Have It All” – Whitney Houston

Whitney Houston membawakan “Didn’t We Almost Have It All” dengan vokal penuh emosi. Lagu yang ditulis oleh Michael Masser dan Will Jennings ini muncul dalam album Whitney dan bercerita tentang seseorang yang masih memikirkan hubungan yang telah berakhir. Kenangan indah dari masa lalu terasa sulit dilepaskan, terutama ketika ada sesuatu yang kembali mengingatkan pada mantan pasangan.

Pertanyaan dalam judulnya sendiri sudah menggambarkan rasa penyesalan yang menjadi inti dalam lagu. Salah satu daya tariknya adalah kemampuan Whitney untuk membuat kisah putus cinta terdengar sangat personal. Alih-alih sekadar marah kepada mantan, lagu ini lebih banyak menunjukkan perasaan kehilangan terhadap hubungan yang sebenarnya pernah begitu berarti.

3. “How Am I Supposed to Live Without You” – Laura Branigan

“How Am I Supposed to Live Without You” menggambarkan salah satu fase paling sulit setelah hubungan berakhir, yaitu ketika seseorang belum tahu bagaimana menjalani hidup tanpa pasangan yang selama ini selalu ada. Lagu ini ditulis oleh Michael Bolton dan Doug James, lalu direkam oleh Laura Branigan pada 1983. Liriknya berisi rasa kehilangan yang begitu besar sampai kehidupan setelah perpisahan terasa hampir mustahil untuk dijalani.

Versi Branigan juga memiliki nuansa dramatis yang sangat khas balada pop era 80-an. Vokalnya terdengar kuat, tetapi tetap menyimpan kesedihan yang membuat bagian refrein terasa semakin emosional. Lagu ini kemudian menjadi salah satu rekaman penting dalam karier Branigan dan juga memiliki sejarah menarik karena Bolton akhirnya merekam versinya sendiri beberapa tahun kemudian.

4. “Against All Odds (Take a Look at Me Now)” – Phil Collins

Phil Collins menghadirkan sisi patah hati yang lebih tenang lewat “Against All Odds (Take a Look at Me Now)”. Lagu ini ditulis untuk film Against All Odds dan menggambarkan seseorang yang masih berharap setelah hubungan berakhir, meskipun kemungkinan untuk kembali bersama terasa sangat kecil. Perasaannya bukan sekadar sedih karena kehilangan pasangan, tetapi juga frustrasi karena tidak bisa mengubah keadaan.

Piano yang menjadi bagian penting dalam aransemennya membuat lagu ini terdengar intim sejak awal. Perlahan, musik berkembang dan memberikan ruang bagi emosi Collins untuk semakin terasa, terutama ketika memasuki bagian refrein. Lagu ini juga menunjukkan bagaimana sebuah soundtrack film bisa berdiri sendiri sebagai lagu pop yang kuat.

5. “Careless Whisper” – George Michael

“Careless Whisper” menghadirkan cerita patah hati dari sudut pandang yang sedikit berbeda karena dibangun di atas rasa bersalah dan penyesalan. Lagu ini ditulis oleh George Michael bersama Andrew Ridgeley dan pertama kali dirilis pada 1984 sebagai bagian dari proyek Wham!. Liriknya menggambarkan seseorang yang menyadari bahwa kesalahan dan pengkhianatan telah menghancurkan sebuah hubungan.

Karena itu, kesedihan dalam lagu ini bercampur dengan perasaan bersalah yang membuat situasinya semakin rumit. Hal yang membuat “Careless Whisper” begitu mudah dikenali tentu saja adalah saksofon ikoniknya. Melodi tersebut langsung memberikan suasana melankolis bahkan sebelum George Michael mulai bernyanyi. Lagu ini kemudian berkembang menjadi salah satu hit terbesar yang melekat pada nama George Michael dan tetap populer lintas generasi.

Lagu-lagu putus cinta dari era 80-an membuktikan bahwa cerita tentang kehilangan dan perpisahan tidak pernah benar-benar ketinggalan zaman. Dari lima lagu di atas, mana yang paling sering mereka dengarkan saat sedang ingin bernostalgia?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article