Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Banyak Lagu The Weeknd Dianggap Toxic? Ternyata Ini Alasannya
ilustrasi the weeknd (instagram.com/theweeknd)
  • Lagu The Weeknd kerap dianggap toxic karena konsisten menggambarkan hubungan tidak sehat, hasrat, kecanduan, ego, seks, dan narkoba sebagai pelarian emosional.

  • Dalam sejumlah lagu, Abel Tesfaye menampilkan karakter dirinya sebagai sumber masalah, termasuk sosok egois atau kasar yang lahir dari kondisi kehidupan gelap saat muda.

  • Persona misterius The Weeknd dibangun lewat dunia malam, pesta, kesepian, dan kebencian diri, menjadikan sisi gelap tersebut bagian dari narasi sinematik musiknya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Nama The Weeknd memang sudah lama identik dengan lagu-lagu berbau tentang cinta, pesta, luka, dan malam yang penuh warna. Solois pria tersebut baru-baru ini juga menggelar konser di Jakarta selama dua hari di bulan September 2026 dengan gegap gempita. Namun, di balik melodi-melodinya yang indah, ternyata tersimpan cerita yang tak selalu ramah saat didengar.

Liriknya seringkali membawa banyak pendengar akan pengekspresian sebuah hubungan yang rumit, hasrat yang liar, hingga keputusan yang berakhir pahit. Mulai dari 'The Hills', 'Often', hingga 'Call Out My Name', The Weeknd berkali-kali menggambarkan cinta yang penuh dengan nuansa tarik ulur, kesepian, kecanduan, dan keputusan yang merugikan diri sendiri atau toxic. Nah, bagi kamu yang penasaran mengapa The Weeknd atau Abel Tesfaye kerap membuat lagu dengan makna yang toxic, bisa menyimak beberapa alasan yang akan dibagikan dalam artikel ini, ya!

1. Liriknya memang sering menggambarkan hubungan yang tidak sehat

ilustrasi the weeknd (instagram.com/theweeknd)

Salah satu alasan utama dibalik lagu The Weeknd yang kerap dianggap toxic adalah karena banyak liriknya yang menggambarkan hubungan yang jauh dari kata sehat. Abel sering menampilkan karakter yang egois, manipulatif, sulit berkomitmen, abusif, atau menjadikan seks dan narkoba sebagai pelarian dari masalah emosional. Hal ini sudah sangat terlihat sejak House of Balloons, mixtape yang menjadi bagian pertama dari trilogi awal The Weeknd.

Dalam ulasannya, Pitchfork menyebutkan bahwa materi yang dibawakan tersebut sangat seksual dan berfokus pada narkotika. Bahkan ketika beberapa lagu digabung mulai dari House of Balloons, Thursday, dan Echoes of Silence, narasi atau makna tersebut semakin terlihat jelas mengarah pada hubungan codependent atau saling bergantung secara tidak sehat. Oleh karena itu, kesan toxic yang dirasakan pendengar atau fans dalam lagu The Weeknd bukan sekadar persepsi biasa. Dalam lagu yang diciptakan Abel, memang ada pola lirik yang secara konsisten mengeksplorasi hubungan yang penuh masalah, hasrat, ego, serta ketergantungan.

2. Penyanyi sering menampilkan dirinya sebagai sosok yang bermasalah

ilustrasi the weeknd (instagram.com/theweeknd)

Hal menarik dari musik The Weeknd adalah sang penyanyi tidak selalu menggambarkan dirinya sebagai korban. Justru karakter yang ia nyanyikan seringkali menjadi sumber masalah dalam hubungan itu sendiri. Dalam wawancara dengan The Guardian, Abel Tesfaye mengakui bahwa dirinya mempunyai hubungan yang rumit dengan seorang perempuan.

Laki-laki tersebut juga mengatakan bahwa beberapa lirik yang pernah ditulisnya memang terdengar kasar ketika didengarkan kembali. Hal itu dikarenakan sebagian besar lirik tersebut dibuat ketika dirinya masih berada di usia yang sangat muda. Menurut Abel Tesfaye dalam wawancara bersama The Guardian, kondisi mental seseorang dapat memengaruhi karya yang dibuatnya. Ia menjelaskan bahwa ketika berada dalam “dark hole” atau kondisi kehidupan yang gelap, seseorang akan menulis berdasarkan keadaan tersebut. Oleh karena itu, tak heran jika sejumlah lirik lagu The Weeknd dapat dibaca sebagai potret karakter yang sedang berada dalam kondisi buruk atau toxic.

3. The Weeknd memang dibangun sebagai persona yang gelap

ilustrasi the weeknd (instagram.com/theweeknd)

Pada awal kariernya, identitas The Weeknd memang sengaja dibuat misterius. Bahkan menurut laporan dari The Guardian, Abel Tesfaye pernah menjelaskan bahwa dirinya memang menjalankan konsep “enigmatic artist” setelah melihat bagaimana musik dan citra misteriusnya mendapat perhatian publik. Persona tersebut kemudian berkembang menjadi karakter yang hidup di dunia malam yang sering kali dipenuhi oleh seks, narkoba, pesta, kesepian, dan hubungan yang kacau.

Oleh sebab itu banyak pendengar dan fans mulai menggambarkannya sebagai sosok yang berada di antara merayakan kehidupan gemerlap dan secara bersamaan, memperlihatkan rasa kebencian yang besar terhadap diri sendiri. Tak hanya itu, Pitchfork juga melihat hal serupa pada lagunya yang berjudul 'After Hours'. Dalam ulasannya, media tersebut menyebut bahwa The Weeknd sering membangun persona sebagai “self loathing villain” yaitu karakter yang sadar akan sisi buruk dirinya dan menjadikannya bagian dari narasi sinematik musiknya.

Dengan beberapa alasan di atas, tak heran jika karakter toxic dalam lagu-lagu The Weeknd bukan sekadar untuk membuat dirinya terlihat keren dan tidak biasa di kanca musik dunia. Namun juga karakter tersebut dibangun sebagai alat cerita untuk menunjukkan bagaimana seseorang dapat terjebak dalam kesenangan, kecanduan, ego, dan hubungan yang justru menghancurkan dirinya sendiri. Jadi menurutmu, apakah semua kisah gelap dalam lagunya benar-benar mencerminkan sosok The Weeknd yang toxic atau justru menjadi cara sang musisi bercerita tentang sisi gelap manusia?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article