5 Lagu Rock Legendaris yang Tercipta di Ambang Perpecahan Band

Konflik internal band sering dianggap sebagai tanda kehancuran. Ego bertabrakan, visi musik berbeda, sampai masalah personal bisa bikin grup legendaris di ambang bubar. Namun anehnya, justru di masa-masa paling panas itu sering lahir karya paling jujur dan paling kuat secara emosional. Ketika tekanan memuncak, kreativitas kadang ikut meledak.
Ada banyak lagu hebat yang tercipta bukan saat semuanya harmonis, tapi ketika hubungan antarpersonel sudah retak. Lagu-lagu ini terasa lebih hidup karena membawa emosi nyata di baliknya, baik amarah, penyesalan, nostalgia, sampai perpisahan. Berikut deretan lagu rock legendaris yang tercipta di ambang perpecahan band dan tetap dikenang sampai sekarang.
1. “Let It Be” – The Beatles (1970)
“Let It Be” lahir di periode paling rapuh dalam sejarah The Beatles. Saat proses album berlangsung, hubungan John, Paul, George, dan Ringo sudah penuh gesekan kreatif dan personal. Proyek ini awalnya dimaksudkan untuk kembali ke akar, tapi malah dipenuhi perdebatan di studio. Bahkan sebelum albumnya resmi rilis, band ini sebenarnya sudah bubar secara internal.
Menariknya, justru dari situ muncul salah satu lagu paling menenangkan sepanjang sejarah rock. “Let It Be” terasa seperti pesan penerimaan dan keikhlasan di tengah kekacauan. Vokal Paul McCartney dan nuansa gospelnya memberi kesan perpisahan yang hangat, bukan pahit. Lagu ini akhirnya menjadi lagu perpisahan tidak resmi bagi band terbesar di dunia tersebut.
2. “Sympathy For The Devil” – Guns N’ Roses (1993)
Versi cover “Sympathy For The Devil” yang direkam Guns N’ Roses untuk album The Spaghetti Incident? sering dianggap sebagai penanda runtuhnya formasi klasik mereka. Album ini memang unik, karena berisi lagu-lagu cover, tapi suasana di balik layar jauh dari kata solid. Hubungan antarpersonel sudah tegang, arah musik tidak lagi sejalan, dan komunikasi makin renggang.
Slash pernah menyebut lagu ini sebagai suara band yang sedang bubar. Tak lama setelah rilis, konflik internal makin parah dan formasi ikonik GNR pun pecah. Meski begitu, cover ini tetap punya tempat khusus di hati fans, apalagi karena muncul di film Interview with the Vampire (1994). Lagu ini jadi semacam momen terakhir ketika mereka masih rekaman bersama sebelum semuanya berubah.
3. “Silver Springs” – Fleetwood Mac (1977)
“Silver Springs” lahir dari luka hati Stevie Nicks setelah putus dengan Lindsey Buckingham, yang kebetulan satu band dengannya. Saat itu Fleetwood Mac juga dipenuhi drama percintaan antar anggota, membuat suasana rekaman Rumours sangat emosional. Lagu ini begitu personal dan tajam liriknya, sampai terasa seperti dinyanyikan langsung ke mantan pasangan.
Ironisnya, lagu ini awalnya tidak dimasukkan ke album Rumours karena keterbatasan durasi piringan hitam, keputusan yang membuat Stevie Nicks sangat kecewa. Ketegangan itu ikut memperparah retakan dalam band. Bertahun-tahun kemudian, “Silver Springs” justru dianggap sebagai salah satu lagu paling kuat Fleetwood Mac, terutama saat dibawakan live dengan tatapan tajam Stevie ke arah Buckingham.
4. “The Long Run” – Eagles (1979)
Saat mengerjakan album The Long Run, hubungan antarpersonel Eagles sudah berada di titik didih. Proses rekaman memakan waktu lama, penuh tekanan, dan dipenuhi pertengkaran soal arah musik. Beberapa anggota bahkan hampir baku hantam saat tur setelah album rilis. Judul lagunya sendiri terasa seperti ironi, padahal band-nya hampir habis tenaga.
Lagu “The Long Run” mencerminkan kelelahan sekaligus sikap sinis terhadap industri musik dan hubungan internal band. Meski groove-nya santai dan enak didengar, cerita di baliknya cukup pahit. Tak lama setelah periode ini, Eagles resmi bubar untuk waktu yang cukup lama. Lagu ini jadi penanda era terakhir sebelum mereka masuk masa istirahat panjang.
5. “Poles Apart” – Pink Floyd (1994)
“Poles Apart” muncul di album The Division Bell, yang dibuat setelah konflik besar antara Roger Waters dan anggota Pink Floyd lainnya. Waters sudah keluar dan bahkan sempat menggugat penggunaan nama band. Album ini direkam tanpa dirinya, dengan David Gilmour dan Richard Wright mengambil peran kreatif utama. Situasinya penuh ketegangan hukum dan emosional.
Lagu ini terasa seperti refleksi dan komentar halus terhadap perpecahan tersebut, juga menyentuh sosok Syd Barrett, pendiri awal Pink Floyd. Banyak fans melihatnya sebagai bentuk dialog musikal terhadap masa lalu yang retak. Di tengah konflik identitas band, lagu ini justru jadi salah satu momen paling jujur di fase terakhir mereka.
Konflik memang bisa menghancurkan band, tapi kadang juga melahirkan karya yang tak tergantikan. Dari The Beatles sampai Guns N’ Roses, sejarah rock membuktikan bahwa momen hampir bubar bisa menghasilkan mahakarya. Menurut kamu, lagu rock mana yang paling terasa emosinya karena lahir dari konflik internal band?


















