Lirik Lagu Etalase - Barasuara, Dimodifikasi untuk Suarakan Karhutla

- Barasuara memodifikasi lirik “Etalase” saat Synchronize Festival 2026 untuk menyoroti kebakaran hutan dan lahan yang berdampak pada hutan, satwa liar, serta masyarakat.
- Lirik asli “Etalase” mengkritik budaya pencitraan, perbandingan, pencarian validasi, dan kecenderungan menghakimi atau bertindak semena-mena karena popularitas maupun kekuasaan.
- Dalam penampilan itu, lirik tentang kekuasaan diganti menjadi sindiran karhutla; Kemenhut mencatat 270 hotspot nasional, sementara Kalimantan Tengah naik dari 19 menjadi 92 titik.
Lagu “Etalase” milik Barasuara kembali menarik perhatian setelah liriknya dimodifikasi untuk menyuarakan isu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Perubahan lirik di Synchronize Festival 2026 pada Jumat (16/10/2026) ini menjadi cara kreatif Iga Massardi cs untuk menyampaikan keresahan terhadap bencana lingkungan yang masih berdampak pada hutan, satwa liar, hingga masyarakat di sejumlah wilayah.
Gak sedikit netizen yang lalu meminta versi audio resminya untuk ikut diangkat ke media sosial. Lewat lirik yang disesuaikan dengan situasi karhutla, memangnya bagaimana lirik lengkap dari "Etalase" milik Barasuara?
1. Lirik Etalase - Barasuara

cuplikan video lirik Etalase - Barasuara (youtube.com/barasuara) Kita adalah pameran
Dari ribuan kegagalan
Etalase kepalsuan
Tanpa jiwa dan kebahagiaan
Dari caraku melihat
Kita lelah bersiasat
Sepanjang di perjalanan
Hanya ada keseragaman
Kita adalah pameran
Dari ribuan kegagalan
Etalase kepalsuan
Tanpa jiwa dan kebahagiaan
Dari caraku melihat
Kita lelah bersiasat
Sepanjang di perjalanan
Hanya ada keseragaman
Bagai katak dalam tempurung
Merasa besar padahal tanggungSerba-serbi kita semua
Semakin jarang untuk berkaca
Komparasi dan validasi
Menu pokok setiap hari
Mengakui hanya baiknya
Yang buruknya menguap entah ke mana
Kita semua biasa saja
Namun sulit mengakuinya
Sering kita merasa jumawa
Menilai semua berdasar angka
Begitu rendah harga manusia
Dan kita berlomba untuk membelinya
Bagai katak dalam tempurung
Merasa besar padahal tanggung
Serba-serbi kita semua
Semakin jarang untuk berkaca
Komparasi dan validasi
Menu pokok setiap hari
Mengakui hanya baiknya
Yang buruknya menguap entah ke mana
Kita semua biasa saja
Namun sulit mengakuinyaBenar sedikit menjadi hakim
Mendadak jadi si paling alim
Punya wawasan gagah-gagahan
Tidak sepaham langsung dikafirkan
Lebih terkenal tak lebih baik
Sudah terbukti banyak yang munafik
Punya orang tua berkuasa
Merasa bebas menganiaya2. Makna Etalase - Barasuara

cuplikan video lirik Etalase - Barasuara (youtube.com/barasuara) Lagu “Etalase” dari Barasuara mengkritik kebiasaan manusia yang sibuk menampilkan sisi terbaik dirinya demi mendapatkan pengakuan dari orang lain. Istilah etalase kepalsuan pun menggambarkan kehidupan yang seolah-olah terlihat sempurna dari luar, padahal menyimpan banyak kekurangan dan kegagalan. Lagu ini juga menyoroti budaya membandingkan diri, mengejar validasi, serta mengukur nilai seseorang berdasarkan angka dan pencapaian.
Lebih jauh, liriknya secara terang-terangan menyindir orang-orang yang merasa paling benar hanya karena memiliki popularitas atau kekuasaan. Mereka mudah menghakimi orang lain, merendahkan pihak yang berbeda pandangan, bahkan merasa berhak bertindak semena-mena karena status atau latar belakangnya. Melalui lirik yang tajam, Barasuara mengajak pendengar untuk berkaca dan menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna.
3. Barasuara ubah lirik untuk menyentil isu karhutla di Indonesia

cuplikan video lirik Etalase - Barasuara (youtube.com/barasuara) Saat menutup hari pertama Synchronize Fest 2026, Iga Massardi dari Barasuara memodifikasi lirik lagu "Etalase" secara khusus untuk menyinggung masalah karhutla yang tak kunjung usai di beberapa titik di Indonesia. Liriknya aslinya, 'Punya orang tua berkuasa, merasa bebas menganiaya' digantik menjadi 'Punya hutan rimba belantara, dibakar bebas yang berkuasa'. Penutup lagu ini juga liriknya ditayangkan secara besar di layar panggung LED mereka.
Sontak, aksi berani ini menuai pujian dari publik. Apalagi diketahui bahwa Iga Massardi selaku salah satu personelnya cukup kuat menyuarakan isu-isu sosial serta politik di media sosial pribadinya.
Hingga kini, sebara titik api di sejumlah wilayah Indonesia masih belum reda. Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mencatat jumlah titik panas atau hotspot karhutla dengan tingkat kepercayaan tinggi di Indonesia turun menjadi 270 titik hingga pada Sabtu (17/10/2026) pukul 21.00 WIB. Meski jumlahnya menurun secara nasional, titik panas di Kalimantan Tengah (Kalteng) justru melonjak dari 19 menjadi 92 titik dibandingkan sehari sebelumnya.






















